Assalamu’alaikum ww

Teman-teman yang baik,

Saya diminta oleh Tempo Institute melalui Endah dan Maya untuk menulis surat kepada teman-teman. Saya betul-betul kebingungan, bahkan sampai berhari-hari tidak berhasil menulis surat itu. Padahal sahabat-sahabat saya mengingatkan bahwa penunjukan untuk menulis surat semacam itu adalah suatu kehormatan. Sungguh saya gelagapan.

Akan tetapi tiba-tiba saya ingat, dulu, lebih kurang 45 tahun yang lalu, ada seorang gadis yang cantik sekali. Saya sangat ingin menulis sepucuk surat cinta tapi tidak pernah berhasil. Lalu kemudian saya menuliskan saja melalui lagu ..! Lagu Flamboyant misalnya yang liriknya antara lain:.…

Senja itu Flamboyant berguguran… Seorang dara memandang terpukau.. dst. Atau satu lagi lagu Melati dari Jayagiri, liriknya antara lain: Mentari kelak kan tenggelam… Gelap kan datang, dingin mencekam… Harapanku bintang kan terang… Memberi sinar dalam hatiku…

Dan, gadis kecil yang dulu itu, sekarang masih sangat cantik dan menjadi nenek dari cucu-cucu saya….

Dan, lagu-lagu itu masih sering dinyanyikan sampai saat ini.

Karena itu saya memilih untuk bercerita tentang lagu saja kepada teman-teman.

Lagu Mentari

Sekitar tahun 1970-an, beberapa kampus perguruan tinggi diduduki oleh kesewenang-wenangan kekuasaannya saat itu. Kami para warga kampus diusir paksa, yang berupaya bertahan diseret dan dipukul dengan popor senjata, dinaikkan ke atas mobil bak terbuka dan dijebloskan ke dalam ruang tahanan.

Namun, karena tidak terbukti tentang adanya niat dan rencana makar, akhirnya kami dibebaskan.

Hal pertama yang kami lakukan setelah dibebaskan adalah kembali ke kampus. Tetapi ternyata kampus masih diduduki, dijaga dengan sangkur terhunus!

Saya dan teman-teman hanya bisa menunggu dan bahkan sampai tidur bermalam-malam di selokan kering di luar pagar kampus tercinta. Dalam peristiwa-peristiwa itulah lahir lagu Mentari!

Mentari bernyala di sini !

Di sini di dalam hatiku….

Gemuruh apinya di sini.. !

Di sini di urat darahku….


Meskipun tembok yang tinggi mengurungku

Berlapis pagar duri sekitarku

Tak satu pun yang sanggup menghalangimu

Bernyala di dalam hatiku ….


Hari ini hari milikku !

Juga esok masih terbentang !

Dan mentari kan tetap bernyala…

Di sini, di urat darahku !!!

Kemudian lagu ini kami nyanyikan bersama-sama, dan kemudian lagu Mentari ini menjadi semacam “lagu perjuangan” bagi teman-teman yang sedang memperjuangkan cita-cita kebaikannya.

Sekarang cerita babak kedua

Saya mempunyai sekelompok sahabat yang bercita-cita untuk mengibarkan bendera kebanggaan “Sang Saka Merah Putih” di tujuh puncak gunung tertinggi di tujuh Benua. Kebetulan saya  sempat ikut dalam beberapa tahapan pendakiannya. Dan, saya bercita-cita untuk menyanyikan semangat lagu Mentari di sana.

Tahun 2010 team ini mulai mendaki gunung tertinggi di Asia Pasifik Region.

Puncak Cartenz di Papua. Saya kumandangkan lagu Mentari di atas Lembah Danau-danau, di ketinggian 4.500 mdpl, di atas lapisan es gletser yang luasnya semakin berkurang, konon, akibat global warming, di bawah embusan angin yang dinginnya di bawah nol derajat celcius.

Mentari bernyala di sini… ! Di sini di dalam hatiku…

Gemuruh apinya di sini…! Di sini, di urat darahku…


Lalu saya nyanyikan juga lagu-lagu lain di tempat itu, tapi hanya sanggup sampai 13 lagu, keburu beku jari tangan, tidak bisa lagi dipakai memetik gitarnya! Konon kata sahabat-sahabat saya, mungkin ini adalah konser tertinggi di dunia! Dan, Mentari dikumandangkan dari sana!

