Ia terjaga dari tidurnya ketika seisi rumah panik. Asap keluar dari kamar kakak laki-lakinya: Adri, Agung dan Afi. Mereka terkunci dari dalam. Dirinya yang masih kecil hanya dapat berdoa; tak berdaya. Di dalam kamar itu Afi bahkan bersembunyi di dalam lemari, saking paniknya.

Tiba-tiba, Ayahnya mendobrak kamar berasap itu dengan sekuat tenaga. Seketika kepanikan hilang, berganti dengan kelegaan. Ketiga kakaknya berhasil diselamatkan.

Itulah momen bersama sang ayah yang paling membekas di hati Nurjamila Baniswati (29). Perempuan berkerudung yang akrab disapa Banis ini adalah anak ke-4 dari Ridwan Armansjah Abdulrachman atau yang lebih dikenal dengan nama Abah Iwan, pecinta alam, penggubah lagu, dan penyanyi balada kebanggan kota Bandung.

Menurut Banis, saat paling heroik Abah Iwan bukanlah ketika Abah Iwan berhasil mendaki Gunung Kilimanjaro, namun ketika Ia berhasil menyelamatkan kakak-kakaknya yang terkunci dalam kamar berasap malam itu.

Nona kecil yang pada malam itu terbelenggu dalam panik dan ketidakberdayaan kini telah menjabat sebagai Business Developer dan Marketing Manager di Virtual Consulting. Virtual Consulting adalah perusahaan yang bergerak di bidang jasa yang membantu kliennya mengelola strategi pemasaran di dunia digital. Banis mulai merintis karirnya di perusahaan ini sejak 2004 sebagai Telemarketer.

Banis sempat berhenti pada tahun 2005 karena mendampingi suaminya dalam sebuah proyek di kota Batam. Ketika proyek di  Batam selesai, ia sekeluarga kembali ke Jakarta. Virtual Consulting dengan senang hati menerima kedatangan Banis. Lulusan jurusan Komunikasi Rensselaer Polytechnic Institute, Amerika Serikat ini pun melanjutkan karirnya di sana sampai sekarang.

Saya menyadari dunia digital adalah dunia masa depan, dan Virtual Consulting merupakan tempat yang tepat untuk meniti karir di bidang ini,” tutur alumni SMA Negeri 3 Bandung ini.

Banis mengakui, menjadi praktisi di dunia virtual dan digital seperti saat ini bukanlah cita-citanya sejak kecil. Kuatnya sosok Ambu (panggilan Banis untuk Ibunya) yang seorang dokter membuat Banis kecil juga bercita-cita menjadi dokter.

Belakangan, Banis mengaku bersyukur tidak digariskan menjadi dokter. Hal ini dirasakan Banis apabila ia membandingkan dirinya dengan adiknya, Aya, Kemala Isnainiasih Mantilidewi. Aya anak bungsu dari lima bersaudara yang saat ini sedang melanjutkan kuliah kedokteran di Jepang.

Di mata Banis, Aya adalah sosok yang sangat tekun belajar. Aya bahkan selalu belajar sampai tengah malam. Kebiasaan yang dinilai luar biasa itulah yang membuat Banis merasa bersyukur akan profesinya saat ini, walaupun tidak sama dengan cita-cita masa kecilnya.

Apakah tidak ada niat untuk mengikuti jejak Abah Iwan? Banis mengaku, ia adalah penggemar berat ayahnya. Ia bahkan mentranslasi lagu-lagu Abah Iwan ke dalam bahasa Inggris, Perancis dan Jerman agar lagu ayahnya dapat dinikmati oleh orang dari belahan dunia lain. Namun, untuk menggubah lagu seperti halnya sang ayah, Banis sangsi akan kemampuannya.

“Menurut saya karya besar Abah dihasilkan dari seorang yang besar. Hasrat ada, tetapi sepertinya tidak bakat disitu. Abah pernah bilang ‘Kalau engkau tak mampu menjadi beringin yang tegak di puncak bukit, jadilah saja belukar, tetapi belukar terbaik yang tumbuh di tepi danau. Kalau engkau masih tak sanggup menjadi belukar,  jadilah saja rumput, tetapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan. Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya, jadilah saja jalan setapak, tetapi jalan setapak yang membawa orang ke mata air. Tidak semua orang akan menjadi kapten, tentu harus ada awak kapalnya. Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu. Jadilah saja dirimu sendiri sebaik-baiknya dari nilai dirimu sendiri’,” kenang Banis.

