Musik Doa Sang “Troubadour” (Pikiran Rakyat, 1/9/2016)
by Syarif Maulana

Dosen Fakultas Komunikasi dan Bisnis Telkom University

Dalam suatu kesempatan ketika memberikan siraman rohani – atau juga semacam orasi budaya – di kampus kami  (Telkom University) pada 2014, Iwan Abdulrachman (Abah Iwan) mengatakan bahwa kurang tepat jika ada yang menyebut dirinya sebagai penyanyi folk atau balada. Ia lebih senang disebut sebagai Troubadour yang Abah Iwan definisikan sebagai “orang yang ngobrol dan bernyanyi, mengelilingi api unggun, di depan teman-temannya”. Pernyataan tersebut mungkin bisa dijadikan dasar mengapa musik Abah Iwan terdengar begitu akrab dan jujur. Oleh karena itu tadi, ia selalu menekankan bahwa saya bernyanyi untuk teman-teman saya.

Upaya membicarakan musik Abah Iwan barangkali malah bisa mereduksi kejujuran melodi dan iringannya yang begitu polos dan tanpa tendensi. Ibarat membedah musik blues yang pada mulanya tampil sebagai ekspresi spontan dari kemurungan para pekerja Afro-Amerika yang tertekan di bawah perbudakan disekitar abad ke-18 dan ke-19. Blues memang kemudian dapat diteoretisasi dengan misalnya penggunaan nada pentatonis dan skema 12 bar yang terkenal itu. Akan tetapi, pemain blues yang hebat selalu dapat lepas dari teori-teori dan menghayati kembali spontanitas dan kemurungan yang menjadi spirit kelahirannya. Artinyaboleh saja dalam tulisan ini kita melakukan teoretitasi atas musik Abah Iwan, tetapi harus selalu ingat bahwa spirit bermusik ABah Iwan adalah yang seperti ia sudah tekankan, saya bernyanyi untuk teman-teman saya.

Gaya bertutur
Dalam penciptaan lagu, sebagian penulis lagu ada yang menulikan lirik terlebih dahulu, sebagiannya lagi ada yang membuat melodi sebagai pijakan awal, sebagian lagi mungkin memulainya dari akor iringan. Mari berimajinasi tentang apa yang Abah Iwan lakukan dalam penciptaan lagu. Di tengah-tengah rehat pendakian gunung atau pun berbagai ekspedisi alam lainnya, Abah Iwan memetik gitar dan bersenandung untuk menghibur teman-temannya. Lagu yang dimainkan tidak selalu yang sudah pernah ditulisnya. Ada yang juga spontan, langsung tercipta di saat itu lewat gumaman-gumaman yang muncul dari refleksi atas alam yang sedang ia tadaburi. Akor iringannya tergolong sederhana. Bahkan, lagu satu dengan lainnya bisa tidak terlalu berbeda. Mungkin hal tersebut dilakukan Abah Iwan agar ia fokus pada pengomunikasian syair, bukan pada kerumitan akor iringan.

Itu sebabnya lagu-lagu Abah Iwan selalu terasa seperti orang yang sedang bicara (baca: ngobrol). Jika ABah Iwan tampil live, terutama jika tampil hanya dengan iringan gitar (yang menjadi maksimal jika ia sendiri yang memainkannya dan bukan orang lain), tidak jarang melodi lagu tersebut ia nyanyikan secara lebih lepas – dengan tempo dan ketukan yang tidak terlalu memikat – agar efek ngobrolnya lebih terasa. Tentu saja, gaya bertutur ini erat kaitannya dengan lirik yang ia tulis, yang memang bersifat naratif – sebagaimana umumnya musik balada.

“Troubadour”
Dalam literatur yang penulis baca, tidak ditemukan kaitan antara Troubadour dengan “menyanyi di depan api unggun, di depan teman-temannya” seperti yang didefinisikan oleh Abah Iwan. Namun jika ditelusuri lebih jauh, akan ditemukan hal-hal menarik seputar Troubadour yang bisa sangat dikaitkan dengan musik Abah Iwan. Troubadour adalah orang yang berpuisi dengan mengutamakan lagu di era abad pertengahan akhir (sekitar tahun 1100-1350) yang umumnya menggunakan bahasa Occitan Lama (bahasa yang sekarang sudah hampir punah, yang dulu berkembang di kawasan Perancis bagian selatan hingga ke Italia). Selain berpuisi dengan menggunakan lagu, fungsi seorang Troubadour juga adalah untuk menyampaikan kabar terbaru kepada les regions voissions atau “daerah terdekat”.

Kemudian, jika mendengarkan melodi dan iringannya secara seksama, justru musik troubadour inilah yang begitu dekat dengan gaya Abah Iwan. Musik troubadour yang bisa kita temukan sedikit saja di antaranya karena sebagian besar sudah punah – terdengar “puitis” juga “sunyi”. Syair umumnya sekuler (menampilkan hal-hal keseharian seperti semangat untuk prajurit yang hendak bertarung atau suami yang cemburu istrinya terus-menerus dipandangi lelaki di sekitar rumahnya).  Tetapi melodi terdengar “spiritual” – mungkin karena nada-nadanya yang panjang, cenderung monoton dan repetitif, yang terkesan seperti orang yang sedang memanjatkan doa. Ditambah lagi, musik troubadour, yang dahulu ditujukan untuk menyampaikan pesan kepada “daerah terdekat”, oleh Abah Iwan ditafsirkan secara bebas sebagai pesan kepada “orang terdekat” atau bisa juga “pesan tentang sesuatu yang dekat”. Mengutip kalimat dari musikolog asal Jerman, Dieter Mack, “apa yang disampaikan dari hati akan juga sampai ke hati”. Musik memang bisa dibedah, dianalisis, dan dipikirkan secara mendalam, tetapi juga yang lebih abstrak di balik itu semua yang tidak bisa digali oleh teori manapun, yaitu niat dan ketulusan. Musik Abah Iwan bisa kita terima, mungkin bukan sekedar persoalan gaya bernyanyinya yang seperti orang bertutur atau kesamaannya dengan musik troubadour abad pertengahan. Musiknya bisa meresap ke dalam sanubari karena ia juga menulis lagu dan menyanyikannya dengan perasaan yang minim tendensi. Konon, Abah Iwan mendapat inspirasi dari gunung-gunung yang ia daki dbunga-bunga yang sepanjang perjalanan ia telusuri. Semua mengalir begitu saja seperti sungai yang ia arungi sepanjang ekspedisi. Mungkin Abah Iwan tidak peduli, apakah musiknya pada akhirnya bernilai rendah atau tinggi. Apakah musiknya bisa dianalisis atau tidak. Ia hanya menyanyi seperti apa adanya seraya mendoakan seluruh alam raya.