Awal September lalu, musisi Iwan Abdulrachman merayakan ulang tahun ke-66 di Puncak Gunung Semeru. Ia menyambut matahari baru 3 September, meraih gitar, kemudian mendendangkan lagu bertajuk “Mentari”.

Ditemani dua anaknya dan dua pemuda lain yang semuanya anggota Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri, ia bernyanyi lantang, “Hari Ini Hari Milikku”, “Esok Masih Terbentang”, dan “Mentari Kan Tetap Bernyala di Sini di Dalam Hatiku.”

Abah Iwan, demikian orang-orang memanggilnya, setia menciptakan dan menyanyikan lagu tentang alam. “Kesadaran ini harus dikembangkan bahwa alam adalah bagian dari hidup, bukan obyek kepentingan manusia!” kata Iwan.

Didasari kecintaan pada alam juga, Iwan tak kenal lelah mendaki gunung dan menembus hutan sambil terus bernyanyi. Seringkali ia bernyanyi di hadapan alam dengan gunung, pohon, dan rerumputan sebagai penontonnya. Baginya, satu batang pohon pun harus diperlakukan penuh hormat.

Setelah Rinjani, Iwan sedang bersiap bernyanyi di Kawasan Konservasi Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi, Jawa Barat awal bulan depan. Selanjutnya, ia juga akan berangkat ke Bali untuk menyampaikan pemikiran tentang spirit kepemudaan. Dari alam, generasi muda juga diajak semakin mencintai negeri. Jiwa patriotism antara lain  tercermin dari lagu “Balada Seorang Kelana” yang diciptakan tahun 1964.

Lagu tentang alam, menurut Iwan, efektif menumbuhkan keharuan. Ekspresi dan keharuan itulah yang kemudian bisa menumbuhkan cinta pada alam dan Tanah Air. “Kampanye lewat lagu tetap harus dipadukan dengan usaha lain. Tidak bisa berdiri sendiri,” tambah Iwan.

Dari keragaman pohon dan rumput di rimba hutan, Iwan antara lain belajar tentang prinsip Bhinneka Tunggal Ika. Di gunung, hipotermia bisa melanda siapa pun tanpa pandang agama dan suku bangsa. “Kamu makan Kristenmu, aku makan Islamku. Tapi nasi ini mari kita makan sama-sama. Jangan disamakan, kalau berbeda memang kenapa?” ujar Iwan.

Bukan “jadul”

Dari pertama kali berkarya di tahun 1964 hingga kini, Iwan telah menciptakan lebih 100 lagu. Iwan pun selalu menyanyikan setiap kata dalam lagu dengan sama sungguh-sungguhnya seperti ketika pertama kali lagu itu lahir.

Pada saat menyanyikan lagu “Melati Dari Jayagiri”, yang digubahnya tahun 1967, misalnya, Iwan masih merasakan ketakjuban yang sama ketika melihat bintang-bintang di langit. Ia tetap merasa sepenuh takut gelap karena gelap di gunung bisa saja membunuh. “Saya harus mengkritisi penyebutan lagu jadul. Konotasinya seolah negatif. Ada sinisme. Seolah merendahkan masa lalu. Sejarah adalah bagian dari kita,” ujar Iwan.

Musik yang disuguhkan Iwan selalu bernuansa balada. Kisah-kisah yang dinyanyikan itu terutama berasal dari pengalaman pribadi yang bersentuhan dengan alam. Dalam proses menciptakan lagu, Iwan tak pernah sengaja menulis lagu. Biasanya lagu itu tercipta ketika ia pergi ke suatu tempat  lalu muncul ide tema lagu yang diterjemahkan ke dalam lirik.

Setiap pagi sebelum memulai aktivitas, Iwan selalu berlatih dengan gitarnya. Ia kemudian menggelar konser dengan penonton sebatang pohon merambat yang tumbuh di ruang tamu rumahnya.  Saking bahagianya mendengar musik setiap hari, pohon itu kini telah bertumbuh menyelimuti seluruh atap rumah Iwan.

Bernyanyi di hadapan pohon atau satu orang, Iwan melanjutkan, adalah sama sungguh-sungguhnya seperti yang dilakukannya ketika konser di depan ribuan orang. “Konser itu setiap hari. Peristiwa seni itu tetap sama adanya. Mau di panggung atau dimana pun. Saya menyuguhkan karya cipta untuk diapresiasi,” ujar Iwan.

Jalan sunyi

Di rumahnya di kawasan Cigadung, Bandung, Iwan menghadirkan hutan. Pohon-pohon pinus tumbuh menjulang  dengan tupai yang berloncatan. Halaman rumahnya dibiarkan berbukit-bukit sesuai kontur aslinya. Pondok-pondok dibangun untuk rumah persinggahan, rumah tinggal, dan rumah penyimpanan alat pendakian.

Setiap bangun di pagi hari, Iwan selalu merasa terlahirkan kembali menjadi orang baru. Itulah kenapa ia masih menggebu-gebu di usia berkepala enam. Iwan bahkan bercita-cita akan terus menyanyi dan mendaki gunung hingga usia lanjut. Kecintaannya pada alam dibangun sejak ia sering diajak ayahnya, ahli botani, Abdulrachman Natadiria, untuk berkemah di hutan.

Pohon-pohon di halaman rumahnya, kata Iwan, menjadi semacam antenna yang mengarah ke gunung-gunung yang akan didaki. Mereka seolah membisikkan tentang  gunung-gunung yang telah lama tak disambangi. Mimpinya adalah menapak di puncak tertinggi Everest, tentu saja sambil membawa gitar dan bernyanyi.

Mengutip kalimat terkenal dari pendaki gunung yang meninggal di Everest tahun 1920-an, George Mallory, Iwan terus mendaki gunung dengan alas an, “because it’s there”. Karena gunung itu ada di sana. Bagi Iwan, mendaki gunung adalah bagian dari penziarahan hidup. “Gunung tidak bisa ditaklukkan. Ia hanya berbelas kasihan saja pada kita,” tambahnya.

Meski sunyi, Iwan bersetia pada jalan alam. Seperti yang tertera pada lagunya “Seribu Mil Lebih Sedepa”. “Lagu alam memang sunyi, Sayang… Apalagi sore ini…sore ini sore Sabtu, sore biasa kita berdua. Membelai mentari senja, di ujung jalan Bandung utara..” (Mawar Kusuma)

Dimuat di Koran Kompas, 27 Oktober 2013