(Oleh : Abah Iwan - Wanadri W 041 SINGAWALANG)

Diawal tahun 1900 di pedalaman Amerika seorang pemburu, pembuat jerat kawakan diserang oleh seekor beruang, bedilnya macet!  Namun ia berhasil membunuh beruang itu dengan pisau yang selalu dibawanya ke mana pun ia pergi. Kisah itu ia ceritakan sebagai “testimoni” untuk mengutarakan rasa terima kasihnya kepada “sang pembuat pisau” yang telah membuat pisau yang sangat tangguh dan bermutu, yang telah menolongnya membunuh seekor beruang. Dan ia memberi nama pisaunya Ka-Bar (Killed a bear).

Pisau BK-10 Ka-Bar (fighting/utility knife)

Menghormati “testimoni” ini sang pembuat pisau tadi kemudian mengadopsi  dan mengabadikan frase Ka-Bar sebagai “trade mark” pIsau-pisau buatannya.

Setiap pisau dibuat melalui proses dan uji kualitas yang teliti dalam berbagai hal, terutama kekuatan, ketahanan terhadap karat, ketajaman yang seperti pisau silet dan daya tahan ketajaman yang prima bahkan setelah dipakai dalam waktu yang lama.

Kualitas dengan syarat-syarat seperti di atas itulah yang kemudian menjadikan pisau ini dipakai sebagai pisau standar oleh Marinir Amerika (USMC) sejak saat Perang Dunia II baru saja dimulai.

Tugas-tugas di lapangan di medan tempur yang sangat keras dan beragam banyak sekali yang berhasil diselesaikan oleh para prajurit dengan bantuan pisau ini, atau sebutlah dengan pisau semacam ini.

Popularitas dan rasa hormat terhadap pisau ini kemudian menjadikan pisau jenis ini diadopsi dan dijadikan standar pula, bukan saja oleh USMC tapi juga oleh Angkatan Darat, Angkatan Udara, dan juga oleh unit-unit pasukan khusus lainnya. Bahkan sampai era masa kini dimana senjata-senjata dan peralatan tempur semakin modern dan canggih, pisau jenis Fighting/ Utility Knife ini dengan beberapa penyesuaian menjadi bagian standar bagi seorang prajurit.

Bukan hanya tentara yang perlu pisau untuk tugas-tugasnya; banyak sekali tugas-tugas tertentu dalam dunia sipil yang mengharuskan seseorang untuk berkegiatan di alam terbuka atau di tempat-tempat yang terpencil yang jauh dari fasilitas “normal”, seperti misalnya para geologist, surveyor, peneliti, dokter atau petugas penyelamat. Dorongan untuk melakukan “petualangan” di alam terbuka pun menyebabkan para penggiatnya melakukan berbagai aktivitas mulai dari perjalanan berkemah di pinggir danau ditengah-tengah hutan, pendakian gunung, pengarungan sungai berarus deras, sampai dengan perjalanan ekspedisi yang lebih kompleks. Semua kegiatan tersebut membutuhkan persiapan dan kesiapan, apalagi untuk kegiatan yang sifatnya mengandung “petualangan” atau “adventure“. Keadaan di alam terbuka sering kali menghadapkan kita pada berbagai situasi dan kondisi alam yang apabila kita tidak siap dapat membahayakan jiwa, tetapi sebaliknya apabila kita faham dan siap, akan memberikan kenikmatan petualangan yang mengasyikan.

Setelah kesiapan  fisik dan sikap mental, kesiapan pengetahuan dan ketrampilan teknis hidup di alam terbuka, kesiapan perlengkapan yang tepat pun menjadi hal yang sangat penting. Dari berbagai perlengkapan yang penting tadi “pisau” adalah salah satu yang esensial. Sambil bercanda seorang pelatih di Wanadri mengatakan : Bahkan Tarzan, yang saking mahirnya hidup di hutan dan sampai tidak perlu pakai baju selain cawat, di pinggangnya selalu ada pisau! Atau Wiro tokoh komik petualangan di tahun 1960an tetap saja bawa pisau, walaupun ada ketepel tergantung di lehernya. Konon katanya para astronaut pun dibekali pisau saku kecil dari bahan semacam keramik.

Bagi kita, para penggiat di alam terbuka, harus belajar dari saudara-saudara kita suku Dayak, atau dulur urang, urang Baduy atau dari kerabat kita suku Anak Dalam yang sehari-harinya mereka hidup di dalam hutan, hidup bersama alam. Sejak usia anak-anak mereka sudah terbiasa membawa mandau, golok, bedog ataupun parang; bukan hanya sebagai alat bela diri, akan tetapi fungsi hari-harinya adalah alat penolong pekerjaan; kalau urang Sunda menyebutnya “pakarang”.

