Dalam rangka memperingati hari Kebangkitan Nasional, atas permintaan Prof. Ganjar Kurnia, Rektor UNPAD, pada 20 Mei 2012, GPL akan menggelar konser di Aula Sanusi Hardjadinata UNPAD. Inilah pergelaran GPL sejak 40 tahun lalu di tempat yang sama. Prof. Ganjar Kurnia tertarik untuk menampilkan GPL pada peristiwa penting tersebut karena melihat “nilai-nilai” dari GPL yang kiranya patut dikabarkan, diperlihatkan, bahkan diwariskan, kepada genarsi hari ini. Nilai-nilai apakah yang sesungguhnya tumbuh dan terpancar dari penghikmatan GPL atas proses kreatif atau perjalanan hidup sepanjang 40 tahun itu? Prof. Ganjar Kurnia melihat nilai ‘persahabatan yang tulus’. Persahabatan Sejati. Memang, nilai-nilai persahabatan dan kebersamaanlah yang dibidik, dicita-citakan, serta diitikadkan oleh GPL sejak awal dibentuknya.

Dikomandani oleh Ir. Iwan Abdulrachman (Abah Iwan, sekarang anggota Dewan Penyantun UNPAD) GPL menerapkan proses latihan yang sangat ‘unik’. Melalui metoda latihan itu telah terbukti bahwa melalui aktivitas menyanyi, upaya untuk sungguh-sungguh menghargai dan setia pada komitmen bisa terwujud. Pada gilirannya, hal itu membentuk pribadi para pelakunya dalam dimensi dan spektrum yang positif untuk berbagai bidang kehidupan. Syarat utama para awak GPL ialah melatih kebugaran fisik melalui olahraga: lari, bersepeda, naik gunung, dan pencak silat, karena tubuh yang sehat dan bugar adalah sumber produksi vokal yang prima – alat utama untuk menyanyi. Melalui program latihan yang terencana, disepakati pula penumbuhan nilai-nilai: taat pada komitmen, saling respek terhadap sesama anggota, dan membuhulkan kebersamaan sebagai syarat utama bernyanyi secara berkelompok.

Dengan bahasa yang komunikatif dan singkat, 40 tahun yang lalu, Abah Iwan menjelaskan tentang GPL: “Sebagai mahasiswa yang penuh dinamika, menyanyi bukanlah profesi dan tujuan utama. Ia adalah alat untuk menikmati keindahan, menghargai kebesaran Tuhan dan sekaligus merupakan alat komunikasi yang ampuh dalam membina rasa persaudaraan yang enak, kesegaran, serta keakraban pada lingkungannya.” Kredo itulah yang kemudian diejawantahkan oleh GPL. Maka, GPL pun kemudian meyakini bahwa nilai-nilai persahabatan dan kebersamaan bisa tumbuh (dan ternyata terbuktu tumbuh) melalui aktivitas bernyanyi bersama/ berkelompok.

Perhatikan hal berikut ini, sesuatu yang normatif boleh jadi tampak sederhana, selalu terlintas dalam pkiran dan mudah diucapkan. Namun, butuh proses panjang serta kesungguhan untuk mewujudkannya menjadi kebiasaan, dan menumbuhkannya sebagai tradisi. Kebersamaan dan saling respek dalam GPL dipahami dan tercermin dan sejauh mana masing-masing individu ‘memberikan dirinya’ untuk suatu kesepakatan. Abah mencontohkan prinsip harmoni dalam sebuah orkestra, melalui ‘tugas’ seorang pemain ‘ting-ting’ (triangle) dan pemain piano. Seorang pemain ting-ting, yang dalam partitur hanya memainkan alatnya ‘sesekali’ saja, tak segencar piano, adalah bagian dari kesatuan komposisi. Boleh jadi, pemain ting-ting sekolahnya tidak selama dan sesulit pemain piano. Tetapi bukan berarti ting-ting tak lebih penting daripada piano. ‘Harga’ kedua pemain itu dalam sebuah komposisi orkes adalah sama. Tanpa ting-ting – yang sederhana itu – komposisi yang dimainkan tidak akan menjadi sama ketika mereka memberikan dengan sungguh-sungguh dirinya dan seluruh rasa harmoninya untuk memainkan komposisi itu secara berkelompok. Itulah kebersamaan.

