Iwan Abdul Rachman yang saya kenal pada tahun 1971 adalah pencipta lagu paling laris masa itu. Flamboyant, yang dinyanyikan oleh Trio Bimbo, menjadi salah satu monumen dalam perkembangan musik Indonesia. Ia memberikan sentuhan baru. Memadukan antara kelembutan, kemesraan, keindahan, dengan ketegasan, keberanian serta ketotalan. Lagunya merdu, liriknya puitis, isinya mendalam menyimpan energi sehingga menembus waktu. Kini bila dinyanyikan, ia tetap dapat mewakili siapa saja.

Pribadi Iwan sendiri adalah contoh dari seorang idola yang rendah hati, egaliter dan jantan. Ia tidak membiarkan dirinya menjadi seekor burung merak, kendati ia tak kurang dari itu dalam hati barisan pencinta alam. Dengan kelompok paduan suaranya, ia menggelar kompak, indah dan spektakuler. Iwan menjadi semacam perimbangan bagi kepribadian sensasional yang berkembang di era itu yang dimulai oleh Cassius Clay yang kemudian terkenal sebagai Mohammad Ali. Juara tinju dunia kelas berat yang mungkin terbesar di dunia itu, tersohor sebagai si mulut besar. Ia mengesahkan koar percaya diri berkelebihan, sehingga kesombongan menjadi semacam hak wajar, tanda kejujuran, bagi yang memang punya kelebihan. Sebuah penjungkir-balikan nilai, hingga bergeser jadi tatanan baru dan merebak sebagai gaya.

Saya menempatkan Iwan sebagai harapan yang akan terus berjuang memberikan keseimbangan bagi pertumbuhan karakter manusia Indonesia. Tetapi bukan salah Iwan kemudian kalau harapan itu belum terkabul. Bukan saja di Indonesia tetapi di dunia orang lebih tertarik pada kesombongan yang dapat jadi kiat publikasi dan entah kenapa menjadi bisa berdampingan mesra dengan kegemerlapanan. Dengan sensasi, segalanya menjadi lebih cepat, lebih spektakuler dan lebih melejit. Kesederhanaan Iwan menjadi tidak popular. Apalagi Iwan memang tidak berniat untuk bersaing. Ia merasa sudah nyaman melangkahkan kakinya dengan tegap dan mantap, di belakang layar, di sudut yang sepi, di sana ia benar-benar dibutuhkan.

Ketika kini kita kembali teringat betapa pentingnya pembangunan karakter bangsa dan manusia Indonesia, karena reformasi sudah mengantarkan kita pada wajah kita yang tanpa bentuk di atas kaca, Iwan kembali hadir. Bagaikan macan yang keluar dari kandangnya, ia memberikan penampakan yang membuat kita sadar kembali, masih ada pilihan. Tetapi kali ini Iwan tidak hanya menyanyi. Ia bertutur menyiram batin kita dengan pengembaraan spiritualnya yang membuat kita malu dan segera sadar kembali, bahwa kita mungkin sudah melangkah terlalu jauh menyimpang. Kesederhanaan dan kerendahan hati bukanlah ketidakberdayaan, tetapi keindahan yang monumental.

Saya berharap Iwan akan meneruskan langkahnya. Barangkali kodratnya memang seperti sekarang. Ia sebuah tonggak dahsyat yang bisa memberikan perimbangan pada berbagai citra yang berebutan tumbuh dalam pengembangan karakter manusia dan bangsa Indonesia. Meskipun kehebatannya itu bisa menjadi bencana bagi mereka yang mungkin tidak berdaya untuk tidak memujanya. Iwan yang kini dipanggil Abah tentu amat mengetahui situasi itu, karena ia seorang pendekar yang tak mungkin tidak pasti awas terhadap medan dan lingkungannya. Apalagi ia penuh dengan cinta sebagaimana selalu meruap dalam setiap ciptaan lagunya.

Selamat ulang tahun Abah. Kau lahir kembali pada usiamu yang ke-60.

Astya Puri 16 Agustus 2007
Saudaramu: Putu Wijaya