<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Abah Iwan</title>
	<atom:link href="http://www.abahiwan.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.abahiwan.com</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<pubDate>Tue, 15 May 2012 02:07:39 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.5</generator>
	<language>en</language>
		<!-- podcast_generator="podPress/8.8" -->
		<copyright>&#xA9; </copyright>
		<managingEditor>muhadkly@gmail.com ()</managingEditor>
		<webMaster>muhadkly@gmail.com()</webMaster>
		<category></category>
		<itunes:keywords></itunes:keywords>
		<itunes:subtitle></itunes:subtitle>
		<itunes:summary>Just another WordPress weblog</itunes:summary>
		<itunes:author></itunes:author>
		<itunes:category text="Society &amp; Culture"/>
		<itunes:owner>
			<itunes:name></itunes:name>
			<itunes:email>muhadkly@gmail.com</itunes:email>
		</itunes:owner>
		<itunes:block>No</itunes:block>
		<itunes:explicit>no</itunes:explicit>
		<itunes:image href="http://www.abahiwan.com/wp-content/plugins/podpress/images/powered_by_podpress_large.jpg" />
		<image>
			<url>http://www.abahiwan.com/wp-content/plugins/podpress/images/powered_by_podpress.jpg</url>
			<title>Abah Iwan</title>
			<link>http://www.abahiwan.com</link>
			<width>144</width>
			<height>144</height>
		</image>
		<item>
		<title>GPL 40 Tahun Menebar Kehangatan Persahabatan</title>
		<link>http://www.abahiwan.com/featured/gpl-40-tahun-menebar-kehangatan-persahabatan/</link>
		<comments>http://www.abahiwan.com/featured/gpl-40-tahun-menebar-kehangatan-persahabatan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 May 2012 07:14:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abah Iwan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Almamater]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[HYMNE UNPAD]]></category>

		<category><![CDATA[Abah Iwan]]></category>

		<category><![CDATA[GPL]]></category>

		<category><![CDATA[Grup Pencinta Lagu]]></category>

		<category><![CDATA[Iwan Abdulrachman]]></category>

		<category><![CDATA[Universitas Padjadjaran]]></category>

		<category><![CDATA[UNPAD]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abahiwan.com/?p=674</guid>
		<description><![CDATA[
Hadiri acara :
Grup Pencinta Lagu (GPL) UNPAD
40 tahun Menebar Kehangatan Persahabatan
bernyanyi bersama
 Paduan Suara Mahasiswa (PSM) UNPAD
(Juara 1 Grand Prix 2012 di Swiss)

 Hari Minggu, 20 Mei 2012
 di Aula UNPAD Dipati Ukur 
jam 19.00
Resevasi hubungi : 
Andri Dariadi di 08122040967
Ahira 082116029633
Kiky 085222717660
 
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="fbPhotoSnowliftCaption" class="fbPhotosPhotoCaption" style="text-align: center;"><a href="http://www.abahiwan.com/wp-content/uploads/2012/05/gpl1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-679" title="gpl1" src="http://www.abahiwan.com/wp-content/uploads/2012/05/gpl1.jpg" alt="" /></a></div>
<div class="fbPhotosPhotoCaption" style="text-align: center;"><span class="hasCaption">Hadiri acara :</span></div>
<div class="fbPhotosPhotoCaption" style="text-align: center;"><span class="hasCaption"><strong>Grup Pencinta Lagu (GPL) UNPAD</strong><br />
40 tahun Menebar Kehangatan Persahabatan<br />
bernyanyi bersama<br />
<strong> Paduan Suara Mahasiswa (PSM) UNPAD</strong></span></div>
<div class="fbPhotosPhotoCaption" style="text-align: center;">(Juara 1 Grand Prix 2012 di Swiss)</div>
<div class="fbPhotosPhotoCaption" style="text-align: center;"><span class="hasCaption"><br />
<strong> Hari Minggu, 20 Mei 2012</strong><br />
<strong> di Aula UNPAD Dipati Ukur </strong></span></div>
<div class="fbPhotosPhotoCaption" style="text-align: center;"><span class="hasCaption"><strong>jam 19.00</strong></span></div>
<div class="fbPhotosPhotoCaption" style="text-align: center;"><span>Resevasi hubungi : </span></div>
<div class="fbPhotosPhotoCaption" style="text-align: center;"><span>Andri Dariadi di 08122040967</span></div>
<div class="fbPhotosPhotoCaption" style="text-align: center;">Ahira 082116029633</div>
<div class="fbPhotosPhotoCaption" style="text-align: center;">Kiky 085222717660</div>
<div id="fbPhotoSnowliftTagList" class="fbPhotoTagList" style="text-align: center;"><span class="fcg"> </span></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abahiwan.com/featured/gpl-40-tahun-menebar-kehangatan-persahabatan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>ide</title>
		<link>http://www.abahiwan.com/tanya-abah/ide/</link>
		<comments>http://www.abahiwan.com/tanya-abah/ide/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 May 2012 05:25:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator><a href="http://utamahardsoft.com" rel="nofollow">Iwan Abdur Rahman</a></dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tanya Abah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abahiwan.com/?p=638</guid>
		<description><![CDATA[bah, lagu detik hidup. ide na timana ?
nyungkeun lirikna oge bah.
hatur nuhun
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>bah, lagu detik hidup. ide na timana ?<br />
nyungkeun lirikna oge bah.<br />
hatur nuhun</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abahiwan.com/tanya-abah/ide/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sepeda sebagai Inspirasi</title>
		<link>http://www.abahiwan.com/featured/sepeda-sebagai-inspirasi/</link>
		<comments>http://www.abahiwan.com/featured/sepeda-sebagai-inspirasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Apr 2012 07:25:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abah Iwan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Senggang]]></category>