Untuk menghayati kebersamaan, GPL memotivasi seluruh awaknya dengan cara yang unik. Misalnya ungkapan berikut itu, yang diyakini dan disepakati oleh GPL sebagai code of conduct. “Anggota GPL yang melamun dalam latihan dan pementasan sama dengan mengkhianati kebersamaan.” Atau ini: “Ketika dalam intro lagu hanya dimainkan sebuah gitar maka seluruh anggota GPL di panggung juga harus bermain gitar.” Melamun, akan mengurangi ‘kekuatan’ kebersamaan yang akan dipancarkan kepada audiens. Mendukung seorang teman yang bermain gitar dalam intro lagu dengan ‘juga ikut bermain gitar’ adalah menyatukan batin, kesungguhan memberikan diri untuk kebersamaan. Secara sadar dan terencana, kebiasaan itu dipraktekkan dalam setiap latihan dan pentas GPL. Maka itikad untuk mencapai tujuan benar-benar dilaksanakan tak hanya berupa pikiran-pikiran yang baik semata. Melainkan diejawantahkan dalam tekad-ucap-lampah. Fungsi GPL yang dirumuskan Abah: “Dalam soal menyanyi dan bermusik barangkali GPL ‘biasa-biasa’ saja. Namun melalui aktivitas bermusik dan menyanyi, GPL dapat menjadi sesuatu yang memberi inspirasi.” Pikiran-pikiran baik akan berakumulasi menjadi ilmu. Tapi pikiran-pikiran baik yang dipraktekkan akan menjadi sesuatu yang menggetarkan dan lalu menjadi inspirasi.

Pada konser 20 Mei 2012 ini, GPL akan tampil bersama-sama dengan Paduan Suara Mahasiswa (PSM) UNPAD. Inilah kelompok PSM yang berkualitas sangat baik karena telah berkali-kali menjadi juara dalam berbagai Festival Paduan Suara tingkat dunia. Yang paling hangat, PSM UNPAD meraih Juara I pada GRAND PRIX (1er Prix Avec Felicitationts) 48th Montreaux Choral Festival 2012, di Swiss.

Dalam konser itu, PSM  UNPAD bukan menjadi “bintang tamu” melainkan sepenuhnya menjadi bagian dari keseluruhan konser. PSM UNPAD harus “menjadi” GPL – dalam arti masuk ke dalam proses penghayatan latihan ala GPL. Menjelang konser, bagi PSM UNPAD, perkara olah vokal dan kualitas suara pastilah bukan masalah karena mereka para juara tingkat dunia. Yang ingin disentuhkan kepada PSM UNPAD adalam proses latihan (yang meski singkat) ialah nilai dari tradisi kebersamaan GPL. Tradisi kebersamaan itu ialah merasa menjadi “satu tubuh”. Konser itu ialah suatu “tubuh”. Sedangkan kita, adalah bagian saling mendukung, saling menguatkan, saling respek, saling menyayangi. Maka, dalam peristiwa konser itu GPL UNPAD dan PSM UNPAD adalah “tubuh’ dalam dinamika “kehidupan panggung” yang ingin memancarkan ekspresi seni yang baik dan menggetarkan audiens – agar, insyaAllah, menimbulkan inspirasi.

Boleh jadi karena itulah Prof. Ganjar Kurnia berniat menampilkan GPL dan PSM UNPAD pada acara memberingati Hari Kebangkitan Nasional di Kampus UNPAD. Untuk menginspirasi kita bersama tentang pewarisan nilai-nilai serta makna kebersamaan dan persaudaraan. Bisa jadi karena Prof. Ganjarmelihat hal itulah yang mulai hilang dari bangsa kita dan harus dibangkitkan dengan penuh kesadaran: Kebersamaan dan Persaudaraan. Sedangkan untuk konser tersebut kami mencantumkan kredo dalam ungkapan “GPL – UNPAD, 40 TAHUN MENEBAR KEHANGATAN PERSAHABATAN”. Persahabatan yang tulus dan hangat akan melahirkan persaudaraan dan kebersamaan yang hakiki.

Terima kasih.

Salam,

Aat Suratin - Budayawan

Kegiatan GPL UNPAD

Personil GPL UNPAD

Sejarah GPL UNPAD