source: http://faisalbasri.kompasiana.com/2009/07/07/lagu-lagu-abah-yang-selalu-menggugah/

Sehabis maghrib, saya bertolak dari pusat kota menyusuri kemacetan menuju Teater Salihara di Pasar Minggu. Rembulan penuh bayang menemani sepanjang perjalanan yang memakan waktu hampir 2 jam.

Kami semua yang hadir mengawali dan mengakhiri acara dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Terasa memanggil.

Dengan alunan suara lirih, lagu “Tapak-tapak” sebagai pembuka sudah menghanyutkan. Tapak-tapak yang dulu kulalui//Kutelusuri balik satu-satu//Tertegun aku terhenyak bagai mimpi … Lalu ditutup dengan Dan langkah baru harus aku mulai saat ini.

Setiap pendengar bisa punya tafsiran sendiri-sendiri. Bagi saya, syair-syair itu, sebagaimana Abah katakan, merupakan retrospeksi kita sebagai anak bangsa: apa yang telah kita lakukan untuk Negeri ini. Setiap kita punya lakon sendiri-sendiri, tak harus punya jabatan untuk berbuat bagi sesama, bagi alam, bagi kejayaan Negeri.

“Melati dari Jayagiri” dan “Sejuta Kabut” merupakan lagu yang menunjukkan betapa menyatunya kehidupan Abah dengan Alam. Pada penampilan di Gedung Serba Guna beberapa tahun lalu, Abah bertutur betapa ia merasakan burung-burung ikut bernyanyi dan daun-daun menari ketika ia memetikkan gitar di “rumah alamnya,” disaksikan oleh bintang-bintang, dibalut kabut tebal. Itu pula yang diiceritakan kembali oleh Kang Aat Soeratin di pembukaan acara Senin malam.

Tak kalah kandungan alamnya adalah lagu ketiga yang berjudul “Lembayung Senja.” Ini salah satu lagu favorit saya, selain “Detik” yang dinyanyikan pada penutup acara dan “Dhuha” yang sangat menyentuh. Yang terakhir ini tergolong baru, diciptakan tahun 2006.

Di sela-sela bersenandung, Abah menyelipkan pesan-pesan moral dan optimisme. Hari esok masih terbentang dan no worry, misalnya. Ia mengajarkan untuk menghembuskan selalu atmosfir positif, yang jika kita semua melakukannya, insya Allah kebaikanlah yang lebih banyak menyembul.

Ia pun belajar dari bintang-bintang yang rendah hati dan mengajarkan kita tentang kesetiaan, yang bagi orang kota barangkali jarang disadari. Ditatap pun tidak. Kita tak peduli lagi pada pepohonan yang menjadi teman kita sehingga bisa menghirup oksigen. Kita, ujar Abah, tak menganggap alam menyatu dengan kehidupan kita.

Tak lupa, Abah menitipkan pesan untuk menjaga Nusantara kita. Sahabat-sahabat Abah kini sedang melakukan ekspedisi pulau-pulau terdepan. Memancangkan simbol bahwa pulau-pulau itu milik kita dan harus kita jaga agar tidak direbut bangsa lain.***