		<category><![CDATA[Abah Iwan]]></category>

		<category><![CDATA[Bandung]]></category>

		<category><![CDATA[Iwan Abdulrachman]]></category>

		<category><![CDATA[Sepeda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abahiwan.com/?p=663</guid>
		<description><![CDATA[http://www.greenersmagz.com - Di usianya yang tak lagi terbilang muda, Iwan Abdulrachman, atau lebih dikenal sebagai Abah Iwan boleh dikatakan telah mencapai segalanya, keluarga yang penuh cinta, karya-karya seninya yang telah begitu meresap ke seantero negeri, dan pengakuan dari masyarakat luas atas pemikiran dan karyanya yang telah memperkaya kehidupan masyarakat Indonesia. Namun bagi legenda hidup yang satu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.abahiwan.com/wp-content/uploads/2012/04/abah-sepeda1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-667" title="abah-sepeda1" src="http://www.abahiwan.com/wp-content/uploads/2012/04/abah-sepeda1.jpg" alt="" width="448" height="252" /></a><a href="http://www.greenersmagz.com/">http://www.greenersmagz.com</a> - Di usianya yang tak lagi terbilang muda, Iwan Abdulrachman, atau lebih dikenal sebagai Abah Iwan boleh dikatakan telah mencapai segalanya, keluarga yang penuh cinta, karya-karya seninya yang telah begitu meresap ke seantero negeri, dan pengakuan dari masyarakat luas atas pemikiran dan karyanya yang telah memperkaya kehidupan masyarakat Indonesia. Namun bagi legenda hidup yang satu ini, hidup tak berhenti di situ, ia terus berkarya dan menginspirasi banyak orang. Ibarat pepatah, seperti padi, semakin merunduk semakin jadi, Abah tak pernah tenggelam dalam prestasi dan nama besarnya sendiri.</p>
<p>Oleh Rizky Aghistna | Artikel ini diterbitkan pada edisi 08 Vol. 3 Tahun 2008</p>
<p>Ditemui greeners di rumahnya yang mirip hutan di bilangan Cigadung, Bandung, Ikon Bandung yang satu ini terlihat begitu sederhana, terbuka, rendah hati, dan bersahabat. Siang itu kami berbincang mengenai dua hal yang sama-sama kami cintai: sepeda, dan kota Bandung.</p>
<p>Suasana di kediaman Abah siang itu begitu menyejukkan, rasa lelah yang kami dapat setelah mencicipi kenikmatan bandrek di war-ban (Warung Bandrek, sekitar 3km ke utara dari Taman Hutan Raya Juanda) dengan mengendarai sepeda, seketika sirna. Tak lama setelah menyambut kami dengan hangat, kami lalu disuguhi teh manis dan kopi tubruk yang membuat percakapan terus mengalir tanpa jeda. Abah Iwan, kerendahan hatinya membuat kami lupa bahwa kami sedang berbincang dengan seorang tokoh, seorang seniman, budayawan, juga seorang pendekar yang namanya telah harum ke seantero negeri.</p>
<p>Membuka percakapan, Abah bercerita mengenai kebiasaan bersepedanya yang telah dilakukan semenjak masa SMP nya dulu, namun setelah lulus kuliah, kebiasaan ini sempat hilang. Banyak yang bisa dijadikan alasan, namun secara jujur Abah mengakui, ”Kadang orang lupa bahwa bersepeda itu penting.”</p>
<p>Tak ada asap bila tak ada api, semenjak tahun 2000, diawali dengan pertemuan dengan beberapa teman lama, prihatin dengan kondisi lalu lintas kota yang semakin semerawut, serta buruknya kualitas udara akibat polusi dari kendaraan bermotor, akhirnya membuat Abah kembali terpanggil untuk kembali menggunakan sepeda sebagai alat transportasi sehari-hari. Hasilnya, bukan hanya jalanan di kota, diawali dengan rute Bandung – Cianjur, Bandung – pangandaran, lalu Ujung Kulon, bahkan Bali pun berhasil ia lalap dengan sepeda.</p>
<p>Meski demikian, jarak tempuh itu tidak lantas menjadi tolok ukur kekuatan seseorang. Lebih lanjut Abah mengatakan bahwa yang terpenting dari bersepeda itu adalah menikmatinya. Tak peduli sepeda telah menjadi transportasi sehari-hari, kita tetap harus menganggapnya sebagai rekreasi. Dengan begitu selain lebih sehat, kita juga akan lebih menikmati hidup.</p>
<p>Berikut sisa perbincangan kami dengan Abah, di sela-sela hembusan angin sejuk, dan seruputan kopi hangat,</p>
<p>G: Apa yang Abah rasakan setelah mulai bersepeda lagi?</p>
<p>A: Yang jelas, secara fisik, bersepeda itu jelas menyehatkan. Tapi belum tentu ada korelasi antara sepeda dengan olah raga yang lain. Misalnya, Abah sering renang dan main silat, tapi pas nyoba sepeda, tetap saja kewalahan. Juga sebaliknya, tukang renang kalau disuruh maen sepeda, pasti ripuh oge.</p>
<p>G: Secara psikologis?</p>
<p>A: Ada kebebasan, apalagi kalau sedang bersepeda seorang diri ke tempat-tempat yang terpencil. Lalu realistis. Kita harus mengenal diri kita sendiri, kalau kita ngga kuat ngeboseh, ya turun, terus dorong. Ngga seperti naik motor. Sempat Abah juga naik Harley tahun 60 -70an, dan ternyata citra kebebasan pas naek Harley mah untuk orang Amerika sana saja, karena mereka punya banyak highway. Tapi kalau disini, wah ripuh, selain jalannya rata-rata kecil, juga banyak kendaraan jenis lainnya. Jadi nu bebas mah, numpak sapeda weh.</p>
<p>“Sepeda dapat menjadi sumber inspirasi dari pemecahan masalah kota”</p>
<p><a href="http://www.abahiwan.com/wp-content/uploads/2012/04/abah-sepeda2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-664" title="abah-sepeda2" src="http://www.abahiwan.com/wp-content/uploads/2012/04/abah-sepeda2.jpg" alt="" /></a>G: Menurut Abah, bagaimana hubungan antara sepeda dengan permasalahan di kota-kota besar?</p>
<p>A: Sepeda dapat menjadi sumber inspirasi dari pemecahan masalah kota, sedikitnya macet dan polusi udara, adalah dengan mengurangi kendaraan bermotor. Nah untuk mengurangi kendaraan di jalan raya, sepeda adalah pilihan transportasi yang paling tepat.</p>
<p>Karena itu, bersepeda dilakukan oleh seluruh kota besar dunia yang berhadapan dengan masalah macet dan polusi. Mereka menjadikan sepeda sebagai salah satu inspirasi, bukan hanya untuk memecahkan masalah macet dan polusi, tapi juga hal-hal lain yang berkaitan dengan kedua hal tadi, misalnya membangun infrastruktur yang sesuai dengan kapasitas masing-masing kota.</p>
<p>G: Di Bandung sendiri, bagaimana Abah melihat kultur bersepedanya?</p>
<p>A: Berkembang, luar biasa! Abah mah optimis, karena pada dasarnya Bandung adalah kota sepeda. Jadi kita bukan membuka hal yang baru, hanya menumbuhkan kembali yang telah lama terpendam. Generasi Abah dulu adalah generasi pesepeda, itu adalah bagian dari budaya kota. Budaya kota adalah perilaku dari orang-orangnya. Dan itu tak pernah hilang, hanya terpendam.</p>
<p>Budaya adalah sesuatu yang tercatat di alam ini, meski tidak dilakukan oleh generasi berikutnya, bukan berarti budayanya hilang. Begitu ada yang melakukannya lagi, ia akan tumbuh dari landasan yang sama. Tinggal bagaimana kawan-kawan menyosialisasikannya sebagai kegiatan yang positif.</p>
<p>G: Apa yang membuatnya ”terpendam”?</p>
<p>A: Banyak. Di antaranya, banyaknya iklan yang mendorong orang untuk membeli kendaraan bermotor, adanya kepentingan produsen, dan lain sebagainya. Tapi memang tak salah jika orang ingin memiliki kendaraan bermotor, karena pada dasarnya kebutuhan pun berbeda-beda. Tapi kalau kendaraan bermotor ini mendominasi kebutuhan tranportasi kita, padahal ada alternatif transportasi lain yang lebih sehat, seperti sepeda, saya kira harus ada kesadaran dan keputusan politik untuk mengatasinya.</p>
<p>Nah satu hal yang dapat dilakukan oleh walikota Bandung sekarang, meskipun membutuhkan energi yang lumayan banyak, sebenarnya dapat menjadi inspirasi bagi warga Bandung, dengan bersepeda. Misalnya dari pendopo Alun-alun ke Kota madya, saya kira hanya memakan waktu sepuluh menit. Tidak usah dikawal pake protokoler. Dan tidak usah menjadi etalase politik. Memang tidak untuk setiap keperluan, karena tugas sebagai walikota tentu sangat sibuk. Cukup dari rumah ke kantor. Dengan begitu saja, selain ia pribadi menjadi lebih sehat, ia juga bisa menjadi inspirasi untuk kota.</p>
<p>“Kita harus lebih intens lagi bersepeda sehingga pengendara jalan yang lain akan terbiasa dengan kehadiran kita”</p>
<p>Gubernur sudah mau bersepeda, tinggal pa Dada, sebagai walikota Bandung, menurut Abah, harus mau sedikit berkorban, kalau dia merasa naik sepeda itu cape, itulah bayarannya untuk menjadi inspirasi bagi warga kotanya. Konon menurut teorinya, perubahan dalam suatu komunitas akan terjadi secara signifikan kalau dilakukan oleh orang yang memiliki posisi formal di dalam kepemimpinan dari komunitas tersebut. Tapi itu tidak berdiri sendiri, di bawah pun harus ditumbuhkan.</p>
<p>G: Kalau yang di atas tak kunjung berubah?</p>