Tidak satu pun penuturan Banis tentang ayahnya yang tidak mengandung unsur kebanggaan. Ia mengakui sosok Abah Iwan secara personal merupakan sosok yang luar biasa.

“Sebagai seorang ayah beliau adalah sosok yang sangat luar biasa. Dan saya berprinsip, seorang yang hebat di mata masyarakat, tidak lah mulia jika tidak dianggap hebat oleh keluarganya yang terdekat. Abah adalah seorang ayah yang diidamkan oleh setiap anak,” tandas Banis.
***

Besarnya pengaruh Abah Iwan terhadap Nurjamila Baniswati bersaudara, tentu tidak lepas akan pola asuh yang diterapkan Abah Iwan. Ditemui di rumahnya di kawasan  Cigadung Raya Bandung, Abah Iwan menuturkan tentang pola asuh yang ia terapkan.

Abah Iwan mengakui, pola asuh yang ia aplikasikan tidak lepas dari pengaruh ayahnya. Prinsip : berikan contoh, bukan sekedar menyuruh, yang diterapkan oleh ayahnya, ia terapkan juga pada anak-anaknya.

Pelantun lagu 1000 Mil Lebih Sedepa ini mencontohkan, ia tidak pernah menyuruh anaknya untuk cinta akan alam. Menerapkan nilai yang ditanamkan oleh Ayahnya, Abah Iwan  seringkali mengajak anak-anaknya untuk berkelana di alam sejak mereka masih kecil.

“Yah, tidak jauh-jauh lah. Saya ajak berkemah di gunung Burangrang atau pergi ke pantai,” aku penggubah hymne Unpad ini.

Tidak hanya kecintaan akan alam, Abah Iwan juga memberikan tauladan sikap dan perilaku terhadap sesama manusia. Banis bercerita, Abah Iwan dalam kesehariannya tidak pernah membeda-bedakan perlakuan yang ia berikan kepada orang lain. Baik itu pejabat maupun tukang becak, Abah Iwan selalu memberikan sikap terbaiknya.

Sama halnya dengan Banis yang bangga akan Abah Iwan, Abah Iwan pun bangga kepada ayahnya. Ia bahkan menggubah lagu berjudul Anak Tarzan yang didedikasikan untuk sang ayah. Ia menuturkan, dirinya adalah Anak Tarzan pada lagu itu. “Tarzannya bapak saya,” ujar anggota Wanadri sejak 1964 ini.

Aku dilahirkan jauh di dalam hutan di tepi telaga yang jernih airnya dan banyak ikannya. Aku tinggal dalam rumah di atas pohon bercabang-cabang. Bunga-bunga bermekaran bermacam-macam warna, Anak Tarzan - Abah Iwan.

Pola asuh yang diterapkan seseorang pasti adalah implikasi dari pola asuh yang dulu ia alami. Pakar Psikologi Perkembangan Universitas Padjadjaran, Frederick Darmawan Purba mengungkapkan, orang tua adalah role mode utama dalam mengasuh anak.

“Bagaimana kita mengasuh anak kita adalah bagaimana kita diasuh dulu. Itu faktor pertamanya. Faktor kedua adalah tingkat intelektual dan kesadaran dari orang itu,” ujar Frederick.

Seperti halnya DNA yang tersusun atas nukleutida : Adenin, Sitosin, Guanin dan Timin, semoga unsur : Kebanggaan, Suri Tauladan, Kasih Alam dan Sikap Terbaik dapat terus diwariskan oleh anak-cucu Tarzan. Kita semua anak alam, anak rimba, kita semua anak Tarzan.

Kebanggaan akan orang tua merupakan akar dari kesuksesan anak. Dengan mewariskan hal yang baik pada anak kita, niscaya cucu dan cicit kita pun tetap akan merasakan pusaka yang kita tinggalkan. Laksana pepatah, siapa menanam benih, dia yang memetik buah.

Oleh Ixora Tri Devi