Musik Memanusiakan Manusia (Pikiran Rakyat, 3/9/2016)
by Subagio Budi Prajitno
Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati

Abah Iwan atau Iwan Abdulrachman, panggilan Iwan Ridwan Armansyah Natadiria yang lahir pada 3 September 1947 mewarisi gen musikal dari ayahnya yang peniup terompet dan ibunya yang suka bernyanyi. Musikalitas Abah Iwan berkembang menjadi khas seautentik kepribadiannya. T Bachtiar menggambarkan fase-fase perkembangan Abah Iwan sebagai musisi, petualangan pecinta alam, aktifis mahasiswa dan warga sipil berkualifikasi tentara komando (“PR”1/9/2016).

Tampilan Abah Iwan berseragam Wanadri sambil menghunus kukri, senjata khas tentara Burkha, adalah salah satu perspektif kepribadiannya. Lukisan Rosid sebagai hadiah ulang tahun itu tidak berlebihan karena sang pencinta alam memang pemberani. Hanya pemberani yang mau bersusah payah menapaki situs-situs alami yang belum atau jarang dijamah manusia. Berapa banyak orang yang mampu melawan rasa letih, lapar, dan dingin yang menusuk tulang? Jangan heran kalau Abah Iwan menjadi anggota kehormatan Kopassus karena kemampuannya dalam survival dan kontrateroris.

Tetapi, siapa sangka, pria gagah berani itu mudah terharu dan meneteskan air mata? Dari mana datangnya sensitifitas Iwan Abdulrachman? Bagaimana pemandangan alam dan manusia mengilhami lirik-lirik lagunya? Bagaimana pula penyanyi dan musisi lain yang membawakan lagunya membuat Abah Iwan gembira atau terharu? Butuh kajian lama untuk memahami proses kreatif dan perkembangan psikologis sang maestro. Pantas saja apabila Syarif Maulana gagal menemukan referensi teoretis musikalitas Abah Iwan hanya melalui googling beberapa hari.

Pada akhirnya bukan hanya Syarif yang sadar, lebih penting mengapresiasi keautentikan kemanusiaan Abah Iwan sebagai musisi daripada repot-repot mengategorikan musiknya “lagu mah keur didengekeun, lain dipikiran”, ujar Abah Iwan mengomentari bahasan Hawe Setiawan, T Bachtiar, dan Syarif Maulana. Semua yang hadir dalam diskusi Forum Asia Afrika (FAA) Kamis kemarin tergelak, mengamini komentar Abah Iwan.
Walaupun Abah Iwan mengejek ketiga pembahas FAA itu, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian secara serius. Pertama, mengapa Abah Iwan tidak popular di kalangan pemuda atau remaja? Namanya juga Abah, sudah tua, pasti tidak imut dan menggoda seperti para penyanyi K-pop, Jazz-pop, atau penyanyi pop lain di barat. Musik pop dan komoditas budaya pop lain merajalela dimana-mana. Lagu-lagu Abah Iwan mana tahan?

Kedua, bagaimana para pemuda Indonesia dan di tempat lain mudah terbius lagu atau musik pop? Proses pendidikan belasan tahun gagal membantu para subjek didik menemukan jati diri mereka sehingga sangat jarang muncul manusia seautentik Abah Iwan, Iwan Fals, atau Iwan Simatupang. Meminjam konsep Alvin Toffler, pendidikan pada era gelombang kedua peradaban memang berniat menjadikan pasukan-pasukan industry yang disiplin, pungtual, dan selaras sistem sehingga menghasilkan kapitalisasi secara efektif dan efisien. Pendidikan pada gelombang kedua peradaban tidak begitu memerlukan orang-orang kritis dan sensitive.

Akibatnya, ketiga, bangsa Indonesia memerlukan strategi kebudayaan yang komprehensif dan kritis untuk membendung globalisasi budaya pop yang mengumpulkan kemanusiaan secara massal. Strategi pengembangan musik nusantara harus menjadi bagian dari strategi baru kebudayaan Indonesia. Sebegitu seriuskah?

Adorno dan Horkheimer, pengusung pemikiran Madhab Frakfurt (Teori Kritis), mengkritik musik yang saya pikir juga analog dengan musik pop sebagai mindless distraction (pengalih perhatian tak berjiwa), pengulangan partitur atau ekspresi vokal dan tarian pada musik pop cenderung membuat pendengarnya terlena. Mabuk. Berbeda dengan musik klasik yang menuntut pendengarnya melakukan penghayatan dengan konsentrasi penuh.

Tentu kita boleh tidak sepaham dengan para pemikir madhab Frankfurt itu. Namun, kita pun sepatutnya kritis terhadap diri kita sendiri dan lingkungan. Sudahkah kita menemukan arah hidup yang benar? Sudahkah kita menerapkan gaya hidup yang benar? Sudahkah kita memperoleh sumber kehidupan secara benar? Beranikah kita memeluk kesepian dalam berintropeksi untuk mencari kebenaran yang benar-benar benar?

Urun rembuk lanjutan tentang musik dan kebudayaan serta integrasinya dalam pendidikan memerlukan kesabaran semua pihak. Musisi seperti Abah Iwan telah memberi teladan kemanusiaan melalui musik dan kegiatan pencinta alam. Pasti banyak artefak, tata perilaku dan sistem pemikiran di nusantara yang patut dikembangkan dan diwariskan. Media massa seperti Pikiran Rakyat telah memainkan perannya sebagai salah satu ruang publik untuk mendialogkan beragam isu publik, termasuk musik.

Tinggal saya dan Anda sekalian wahai para pembaca yang budiman, belajar menjadi pemberani seperti Iwan Ridwan Armansyah Natadiria, 69 tahun. Kakek gaek nan gagah yang piawai memainkan gitar, sensitif menangkap pesan Tuhan melalui alam, musisi yang tidak merasa perlu popular. Selamat ulang tahun, Abah Iwan! Terima kasih atas warisan musik beserta segenap keteladanan Abah. Semoga kita menjadi lebih manusiawi.