<p>A: Kita jangan putus asa, harus kita lakukan di kantong-kantong yang kita kuasai. Memang ada semboyan mulailah dari diri sendiri, Abah sangat sependapat, tapi untuk komunitas, mulai dari diri sendiri itu hanya teori. Yang disebut diri sendiri untuk perubahan sosial adalah suatu komunitas. Diri sendiri itu harus intitusional. Ada nilai-nilai eksplisit yang harus dipatuhi oleh kelompok itu. Nah kalau itu bisa berubah, barulah akan terjadi perubahan dalam masyarakat. Tapi kalau institusi-institusi ini sendiri sudah tidak care, tidak menyadari bahwa ia bisa turut menjadi bagian dalam perubahan masyarakat, ya susah. Leadership itu adalah untuk menentukan arah perubahan dari komunitas.</p>
<p>G: Dalam kenyataanya, apa yang membuat orang-orang tidak melirik sepeda sebagai alat transportasi sehari-hari?</p>
<p>A: Masalah teknis, seperti traffic yang semerawut, mengerikan bagi orang untuk bersepeda di jalan dengan kondisi lalu lintas seperti ini. Bahkan bersepeda di jalan raya sudah menjadi adventure tersendiri karena memiliki unsur bahaya. Kedua, mungkin tak adanya trek khusus bagi pengguna sepeda, meski Abah sangat pesimis terhadap adanya trek khusus sepeda di Bandung. Lalu kebiasaan orang untuk menyesuaikan dengan perkembangan yang terjadi di jalan. Kita harus lebih intens lagi bersepeda sehingga pengendara jalan yang lain akan terbiasa dengan kehadiran kita</p>
<p>Lalu, sepeda sekarang memang mahal. Tapi sebenarnya mahal ini relatif. Untuk mahasiswa, bisa mencicil melalui koperasi mahasiswa, selain biayanya akan lebih murah dibandingkan mencicil motor atau menggunakan angkot, koperasi mahasiswa pun akan dapat hidup. Jadi tak ada alasan untuk tidak menggunakan sepeda.</p>
<p>Hambatan lain, Selama ini pengguna sepeda masih dianggap sebagai kelas dua. Hal ini sangat dirasakan sendiri oleh abah, karena sering kali di jalan Abah diserempet oleh motor dan mobil, bahkan sering dianggap menghalangi atau mengganggu pengguna kendaraan bermotor.</p>
<p>G: Bagaimana Abah melihat adanya kecenderungan perbedaan kelas di antara pengguna jalan raya?</p>
<p>A: Banyak contoh, di luar negeri, yang paling dihargai ketika di jalan raya adalah pejalan kaki, orang ketika menginjak trotoar hendak menyeberang di tempat yang seharusnya, mobil, dan kendaraan yang lain akan berhenti, kecuali kereta api dan kapal terbang (tertawa). Yang berikutnya adalah sepeda, sangat dihormati. Tetapi kenyataan di Indonesia bicara lain, kita masih mengukur melalui kekuatan, jadi semakin besar kendaraan, semakin besar pula kekuasaannya.</p>
<p>G: Apakah perbedaan kelas ini berlaku juga di dunia sepeda?</p>
<p>Di dunia sepeda, kita tidak mengenal kelas. Tak peduli apakah sepeda yang dinaiki harganya seratus juta, atau 600 ribu, atau dikasih orang, jika sudah mengayuh tetap saja sama berkeringat dan capek. Bahkan, jangan heran ketika dalam sebuah tanjakan kita ditawari minum oleh seseorang yang sepedanya jauh lebih murah daripada sepeda kita.</p>
<p>G: Apa yang menyebabkan perbedaan kelas ini terjadi?</p>
<p>A: Intinya, kita tak lagi mempunyai budaya hormat. Kita tidak menghormati pejalan kaki, kita tidak menghormati pengendara sepeda karena sering dianggap sebagai golongan yang kurang mampu. Tapi kita tak boleh terpengaruh anggapan-anggapan seperti itu, hanya realitas di lapangan, tetap harus kita perhitungkan.</p>
<p>Dan memang inilah kenyataanya, hilangnya rasa hormat ini bukan hanya terjadi di jalan. Hampir terhadap segala sesuatu kita kehilangan rasa hormat. Dan itulah tren yang terjadi di dalam situasi masyarakat yang sedang demam kemenangan,  dan eforia reformasi ini. Karena generasi ini merasa mampu menjatuhkan tirani, maka sekaligus dengan segala macam nilai tidak dihormati lagi. Malah, persoalan bangsa ini sebenarnya bukan hanya terletak dari ekonomi, politik dan lain sebagainya, utamanya adalah masalah moril, atau hilangnya rasa hormat. Contohnya gampang, sesama pengguna jalan misalnya, jarang sekali orang menghormati pengguna jalan yang lain.</p>
<p>G: Lantas, apa yang dapat kita lakukan untuk mengembalikan budaya hormat ini?</p>
<p>A: Harus ada kemauan dari segenap masyarakat bangsa untuk mengubah sikap dan pandangan terhadap hidup ini. Tetapi perubahan ini tidak akan terjadi, jika pemimpinnya tidak menentukan arah perubahan.</p>
<p>Kita harus mulai menghormati diri sendiri, menghormati orang lain, lalu menghormati lingkungan kita. Dan ini bukanlah suatu hal yang utopis, jangan dilihat karena Abah sebagai seniman maka anggapannya adalah utopia seorang seniman. Tidak. Ini real! Contohnya, pernah disaksikan oleh mata kepala Abah sendiri, waktu di Jepang, melihat seorang anak kecil ketika menyeberang jalan, setelah diberi jalan oleh mobil, anak itu berhenti dan balik membungkukan badan sebagai tanda hormat dan terimakasih. Di kita, Abah pernah melihat seorang anak SD yang ketika telah diseberangkan oleh satpam, ia cium tangan satpam tersebut sebagai ungkapan terimakasih dan hormat. Memang satpam itu adalah petugas resmi dari sekolahnya. Tapi melihat hal seperti ini, Abah merasa sangat lega, Abah rasa bangsa ini masih mempunyai harapan.</p>
<p>“Di dunia sepeda, kita tidak mengenal kelas. Tak peduli apakah sepeda yang dinaiki harganya seratus juta, atau 600 ribu, atau dikasih orang, jika sudah mengayuh tetap saja sama berkeringat dan capek.”</p>
<p><a href="http://www.abahiwan.com/wp-content/uploads/2012/04/abah-sepeda3.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-665" title="abah-sepeda3" src="http://www.abahiwan.com/wp-content/uploads/2012/04/abah-sepeda3.jpg" alt="" /></a>G: Seorang pejabat pernah berkata ia baru akan mempertimbangkan membuat jalur khusus sepeda, jika pengendara sepeda sudah mencapai angka satu juta. Mungkinkah itu terjadi, mengingat kondisi jalan sekarang sudah sedemikian dikuasai oleh kendaraan bermotor dan sangat tidak ramah terhadap pejalan kaki dan pengguna jalan yang lain?</p>
<p>A: Pernyataan tersebut sungguh anti teori. Seharusnya, kita tak usah menunggu sampai satu juta. Yang harus dilakukan oleh sang pemimpin adalah melakukan perubahan itu dengan mengendarai sepeda. Tak usah menunggu satu juta. Satu orang pun, kita harus menghargainya!</p>
<p>G: September ini adalah hari jadi Bandung yang ke-198, apa harapan Abah akan kota ini di masa yang akan datang?</p>
<p>A: Bandung harus menjadi sumber Inspirasi bagi pemecahan dua masalah tadi. Dan warga Bandungnya harus lebih sabar dalam menatap masa depan. Sabar ini bukan berarti membiarkan kelemahan. Kalau mau, angkatlah persoalan-persoalan yang baik terlebih dahulu, karena bila waktunya persoalan yang buruk kita angkat, akan berada dalam atmosfer kebaikan. Dan percayalah bahwa suasana batin dari kota ini sangat menentukan terhadap kebaikan kota ini. Dan atmosfer batin ini adalah konfigurasi dari suasana individunya.</p>
<p>Memang setiap orang punya hak untuk marah ketika berhadapan dengan masalah yang mengganggunya, seperti masalah sampah, atau ketika pohon-pohon di Bandung ditebang, tapi sebaiknya jangan di jawab dengan marah. Pernah dulu, Palem Raja di sepanjang kota Bandung ditebang, banyak orang yang marah, banyak seniman yang mengajak Abah untuk melakukan aksi, tapi Abah menolak, karena merasa tidak ikut menanam. Jadi seharusnya kalau kita marah karena banyak pohon yang ditebang, kita harus lebih banyak menanam, kalau bisa sepuluh kali lipatnya. Persoalan di kota Bandung pasti akan selalu ada, kita harus menghadapinya dengan lebih sabar. Karena itu akan berpengaruh terhadap kondisi mental kotanya.</p>
<p>Waktu berlalu tanpa terasa, perbincangan berlanjut kepada hal-hal yang lebih ringan. Sesekali, dua dara kecil, Anjani dan Anisa, cucu-cucu kesayangan Abah, ikut nimbrung menghangatkan suasana. Namun sore telah menjelang, kami harus segera kembali mengayuh pulang. Hari itu, kami belajar banyak dari seorang tokoh yang sederhana, jujur, dan rendah hati. Dalam kayuhan pulang, hati pun bergumam, terus berkarya Abah, terus menjadi Inspirasi bagi kami. (end)</p>
<p>Dikutip dari: <a href="http://www.greenersmagz.com/interviews/iwan-abdulrachman-sepeda-sebagai-inspirasi/">http://www.greenersmagz.com/interviews/iwan-abdulrachman-sepeda-sebagai-inspirasi/</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abahiwan.com/featured/sepeda-sebagai-inspirasi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Abah Iwan (PMB’65) Lebih Konkret, Pakai Sepeda dan Tanam Pohon</title>
		<link>http://www.abahiwan.com/featured/abah-iwan-pmb%e2%80%9965-lebih-konkret-pakai-sepeda-dan-tanam-pohon/</link>
		<comments>http://www.abahiwan.com/featured/abah-iwan-pmb%e2%80%9965-lebih-konkret-pakai-sepeda-dan-tanam-pohon/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2012 07:47:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abah Iwan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Senggang]]></category>