Bagi kita para petualang penggiat alam terbuka, secara umum pisau adalah alat bantu kita untuk keperluan menebas, memotong, menyayat, menusuk dll. Pada gilirannya akan memudahkan kita untuk menyiapkan kayu bakar untuk membuat api, atau membuat bivak untuk perlindungan dari cuaca, atau untuk memotong daging binatang buruan dan banyak lagi.

Banyak macam pisau yang dibuat untuk keperluan khusus yang tertentu walaupun pisau itu dapat digunakan untuk keperluan lainnya.

Betapa pun juga pisau adalah sahabat baik bagi seorang pengembara, karena itu memilih pisau haruslah benar-benar sesuai fungsi yang kita butuhkan, ukurannya cocok, kuat, “enak dipegang” dan terutama harus tajam.

Beberapa jenis pisau yang familier dan sering kita temui:
- Pisau Bowie

Pisau Bowie (Ranger Knife), pisau yang dipakai Ranger Amerika masa kini

Pada dasarnya pisau ini termasuk jenis “fighting knife”, efektif untuk menusuk dan menyayat, tetapi masih cukup “enak” untuk dipakai menebas, memotong kayu atau bahkan untuk menguliti. Kalau terbuat dari bahan yang baik, pisau ini akan sangat tangguh. Karena desainnya multiguna, banyak pisau “survival’ yang memakai desain dasar pisau Bowie ini. Bahkan pisau Ka-Bar / fighting knife/ utility knife yang tekenal itu pun memakai desain ini.

- Pisau Komando

Pisau Komando

Pisau Komando Kopassus

Pisau Komando Kopassus

Diciptakan oleh W.E. Fairbairn dan E.A.Sykes , dibuat untuk tugas khusus pasukan komando dalam pertempuran senyap  jarak dekat dalam tugas penyusupan. Pertama kali dipakai dalam  Perang  Dunia kedua di medan perang Shanghai.
Pisau komando ini khas pisau penusuk; desain dasarnya diambil dari “dagger”, sangat efektif untuk menusuk dan menyayat, akan tetapi sangat tidak cocok untuk pekerjaan-pekerjaan menebas atau membelah kayu.

- Pisau Skinner

Pisau Skinner

Pisau Skinner T.Kardin (hadiah pernikahan Banis-Riandi)

Pisau khusus untuk menguliti binatang buruan. Biasanya pisau ini tipis dengan bagian ujungnya yang agak melengkung. Ukurannya bermacam-macam tergantung keperluan

-Pisau lempar

Pisau Lempar

Pisau yang dirancang khusus untuk dilempar ke lumpier

Banyak sekali jenis pisau yang aneh-aneh dan mempunyai kegunaan yang sangat khusus, akan tetapi bagi kita, penggiat alam terbuka terutama yang berkegiatan di daerah yang berhutan lebat, yang perlu diperhatikan adalah pisau kita harus terbuat dari bahan yang dapat diandalkan, tajam dan tidak mudah rusak.
- desain dan ukurannya harus sesuai, enak dipegang dan enak dipakai
- dan jangan lupa sarungnya harus aman dan enak “jatuh”nya, tidak mengganggu gerakan
Untuk perjalanan pengembaraan di daerah gunung hutan ini sebaiknya kita membawa pisau jenis Bowie (hunter, utility, survival knife), karena pisau ini dapat dipakai untuk berbagai keperluan. Kemudian ditambah dengan golok tebas dan pisau saku multifungsi, maka perjalanan pengembaraan kita akan memberikan kesenangan.

Ada beberapa tempat seperti cagar-cagar  alam tidak membolehkan pengunjung membawa pisau untuk mencegah perbuatan perusakan alam lingkungan. Saya berpendapat paling tidak pisau saku kecil serbaguna seperti “Swiss Army Knife” tetaplah diijinkan untuk dibawa untuk kesiapan andaikata terjadi keadaan darurat.
Bagi seorang pengembara,  pisau adalah sahabat baik; tidak selalu digunakan, akan tetapi bila ada persoalan-persoalan tertentu kita menyesal andai sahabat baik kita ini tidak ada bersama kita. Ingat semboyan pandu “Be Prepared”.

Dimuat di Pikiran Rakyat, 14 Maret 2016