Takkan tergambarkan dengan kata-kata
perasaan sedih ini
Maka kuungkapkan lewat nada dari lagu ini

Ingin kutanyakan namun tlah kuduga
jawaban yang kan kutrima
Rasa penasaran dalam hatiku
Tajam tak bertepi

Selangkah demi selangkah kuturutkan kata hati
Sampai jauh ke ujung bukit yang berbatas langit

Tapakku tlah hancur
Badan pun tlah luka
Bahkan hati tlah berkeping
Namun tlah kutemukan jawaban

(Tajam Tak Bertepi – Lirik dan musik: Iwan Abdulrachman)

Bukan suatu hal yang kebetulan tanggal 17 Agustus 1945 jatuh di bulan Ramadhan. Dan bukan suatu kebetulan juga 17 agustus 2011 saat ini jatuh di bulan Ramadhan yang suci dan dimuliakan. Ramadhan mengajarkan kepada kita untuk menghadapi hal-hal yang memprihatinkan secara sadar dan sengaja di dalam keteguhan hati, kesabaran dan martabat yang luhur. Tidak saling mencaci, tidak saling mencela, tidak saling menghina. Mencari-cari kebaikan orang, mengangkat kebaikan orang, dan mengatasi keburukan orang dengan penuh kesantunan dan kesabaran.

Sikap Ramadhan inilah yang harus kita pakai hari demi hari, bulan demi bulan ke depan, dalam menghadapi kesulitan bangsa ini yang semakin mendalam, juga keprihatinan yang semakin hebat.

Sikap Ramadhan inilah yang kiranya mampu untuk terekspresikan di dalam bidang masing-masing sesuai dengan tugas dan kewajiban kita dalam menghadapi kesulitan dan mengatasi berbagai persoalan. Sehingga bangsa ini bisa mensyukuri kemerdekaan, yang merupakan suatu hadiah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Yang tentunya harus kita syukuri dengan penuh kebersamaan dalam keyakinan penuh bahwa kita mampu untuk mengatasi kesulitan.

(Mari Bung Rebut Kembali! 8-11 MetroTV 17 Agustus 2011)