		<category><![CDATA[Abah Iwan]]></category>

		<category><![CDATA[Iwan Abdulrachman]]></category>

		<category><![CDATA[Sepeda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abahiwan.com/?p=659</guid>
		<description><![CDATA[18 April 2007 - KALAU soal alam dan lingkungan, tokoh ini boleh jadi telah menjadi ikon Kota Bandung. Konsistensinya terhadap konservasi alam, diperlihatkan dengan aksinya yang realistis. Ia masih mengelola sampah di rumahnya sendiri, masih suka naik sepeda, masih suka menanam atau membagikan bibit pohon, dan masih memakai sumur. Di usianya yang kini 58 tahun, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>18 April 2007 - KALAU soal alam dan lingkungan, tokoh ini boleh jadi telah menjadi ikon Kota Bandung. Konsistensinya terhadap konservasi alam, diperlihatkan dengan aksinya yang realistis. Ia masih mengelola sampah di rumahnya sendiri, masih suka naik sepeda, masih suka menanam atau membagikan bibit pohon, dan masih memakai sumur. Di usianya yang kini 58 tahun, Iwan Abdulrachman yang kerap dipanggil Abah Iwan, pun masih merasa menjadi mahasiswa.</div>
<div></div>
<div>Kiprah Abah Iwan dalam kepedulian terhadap alam, mungkin tidak bisa dibicarakan dengan singkat. Kegiatannya di organisasi kelompok penempuh rimba dan pendaki gunung, Wanadri, masih diikuti dari tahun 1964 sampai sekarang. Ia juga diangkat sebagai penasihat Masyarakat Cinta Citarum dan anggota Komunitas Pemerhati Lingkungan Hidup ITB Masdali.</div>
<div></div>
<div>Belum lagi sosoknya sebagai seniman yang karyanya tak pernah lepas dari pergaulan dengan alam. Bagi Abah Iwan, yang baru-baru ini mendapat penghargaan dari Meneg LH sebagai budayawan dan seniman yang peduli terhadap lingkungan dalam ajang Anugerah Penghargaan Lingkungan dan Adipura 2006, alam adalah inspirasinya. Kalau orang bilang karyanya bagus, penggubah lagu legendaris semacam “Melati dari Jayagiri” dan “Flamboyan”, ini malah berujar, alam memang sudah indah.</div>
<div></div>
<div>Semasa mahasiswa, ia pun menyenangi kehidupan berorganisasi. Selain pernah menjabat sebagai Ketua Senat di Faperta Unpad selama 2 periode (1970-1974), dirinya juga aktif di Damas dan Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB). Baginya, mahasiswa memegang peranan penting dalam kehidupan bangsa. “Sudah terbukti dalam sejarah, tiap pergerakan apapun pasti ada mahasiswa. Namun, itu jangan dijadikan status, tapi tingkatkan terus kualitas,” kata mantan dosen Faperta Unpad dan penggubah lagu Hymne Unpad ini.</div>
<div></div>
<div>Kampus menemui Abah Iwan di kediamannya di bilangan Cigadung Bandung, yang berhalaman luas dan teduh dengan berbagai pohon besar, Senin (19/6). “Saya tanam pohon-pohon ini sejak tahun 1976. Tong ningali ayeuna, tapi ada prosesnya,” ujarnya, sambil tertawa.</div>
<div></div>
<div>Pada Kampus, Abah Iwan bicara berbagai hal dari mulai standardisasi kegiatan di alam terbuka, perilaku terhadap sampah, sampai organisasi dan habit mahasiswa. Berikut petikannya:</div>
<div></div>
<div>Kegiatan di alam terbuka, yang juga kerap dilakukan mahasiswa misalnya dalam organisasi pecinta alam, kadang terjadi kecelakaan atau jatuh korban. Harus bagaimana untuk mengurangi risiko?</div>
<div></div>
<div>Ada dua macam kecelakaan yang terjadi di alam terbuka. Satu, kecelakaan dalam ekspedisi itu sendiri. Dua, kecelakaan pada waktu latihan. Banyak faktor penyebab terjadi kecelakaan. Tapi kalau kecelakaan itu karena perencanaan yang kurang matang, itu patut dicermati. Banyak hal harus dibahas dalam latihan, dari mulai persiapan, perencanaan, juga kapasitas organisasi yang merencanakan, dan melaksanakan tersebut. Belum lagi standardisasi pelatih. Jadi, orang yang melatih tidak sembarangan. Seandal-andalanya pelatih, setangguh-tangguhnya calon anggota, kalau di hadapkan dengan alam, yangunpredictable atau bahkan predictable, tapi tidak dipersiapkan dengan baik, bisa berbahaya. Kecelakaan di alam terbuka sebenarnya risiko. Ada faktor X, yang di luar kemampuan kita. Maka, disebut adventure. Memang itu menantang dan tidak semua orang cocok dengan itu.</div>
<div></div>
<div>Lebih jelasnya, standardisasinya seperti apa?</div>
<div></div>
<div>Ya, selain dibutuhkan standardisasi pelatih dan metode latihan, juga harus ada standarisasi calon anggota. Makanya ada tes. Kenapa? Karena kegiatan ini membutuhkan standar, baik dari segi fisik, mental, juga intelegensia. Tidak bisa orang yang tidak cerdik, hidup di alam terbuka. Jadi, kalau calon anggota tidak lolos tes fisik, harus berani bilang maaf dan tunggu. Nah, untuk bisa tetap ikut, bisa dilakukan persiapan. Misalnya, si calon ini olah raga dulu dan meningkatkan kualitas kesehatannya. Dan yang tak kalah penting, yaitu tes psikologi. Orang yang terlalu berani, itu berbahaya. Kategorinya nanti kewasapadaannya jadi kurang. Istilah saya, tidak ada orang yang berani. Tapi, adanya orang yang bisa melawan rasa takut.</div>
<div></div>
<div>Bagaimana pendapat Anda tentang Bandung sekarang ini? Apalagi baru-baru ini mendapat sebutan kota metropolitan terkotor?</div>
<div></div>
<div>Itu tidak perlu ditolak. Kan banyak yang marah, katanya pariwisata terpengaruh gara-gara itu. Tapi, jangan marah dong, karena memang kita kota terkotor. Demo begitu menurut saya tidak tepat. Energinya lebih baik untuk mengoreksi diri.</div>
<div></div>
<div>Anda masih mengelola sampah sendiri?</div>
<div></div>
<div>Sampah saya kelola sendiri, dari dulu sampai sekarang. Yang harus dibakar, yadibakar. Ya, seperti teorilah. Saya belum pernah menyumbang sampah satu kantong plastik pun ke TPS (tempat pembuangan sementara) atau TPA (tempat pembuangan akhir). Tapi, kan bersihnya rumah kita, belum berarti membuat bersih kota ini. Sampah adalah perilaku manusia, per individu. Ketika itu menjadi perilaku kita sebagai warga kota, itu menjadi akumulatif. Saya sering lihat mobil bagus, tahunya buang sampah ke jalan. Eh, tahunya mahasiswa atau dosen! Kalau ini dibilang salah wali kota, saya tidak sepakat. Waktu saya diajak demo ke wali kota, saya menolak. Bukan salah dia saja, kok. Bahwa dia harusnya mengatur manajemen, memelopori, menggerakkan, dsb, itu benar. Tapi kita semua punya tanggung jawab, yang berbeda-beda. Lagi pula, untuk mengelola sampah di kota kan ada ahlinya. Ada ITB, Unpas, Unisba, yang ada Teknik Lingkungan Hidup. Yang belum terjadi adalah hal itu belum jadi kesatuan batin, sehingga ada keputusan yang bisa membuat perilaku kita terhadap sampah, jadi tepat. Itu ilmiah. Nah, ternyata pengetahuan yang ilmiah, belum jadi apa-apa tanpa kesertaan tingkah laku. Betapa pentingnya pengembangan karakter. Di situlah gunanya organisasi mahasiswa.</div>
<div></div>
<div>Apa gunanya organisasi mahasiswa dalam hal ini?Melalui organisasi mahasiswa, kita bisa mensubstitusi kekurangan situasi pendidikan di kita. Situasi pendidikan di kita, kan seringnya diajarkan untuk pintar, tapi pribadi kita tidak diajarkan mengikuti kepintaran dalam mengikuti ilmu-ilmu itu. Yang paling gampang contohnya, sampah. Saya pernah diajak diskusi sama mahasiswa Teknik Lingkungan Hidup, mengenai rencana kebersihan kota. Ketika dimintai komentar, saya bilang, boleh tidak saya lihat ruang senatnya?. Ternyata, ruang senat mereka kotor! Apa artinya? Kita tahu tentang sampah, tapi habit kita tidak disertakan. Dan itulah gunanya organisasi mahasiswa. Organisasi mahasiswa juga sering terlibat politik praktis, dsb. Tapi jangan karena peranan itu, kita melupakan tugas pokok organisasi mahasiswa. Apa itu? Meningkatkan kualitas kepribadian anggotanya. Juga, mengimbangi rencana pendidikan dari kampusnya yang tidak lengkap. Nah, peranan ini jarang disadari. Saya suka tanya sama berbagai ketua BEM (badan eksekutif mahasiswa), apa yang sudah kau lakukan pada teman-temanmu dalam mengembangkan seluruh dimensi pribadinya?</div>
<div></div>
<div>Masih suka naik sepeda?</div>
<div></div>
<div>Saya masih suka pakai sepeda. Kalau masih kuat ngaboseh, kenapa tidak? Tapi tidak ada istilah kampanye. Kalau kita meyakini yang baik untuk diri kita, lakukan saja. Dan kalau itu baik untuk masyarakat, ya lakukan. Saya berpendapat, kalau mahasiswa bicara tentang polusi di Kota Bandung, jangan hanya menyarankan ini-itu saja. Lebih baik, tinggalkan motor itu, pakai sepeda! Misalnya, ada 1.000 mahasiswa dari ITB, Unpad, Unpas, Unisba, Unpar, dsb. pada naik sepeda. Maka, 1.000 motor akan hilang dari jalan. Itu jauh lebih konkret daripada terus protes terhadap polusi, tapi tidak bertindak apa-apa. Ahli lingkungan Prof. Otto Soemarwoto, mengatakan, kalau 1-5 km jalan kaki saja, kalau 5-10 km silahkan pakai sepeda. Naik sepeda itu sudah sehat, langsung mengurangi polutan pula, walau sekecil apapun. Dan yang lebih konkret lagi, kita menanam pohon untuk mengurangi polusi! 1 pohon juga lumayan. Tapi, kanpohon baru berfungsi optimal 5-10 tahun kemudian. Nah, sambil menunggu, kita pakai sepeda. Dan ini jawaban dari permasalahan di kota besar yang ada, seperti kita. Dari mulai sampah sampai peledakan jumlah penduduk. Bogota itu selamat karena sampahnya ditata dengan baik. Karena mahasiswa di sana mau pakai sepeda. Australia, Belanda, Jerman, itu mah sudah klasik. Tapi permasalahan yang sama dengan kita kan Amerika Latin.</div>
<div></div>
<div>Kalau sumur bagaimana?</div>
<div></div>
<div>Allhamdulillah, saya juga tidak mau takabur. Dari tahun 1978 saya tinggal di sini, saya tidak pernah minta air ke PDAM. Dari sumur saja. Makan, mandi, cuci mobil, dsb, semua dari situ. Dulu dalamnya 7 meter, tapi sejak beberapa tahun lalu ditambah jadi 12 meter. Mungkin karena pohon-pohon di Bandung utara sudah pada ditebang. Tapi, saya cerita begini, bukan legeg. Soalnya pernah habis ngadongeng, tahu-tahu air teh pareum. Ha ha ha… Kebayang kan, coba kalau tidak ada air, bagaimana? Hutan tidak ada karena ditebangin, dan tidak ada daerah resapan air. Masa orang-orang tidak sadar? ***</div>
<div></div>
<div>Dikutip dari: <a href="http://merdeka7.wordpress.com/2007/04/18/abah-iwan-pmb65-lebih-konkret-pakai-sepeda-dan-tanam-pohon/">http://merdeka7.wordpress.com/2007/04/18/abah-iwan-pmb65-lebih-konkret-pakai-sepeda-dan-tanam-pohon/</a></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abahiwan.com/featured/abah-iwan-pmb%e2%80%9965-lebih-konkret-pakai-sepeda-dan-tanam-pohon/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jakarta-Bandung: Hari Kemerdekaan RI!</title>
		<link>http://www.abahiwan.com/featured/jakarta-bandung-hari-kemerdekaan-ri/</link>
		<comments>http://www.abahiwan.com/featured/jakarta-bandung-hari-kemerdekaan-ri/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2012 07:43:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abah Iwan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Senggang]]></category>

