Reuni Taruna AKABRI Angkatan 1973 – UNPAD – TRISAKTI 19 Desember 2008

Tahun 1970-an di Indonesia terjadi masa awal perpecahan dua generasi muda elit (elit mahasiswa atau sipil, dan elit tentara atau militer). Saat itu pemuda sipil, termasuk mahasiswa, dilarang membawa senjata. Sering dilakukan razia oleh polisi (muda) dengan cara memasukkan mulut botol ke pipa celana. Saat itu mahasiswa sedang trend mengenakan celana pipa sempit. Jika botol tidak bisa masuk celana karena terlalu sempit, maka celana akan digunting oleh polisi.

Karena arogansi pihak militer, dengan perlakuan gunting celana dan razia di jalan, mahasiswa merasa sakit hati dan berubah menjadi benci. Kebencian pun meruncing. Sehingga dilakukan upaya merukunkan kedua kubu. Diantaranya dengan diselenggarakan pertandingan persahabatan sepak bola antara Akabri dan ITB di lapang bola ITB, Bandung. Pertandingan itu dimenangkan oleh pihak AKABRI. Keunggulan Taruna AKABRI dalam berlatih fisik memang diakui. Tetapi sayang. Kurangnya sportivitas dalam mengakui kekalahan, ditambah perilaku mengejek, seorang mahasiswa yang mengendarai motor secara zig-zag, menghalangi jalannya bus Taruna AKABRI. Kemudian, dia meludah ke jendela bis. Menyebabkan kemarahan dan salah seorang Taruna emosi dan lepas kendali, mencabut pistol pelatih, dan menembak tewas mahasiswa tersebut. alangkah tragis peristiwa ini, dan dampaknya pun sangat hebat.

Sarwo Edhi (alm.) yang saat itu menjabat sebagai Gubernur AKABRI, berupaya mengeliminasi gap antara dua kubu ini, karena beliau berpendapat pertikaian antara mahasiswa dan tentara ini merupakan awal kehancuran bangsa.

Sarwo Edhi (alm.) mengundang para mahasiswa ke kampus AKABRI di Magelang. Mula-mula ITB dan UI. Kali kedua, tahun 1973, giliran UNPAD dan TRISAKTI.

Strateginya adalah arogansi militer dijinakkan dengan dikirimnya mahasiswa UNPAD yang tergabung dalam GPL (Grup Pencinta Lagu – grup yang dibangun oleh Abah). Sebagian besar anggota GPL adalah juga anggota Wanadri (termasuk Abah) yang juga dididik oleh Sarwo Edhi (alm.) dalam masa mengimbangi gerakan G-30-S PKI.

Hasil pertandingan persahabatan kali ini dimenangkan oleh para mahasiswa. Berkat latihan dan disiplin keras sebelumnya.

Pada malam harinya diteruskan dengan malam kesenian. Dan GPL, di bawah pimpinan Abah, mempersembahkan lagu Balada Taruna salah satunya. Yaitu lagu Balada Seorang Kelana, yang digubah Abah pada tahun 1964, diganti kata-katanya menjadi Balada Seorang Taruna. Kata “Kuberjalan seorang diri” diganti menjadi “Kumerana seorang diri”. Merana, karena dibenci, dicerca, seorang diri.

“Wahai kaum militer, beribu-ribu mahasiswa membencimu karena arogansimu. Tetapi kami sadar bahwa dirimu SIAP hilang nyawa bagi ibu pertiwi! Maka, kami persembahkan lagu ini,” seru Abah.

BALADA SEORANG TARUNA

Keheningan alam di tengah rimba sunyi
Kumerana seorang diri sbagai seorang Taruna
Kudambakan jiwaku padamu oh Tuhanku
Kuberdoa sepenuh hati smoga tercapai tujuanku

Kuberjuang penuh tekad demi nusa dan bangsa
Dingin, hening dan sepi di daun angin berbisik
Hai Taruna tabahkan hatimu
Tuhan slalu besertamu

Gara-gara lagu ini, Taruna bisa akrab dengan mahasiswa.

Lagu ini tetap menjadi kenangan Taruna saat itu sampai dengan sekarang. Diantara para Taruna angkatan 1973 adalah: Susilo Bambang Yudhoyono (sekarang Presiden RI), Yasin, Djoko Santoso (KASAD). Dan pada tanggal 19 Desember 2008 yang lalu, AKABRI – UNPAD – TRISAKTI diundang oleh Presiden RI berkumpul melakukan reuni di Istana Cipanas, Bogor.

Sedangkan makna lagu Balada Seorang Kelana itu sendiri adalah bahwa hakikatnya kita ini manusia hanyalah seorang kelana yang mengembara di dunia menjalankan ketentuan Allah SWT sampai saatnya dipanggil kembali pulang. (MasyaAllah.. Lagu ini ditulis oleh seorang pemuda berumur 17 tahun di tahun 1964 – red). Lebih jauh lagi bahwa sang kelana bergiat berlatih untuk pengembangan diri yang tentunya untuk pengabdian dan menolong sesama.

Saat ini, gap antara mahasiswa dan tentara tetap berlanjut karena adanya pihak yang memiliki kepentingan. Abah berpesan pada para mahasiswa dalam pertemuan diskusi dengan PPSDMS Nurul Fikri, “Wahai mahasiswa. Wahai generasi muda. Jangan mau dipecah-belah. Kita ini satu bangsa. Bagaikan satu tubuh. Kaki yang satu adalah kaum mahasiswa. Dan kaki yang lainnya adalah kaum militer. Kalau satu kaki ditumpas atau dilemahkan, maka tubuh ini – yaitu bangsa Indonesia, akan pincang atau lemah. Kita harus bersatu, masing-masing adalah kaum yang kuat.”

“Abah dulu sering berlatih di Istana Negara Bogor, ketika saat itu main band dengan Guntur Soekarno Putra. Tidurnya pun di tempat tidur SBY sekarang. Tapi ku Abah teu dibejaan, bisi culangung.” HAHAHAHAHAHAHA

photo courtesy of http://www.akmil.ac.id/