		<category><![CDATA[Abah Iwan]]></category>

		<category><![CDATA[Bike 2 work]]></category>

		<category><![CDATA[Iwan Abdulrachman]]></category>

		<category><![CDATA[Sepeda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abahiwan.com/?p=656</guid>
		<description><![CDATA[Tanggal 16 Agustus B2W, id-foldingbike, dan 1PDN berkolaborasi menyelenggarakan Smilling Tour 2 Jakarta-Bandung dalam rangka Kemerdekaan Indonesia, dengan pembacaan proklamasi di kediaman Abah Iwan.
Simak selengkapnya di: http://sidhani.blogspot.com/
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span><a href="http://www.abahiwan.com/wp-content/uploads/2012/04/sidhani.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-657" title="Spedaman Kemerdekaan RI " src="http://www.abahiwan.com/wp-content/uploads/2012/04/sidhani.jpg" alt="" /></a>Tanggal 16 Agustus B2W, id-foldingbike, dan 1PDN berkolaborasi menyelenggarakan Smilling Tour 2 Jakarta-Bandung dalam rangka Kemerdekaan Indonesia, dengan </span><span>pembacaan proklamasi di kediaman Abah Iwan.</span></p>
<p>Simak selengkapnya di: <a href="http://sidhani.blogspot.com/">http://sidhani.blogspot.com/</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abahiwan.com/featured/jakarta-bandung-hari-kemerdekaan-ri/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Abah Iwan dan Lagu Mentari</title>
		<link>http://www.abahiwan.com/featured/abah-iwan-dan-lagu-mentari/</link>
		<comments>http://www.abahiwan.com/featured/abah-iwan-dan-lagu-mentari/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2012 07:32:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abah Iwan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[MENTARI]]></category>

		<category><![CDATA[Abah Iwan]]></category>

		<category><![CDATA[ITB]]></category>

		<category><![CDATA[Iwan Abdulrachman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abahiwan.com/?p=654</guid>
		<description><![CDATA[Mentari menyala di sini
Di sini di dalam hatiku
gemuruhnya nyala di sini
di sini di urat darahku…
Meskipun tembok yang tinggi mengurungku
Berlapis pagar duri sekitarku
Tak satu pun yang mampu menghalangiku
Menyala di dalam hatiku
Hari ini hari milikku
Juga esok masih terbentang
Dan mentari kan tetap menyala
Di sini, di urat darahku
(Lagu Mentari versi mahasiswa ITB)
Lirik lagu “Mentari” di atas bagi aktivis mahasiswa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mentari menyala di sini</p>
<p><strong></strong>Di sini di dalam hatiku</p>
<p>gemuruhnya nyala di sini<br />
di sini di urat darahku…</p>
<p>Meskipun tembok yang tinggi mengurungku<br />
Berlapis pagar duri sekitarku<br />
Tak satu pun yang mampu menghalangiku<br />
Menyala di dalam hatiku</p>
<p>Hari ini hari milikku<br />
Juga esok masih terbentang<br />
Dan mentari kan tetap menyala<br />
Di sini, di urat darahku</p>
<p>(Lagu Mentari versi mahasiswa ITB)</p>
<p>Lirik lagu “Mentari” di atas bagi aktivis mahasiswa ITB tidaklah asing, karena kerap dilantunkan di saat demo ataupun saat kegiatan orientasi kampus (OS). Namun , tak banyak yang mengenal sang penggubah lagu ini. Seperti lagu-lagu perjuangan mahasiswa ITB lainnya, entah kenapa tak jarang nama pengarang aslinya tidak muncul dalam buku saku mahasiswa. Lagu mentari ini biasa di tulis sebagai ”Mentari 1” karena ada lagi lagu “Mentari 2” dengan lirik dan nada yang jauh berbeda. Lagu yang biasa dilantunkan mahasiswa ITB ini dapat dilihat di link ini :<a href="http://www.youtube.com/watch?v=yvGy9mBy0_s" target="_blank">http://www.youtube.com/watch?v=yvGy9mBy0_s</a></p>
<p><a href="http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1478111356505&amp;set=o.417984323904"></a></p>
<p>Abah Iwan saat hadir di Seminar tentang Kepanduan di PPS-UI 3 Juni 2010</p>
<p>Saya sendiri mengetahui ihwal pengarang Lagu Mentari ini jauh setelah mengenal lagu ini (1994). Pastinya saya tidak ingat, namun sempat menyaksikan di televisi oleh Abah Iwan beberapa tahun kemudian.</p>
<p>Tapi tahukah anda ternyata lirik lagu yang asli digubah Abah Iwan ini berbeda dari yang sering dilantunkan mahasiswa ITB. Abah Iwan, dengan nama lengkap Ir.H.Iwan Ridwan Armansjah Abdulrachman bercerita di dalam buku “Senandung Merdu Rimba Raya : catatan para Sahabat tentrang Iwan Abdulrachman”, yang diterbitkan oleh Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga tahun 2010.</p>
<p>Berikut ini adalah versi asli Mentari gubahan Abah Iwan:</p>
<p>Mentari bernyala di sini<br />
Di sini di dalam hariku<br />
Gemuruhnya apinya di sini<br />
Di sini di urat darahku</p>
<p>Meskipun tembok yang tinggi mengurungku<br />
Berlapis pagar duri sekitarku<br />
Tak satu pun yang sanggup menghalangimu<br />
Bernyala di dalam hatiku</p>
<p>Hari ini hari milikku<br />
Juga esok masih terbentang<br />
Dan mentari kan tetap bernyala<br />
Di sini di urat darahku</p>
<p>Abah Iwan menggubah lagu Mentari ini di tengah-tengah kondisi kampus di Indonesia yang memanas. Di latar belakangi peristiwa tahun 1977, yang saat itu para mahasiswa menolak pencalonan kembali Soeharto sebagai Presiden. Soeharto dianggap membodohi rakyat karena kabijakan-kebijakannya yang dinilai tidak pro-rakyat dengan kebijakan utang luar negeri serta proyek pembangunan Taman Mini Indonesia Indah. NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan) diberlakukan oleh pemerintah saat itu dengan alasan untuk menjauhkan gerakan mahasiswa dari politik praktis ternyata dilakukan dnegan cara menempatkan militer di kampus-kampus. Tidak terkecuali di ITB.</p>
<p>Diberlakukannya NKK/BKK ini merupakan pukulan berat bagi mahasiswa. Dewan Mahasiswa (DM) seluruh Indonesia dibubarkan, dan para aktivisnya dimasukkan ke dalam penjara. Peristiwa pengambilalihan kampus ini tak pelak membuat Iwan gerah dan lahirlah lagu Mentari untuk mengobarkan semangat dirinya dan kawan-kawan mahasiswa yang berjuang kala itu. Iwan sendiri saat itu sudah lulus kuliah di Fakultas Pertanian UNPAD (1975).</p>
<p>Dalam buku tersebut diceritakan bahwa menurut Iwan, penjara tidak akan membatasi kita bila jiwa kita tetap menyala seperti mentari. “Mentari adalah bentuk metafora dari semangat kita,” ujarnya.</p>
<p><a href="http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1478116156625&amp;set=o.417984323904"></a></p>
<p>Buku “Senandung Merdu Rimba Raya”</p>
<p>Semangat yang bukan hadir karena memang sudah ada dengan sendirinya tetapi semangat yang muncul karena adanya kemauan dan tindakan untuk menyalakannya. Sehingga Iwan menggunakan imbuca ‘ber’ pada kata ‘bernyala’. Iwan tidak menggunakan imbuhan ‘me’ karena seseorang harus menumbuhkan semangatnya untuk menghadapi tantangan.</p>
<p>Gara-gara lagu yang menyemangati mahasiswa itu Iwan sempat masuk penjara. Lagu ini sering ia nyanyikan bersama rekan-rekannya di Wanadri. Rupanya oleh mahasiswa-mahasiswa ITB yang juga anggota Wanadri , lagu ini diperkenalkan sebagai lagu perjuangan mahasiswa ITB.</p>
<p>Dalam buku itu Iwan menyayangkan adanya perubahan dalam lirik lagu Mentari (silahkan lihat dan bandingkan kedua lirik lagu Mentari). Dalam Mentari versi ITB kata “bernyala” diganti “menyala”. Kata “menghalangimu” diubah menjadi “menghalangiku”. Menurut Abah Iwan, kata “menghalangiku” pada Mentari versi ITB menjadi tidak pas, sebab manusia dapat dihalangi, tetapi api semangat tidak.</p>
<p>Abah Iwan sendiri, tulis buku itu, tidak berkeberatan dengan mentari versi ITB yang seolah-olah menjadi milik mahasiswa ITB. “ Begitu lagu itu dinyanyikan oleh orang, bukan milik saya lagi. Meski secara administratf dan secara hukum mungkin milik saya. I don’t care, saya nggak peduli”, tegas Abah. Baginya, semakin banyak orang menyanyikan lagunya, semakin berguna dirinya untuk orang lain.</p>
<p>Nah, sekarang tinggal kalangan mahasiswa dan alumni ITB sendiri, seberapa besar mereka menghargai Abah Iwan. Semoga mereka bisa memberikan penghargaan yang layak untuk Abah Iwan, minimal menyanyikannya Mentari sebagaimana aslinya.</p>
<p>Wallahu a’lam.</p>
<p>Dikutip dari: <a href="http://sekonugroho.com/?p=22">http://sekonugroho.com/?p=22</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abahiwan.com/featured/abah-iwan-dan-lagu-mentari/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Abah Iwan, &#8220;Bersyukur dengan Menanam Pohon&#8221;</title>
		<link>http://www.abahiwan.com/featured/abah-iwan-bersyukur-dengan-menanam-pohon-2/</link>
		<comments>http://www.abahiwan.com/featured/abah-iwan-bersyukur-dengan-menanam-pohon-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2012 07:23:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abah Iwan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Detik Hidup]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Abah Iwan]]></category>

		<category><![CDATA[Iwan Abdulrachman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abahiwan.com/?p=652</guid>
		<description><![CDATA[BANDUNG, (PRLM).- Ajang silaturahmi harus ajarkan manusia agar bisa bermanfaat kepada sesamanya. &#8220;Setelah kita melaksanakan ibadah kepada Allah selama sebulan, maka saatnya kita silaturahmi kepada sesama manusia,&#8221; kata seniman Iwan Abdulrachman (Abah Iwan), dalam silaturahmi Idulfitri di Politeknik Manufaktur (Polman), Kamis (8/9).
Menurut Abah Iwan, salah satu upaya untuk bermanfaat kepada sesama dan lingkungan adalah dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BANDUNG, (PRLM).- Ajang silaturahmi harus ajarkan manusia agar bisa bermanfaat kepada sesamanya. &#8220;Setelah kita melaksanakan ibadah kepada Allah selama sebulan, maka saatnya kita silaturahmi kepada sesama manusia,&#8221; kata seniman Iwan Abdulrachman (Abah Iwan), dalam silaturahmi Idulfitri di Politeknik Manufaktur (Polman), Kamis (8/9).</p>
<p>Menurut Abah Iwan, salah satu upaya untuk bermanfaat kepada sesama dan lingkungan adalah dengan menanam pepohonan. &#8220;Setiap pagi kita menghirup oksigen yang diberikan Allah, namun tidak semua kita bersyukur. Cara bersyukur dengan menanam pepohonan sebagai pabrik penghasil oksigen,&#8221; ucapnya.</p>
<p>Sedangkan kepada dosen dan karyawan Polman, Abah Iwan berharap agar mengabdi dengan menyiapkan mahasiswa sebagai generasi terbaik pada zamannya. &#8220;Kita beribadah pada bidang keahliannya masing-masing. Tak usah takut dengan rezeki sebab Allah menyediakan rezeki-Nya setiap saat sehingga tak usah putus asa apalagi bunuh diri,&#8221; ucapnya.(A-71/A-147)***</p>
<p>Dikutip dari: <a href="http://www.pikiran-rakyat.com/node/157783">http://www.pikiran-rakyat.com/node/157783</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abahiwan.com/featured/abah-iwan-bersyukur-dengan-menanam-pohon-2/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Renungan Hidup: Pelajaran dari Abah Iwan Abdulrachman</title>
		<link>http://www.abahiwan.com/featured/renungan-hidup-pelajaran-dari-abah-iwan-abdulrachman/</link>
		<comments>http://www.abahiwan.com/featured/renungan-hidup-pelajaran-dari-abah-iwan-abdulrachman/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2012 07:22:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abah Iwan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Detik Hidup]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Abah Iwan]]></category>

		<category><![CDATA[Iwan Abdulrachman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abahiwan.com/?p=650</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini, Minggu 19 Februari 2012, saya bersama dengan teman-teman Perhimpunan Mahsiswa Bandung (PMB) mengadakan silaturahmi ke rumah Abah Iwan Abdurahman atau yang lebih dikenal dengan nama abah Iwan di daerah Cigadung, Bandung.


&#8220;Jangankan dari saya yang sudah berusia 65 tahun, bahkan dari sebuah pohon yang hanya diam berdiri  selama hidupnya pun kita bisa banyak mendapatkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini, Minggu 19 Februari 2012, saya bersama dengan teman-teman Perhimpunan Mahsiswa Bandung (PMB) mengadakan silaturahmi ke rumah Abah Iwan Abdurahman atau yang lebih dikenal dengan nama abah Iwan di daerah Cigadung, Bandung.</p>
<p><em><br />
</em></p>
<p><em>&#8220;Jangankan dari saya yang sudah berusia 65 tahun, bahkan dari sebuah pohon yang hanya diam berdiri  selama hidupnya pun kita bisa banyak mendapatkan pelajaran.&#8221;</em></p>
<p>Hal tersebut disampaikan Abah Iwan kepada kita. Beliau bercerita banyak tentang pengalaman hidup dan kebijaksanaan (wisdom) dalam menjalani hidup dan kehidupan.  Abah Iwan mengingatkan kita tentang pentingnya bersikap hormat (respect) kepada manusia, alam semesta, dan kehidupan ini.  Sikap hormat ini menjadi gerbang awal kita untuk  memperoleh pembelajaran dan nilai-nilai kehidupan, dari manusia, atau bahkan dari dari pohon yang selama hidupnya hanya diam berdiri saja.</p>
<p><em><br />
</em></p>
<p><em>&#8220;Bahkan bintang yang tinggi pun menaruh rasa hormat pada sebuah bunga putih yang hanya hidup 2 minggu di atas puncak gunung yang sunyi&#8221;</em></p>
<p>Beliau mengajak kita untuk selalu rendah hati dalam menjalani kehidupan ini. Dengan kerendahan hati ini kita bisa mendapatkan pelajaran berharga dalam hidup. Bahkan bintang yang tinggi pun menaruh rasa hormat pada sebuah bunga putih yang hanya hidup 2 minggu di atas puncak gunung yang sunyi.</p>
<p><em><br />
</em></p>
<p><em>&#8220;Ketahuilah bahwa bintang yang tinggi mengajarkan kita tentang kerendahan hati dan kesetiaan, bukan tentang kesombongan diri&#8221;</em></p>
<p>Manusia seringkali merasa lebih mulia daripada ciptaan yang lain yang ada di dunia. Menganggap remeh pohon, bunga, atau binatang lain yang ada di alam ini, padahal bisa jadi mereka lebih mulia di sisi Allah karena selalu patuh dan bertasbih memuji Allah dari pada manusia yang sudah diberi akal tapi hanya mengutamakan nafsu dan tidak menggunakan akal tersebut untuk memikirkan kebesaran Allah SWT.</p>
<p>Ingatlah bahwa derajat manusia itu bukan dilihat dari rupa maupun fisikanya, tapi dari ketakwaan kita kepada Allah. Jangan sampai ketika kita meninggal nanti kita menyesal dan berkata duhai celaka, sekiranya saja dulu saya diciptakan sebagai tanah saja.</p>
<p>Dikutip dari: <a href="http://blogs.itb.ac.id/edison/2012/02/19/renungan-hidup-pelajaran-dari-abah-iwan-abdulrachman/">http://blogs.itb.ac.id/edison/2012/02/19/renungan-hidup-pelajaran-dari-abah-iwan-abdulrachman/</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abahiwan.com/featured/renungan-hidup-pelajaran-dari-abah-iwan-abdulrachman/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bersenandung dan Bercerita ala Abah Iwan</title>
		<link>http://www.abahiwan.com/featured/bersenandung-dan-bercerita-ala-abah-iwan/</link>
		<comments>http://www.abahiwan.com/featured/bersenandung-dan-bercerita-ala-abah-iwan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2012 07:13:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abah Iwan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[HYMNE UNPAD]]></category>

		<category><![CDATA[Abah Iwan]]></category>

		<category><![CDATA[Iwan Abdulrachman]]></category>

		<category><![CDATA[UNPAD]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abahiwan.com/?p=646</guid>
		<description><![CDATA[Formagz.com - Para penyuka musik mungkin akan hafal setiap kata dari lirik yang disenandungkan oleh sang penyanyi pujaannya. Namun, apakah mereka tahu makna dari baris kata yang mereka nyanyikan?
Hal itulah yang tak terjadi ketika seorang Iwan Abdurachman bernyanyi, bukan hanya menghibur melalui lantunan musik dan suaranya, ia juga banyak bercerita mengenai proses kreatif di balik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.abahiwan.com/wp-content/uploads/2012/04/abah-formagz.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-647" title="abah-formagz" src="http://www.abahiwan.com/wp-content/uploads/2012/04/abah-formagz.jpg" alt="" /></a>Formagz.com - Para penyuka musik mungkin akan hafal setiap kata dari lirik yang disenandungkan oleh sang penyanyi pujaannya. Namun, apakah mereka tahu makna dari baris kata yang mereka nyanyikan?</p>
<p>Hal itulah yang tak terjadi ketika seorang Iwan Abdurachman bernyanyi, bukan hanya menghibur melalui lantunan musik dan suaranya, ia juga banyak bercerita mengenai proses kreatif di balik pembuatan lagu serta mampu menjelaskan makna di balik lirik lagu yang ia nyanyikan.</p>
<p>Bertempat di Bale Sawala, kampus Unpad Jatinangor, Sabtu (31/03) akhir minggu kemarin. Para audience diajak untuk menyimak dan mengapresiasi sebuah pagelaran musik dari seorang alumnus Unpad Ir. Iwan Abdurachman yang diundang secara khusus oleh istrinya sendiri, Januarsih Iwan Abdurachman, sebagai pengisi acara Apresiasi “Prestasi, Organisasi, dan Kreasi”.</p>
<p>Sebelum memasuki acara apresiasi, audience diajak untuk terlebih dahulu masuk ke dalam suasana Indonesia Raya dengan dipandu oleh kang Aat Suratin. Sebuah hal wajib yang dilakukan oleh Iwan Abdurachman sebelum melakukan pentas agar suasana kebersamaan dalam satu Indonesia itu dapat timbul.</p>
<p>Selanjutnya, Iwan Abdurachman yang biasa disapa dengan sebutan abah Iwan membuka acara dengan lantunan lagu Duha, sebuah lagu yang yang tercipta agar kita menyadari bahwa dibalik satu hal buruk, masih banyak hal baik lainnya yang terjadi di sekitar kita.</p>
<p>Berturut-turut kemudian abah Iwan menyanyikan beberapa lagu yang pernah ia dengar dari koleksi bung Karno pada jamannya, lagu dengan lirik yang tidak cukup familiar di telinga orang Indonesia tersebut ia nyanyikan dengan lantang  “nyanyi bari kata-katana teu ngarti, yang penting semangat dalam menyanyikan lagu” ujar pria yang pernah membuat band bersama putra sulung Ir. Soekarno tersebut.</p>
<p>Lagu-lagu pembakar semangat itu juga sering ia nyanyikan bersama Grup Pecinta Lagu (GPL) Unpad yang telah melegenda, “bayangkan 40 orang bersama-sama menyanyikan lagu ini” tuturnya ketika lagu masih berjalan, dan, bukan hanya sekali dua kali ia menghentikan petikan gitarnya di tengah lagu untuk menceritakan makna lagu yang telah dan akan ia nyanyikan.</p>
<p>Lagu abah Iwan lainnya yang sempat dibawakan kala itu adalah lagu Burung Camar, lagu yang dipopulerkan oleh Vina Panduwinata, dan pernah mendapatkan penghargaan dalam World Populer Song Festival in Tokyo pada tahun 1985. Berbeda dengan versi yang sudah sering kita dengar selama ini, kali ini Burung Camar  dibawakan abah Iwan dengan versi berbeda, dan menurutnya itu merupakan versi asli dari si Burung Camar.</p>
<p>Pria yang telah matang dalam menjalani kehidupannya itu sempat juga menyanyikan lagu Mentari, sebuah lagu yang tercipta atas perjuangan para mahasiswa di era Orde Baru pada kisaran tahun 1978. Banyak sekali inspirasi dari kehidupan abah Iwan yang tersalurkan melalui lagu-lagu yang ia nyanyikan. Namun, secara rendah diri ia menuturkan bahwa kedatangannya kala itu hanya untuk berbagi “saya datang untuk ngobrol, bukan memberi inspirasi” tegas pria yang telah lama bergaul dengan alam dan telah menginjakan kakinya di Kilimanjaro pada tahun 2010 lalu ini.</p>
<p>Memang kecintaan pria ini terhadap alam sudah tidak dapat ditampikkan lagi bahkan ia juga sempat bernyanyi kala itu mengenai bagaimana alam telah mengajarkan hidup  “Gunung-gunung dan lembah telah mengajar kita tentang keindahan hidup di alam terbuka, mempersatukan jiwa kita bagaikan saudara, tebing-tebing yang curam telah mengajar kita tentang keteguhan hati dan keberanian mempersatukan jiwa kita bagai saudara” senandungnya.</p>
<p><a href="http://www.abahiwan.com/wp-content/uploads/2012/04/abah-formagz2.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-648" title="abah-formagz2" src="http://www.abahiwan.com/wp-content/uploads/2012/04/abah-formagz2.jpg" alt="" /></a>Selain komposisi lagu tersebut abah Iwan juga sempat menyanyikan lagu Seribu Mil Lebih Sedepa, yang ia dedikasikan untuk orang-orang yang telah meninggalkannya dan untuk semua orang yang sedang rindu akan seseorang. Warga kehormatan kopasus ini juga bercerita melalui salah satu lagunya yang berjudul Balada Seorang Prajurit.</p>
<p>Lagu selanjutnya yang dinyanyikan abah yaitu Almamater, dengan mengganti kata Almamater menjadi Indonesia ia mengharapkan sebuah kebanggaan dan bakti bukan hanya untuk almamater melainkan untuk bangsa ini juga.</p>
<p>Secara klimaks acara inipun ditutup secara khidmat dengan persembahan terakhir Hymne Unpad. Lagu hasil gubahan abah Iwan ini mampu membuat seluruh audience bernyanyi dan mengingatkan kembali kepada setiap orang yang hadir kala itu bahwa dalam dirinya terdapat sebuah hutang untuk mengabdi kepada masyarakat.</p>
<p>photos by. Indra Nugraha</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abahiwan.com/featured/bersenandung-dan-bercerita-ala-abah-iwan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jelang Lebaran, Abah Iwan Pilih Naik Gunung</title>
		<link>http://www.abahiwan.com/featured/jelang-lebaran-abah-iwan-pilih-naik-gunung/</link>
		<comments>http://www.abahiwan.com/featured/jelang-lebaran-abah-iwan-pilih-naik-gunung/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2012 06:59:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abah Iwan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Detik Hidup]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Abah Iwan]]></category>

		<category><![CDATA[Iwan Abdulrachman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.abahiwan.com/?p=644</guid>
		<description><![CDATA[INILAH.COM, Bandung - Seniman dan budayawan Ridwan Armansjah Abdulrachman atau akrab disapa Abah Iwan berencana menghabiskan 10 hari terakhir Ramadan di pegunungan.
&#8220;Kalau dalam awal Ramadan saya sama dengan yang lain saum dan Salat tarawih. Tetapi pada 10 hari terakhir Ramadan, saya dan teman yang lainnya ke masjid dalam tanda kutip yaitu gunung, karena gunung sama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>INILAH.COM, Bandung - Seniman dan budayawan Ridwan Armansjah Abdulrachman atau akrab disapa Abah Iwan berencana menghabiskan 10 hari terakhir Ramadan di pegunungan.</p>
<p>&#8220;Kalau dalam awal Ramadan saya sama dengan yang lain saum dan Salat tarawih. Tetapi pada 10 hari terakhir Ramadan, saya dan teman yang lainnya ke masjid dalam tanda kutip yaitu gunung, karena gunung sama juga dengan masjid sebab sama milik Allah SWT,&#8221; terangnya kepada wartawan di halaman Masjid Salman ITB, Jalan Ganeca Kota Bandung, Kamis (4/8/2011).</p>
<p>Gunung yang akan dijelajahi Abah Iwan tahun ini adalah Gunung Burangrang. Abah Iwan mengaku pergi ke gunung tersebut untuk bertahanuts bukan beritikaf . Artinya pergi ke tempat sepi seperti yang pernah dilakukan Nabi Muhammad SAW di Gua Hira dan dianjurkan.</p>
<p>&#8220;Di sana kami tetap beribadah seperti memperbanyak Salat dan tadarusan Alquran, ini bukan kebiasaan karena kalau disebut kebiasaan akan dianggap bid&#8217;ah,&#8221; tambahnya. [gin]</p>
<div class="header-grey">
<div class="header-grey-in txt-grey">Dikutip dari: inilah.com</div>
<div class="header-grey-in txt-grey">Oleh: Yatni Setianingsih<br />
Jumat, 5 Agustus 2011, 11:14 WIB</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.abahiwan.com/featured/jelang-lebaran-abah-iwan-pilih-naik-gunung/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