Kemudian dalam menyusun rencana untuk pendakian berikutnya, kami mempelajari tentang Kilimanjaro, gunung tertinggi di Benua Afrika. Ada hal yang sangat menarik bagi saya pribadi berkenaan dengan Kilimanjaro ini. Dalam riwayat, pada tahun 1959, waktu itu sebagian Afrika masih merupakan negara jajahan, ada seorang muda yang bernama Julis Njerere. Konon, dalam suatu sidang di depan anggota parlemen yang sebagian besar terdiri dari golongan penjajah kulit putih, Julius Njerere menyampaikan pidato yang melegenda.

“Kami bangsa Afrika bercita-cita untuk menyalakan lilin kecil nun di sana, di puncak Kilimanjaro…”, Semua orang tertawa mendengar itu. Tapi dengan  tenang ia meneruskan pidatonya: “Lilin kecil yang cahayanya akan menembus batas-batas wilayah tanah milik bangsa kami, milik bangsa Afrika!” Orang2 mulai terdiam… Lalu, dia teruskan: “Lilin kecil, yang cahayanya menumbuhkan harapan manakala keputusasaan sudah menimpa rakyat kami akibat kesewenang-wenangan penjajahan. Lilin kecil yang cahayanya menumbuhkan cinta manakala kebencian sudah merajalela di hati masyarakat kami… Lilin kecil yang menghidupkan dignity, manakala harga diri bangsa kami sudah ter-cabik2 oleh penghinaan keserakahan penajajahan ini…”. Dan, kemudian pada tahun 1961 Tanganyika lahir sebagai negara merdeka!

Membaca riwayat ini saya terilhami untuk mengumandangkan Mentari di puncak Kilimanjaro nanti. Masalah-masalah yang sedang dialami oleh bangsa Indonesia jauh lebih mendalam dari apa yang terjadi di Tanganyika saat itu. Yang dibutuhkan bangsa kita adalah semangat yang seperti cahaya Matahari, semangat memberi bukan menuntut, semangat yang pancaran cahayanya menumbuhkan daya hidup kebaikan kepada setiap warga bangsa.

Lalu masih pada tahun 2010, waktu usia saya menjelang 63, di puncak Kilimanjaro saya kumandangkan Mentari, sambil berdiri tegak di hamparan salju abadi, di ketinggian mendekati 6.000 mdpl, di dalam udara tipis, memegang Sang Saka Merah Putih yang berkibar dahsyat diterpa angin kencang puncak gunung yang legendaris ini!

Mentari bernyala di sini…! Di sini di dalam hatiku..

Gemuruh apinya di sini…! Di sini, di urat darahku… !

Sekembalinya dari Kilimanjaro, saya kumandangkan lagu Mentari ini bersama teman-teman di kampus-kampus, di perkemahan-perkemahan pemuda, dimana-mana, bahkan di halaman masjid atau di acara-acara kantor pemerintah.

Pada 2011, saya naik ke Gunung Rinjani ditemani dua anak yang juga anggota Wanadri dan menantu. Di Puncak Rinjani sekali lagi Mentari dikumandangkan…

Hari ini hari milikku…. Juga esok masih terbentang…

Dan mentari kan tetap bernyala…. Di sini, di urat darahku…!

Ada beberapa teman yang bertanya, mengapa beberapa kata kok berbeda dengan yang diajarkan oleh kakak-kakak di kampus? Di kampus kata-katanya adalah : Mentari menyala di sini, bukan bernyala.

Saya katakana: Bernyala! Bukan menyala.

Menyala itu semangatnya kita menerima yang diberikan, apa adanya. Sedangkan bernyala artinya kitalah yang sengaja menghidupkan apinya. Bahkan, seandainya matahari tenggelam, semangat Mentari yang kita nyalakan akan tetap berkobar di urat-urat darah kita!

Indonesia saat ini membutuhkan semangat Mentari, semangat memberi dari setiap kita. Bukan menuntut. Semangat Mentari yang sinarnya menumbuhkan daya hidup kebaikan kepada setiap orang yang terkena pancarannya. Dengan demikian insya Allah setapak demi setapak, dengan bersama-sama kita akan mampu mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh bangsa ini.

Izinkan saya mengakhiri tulisan ini dengan mengutip kata-kata seorang sahabat saya di Wanadri, DR Ichary Sutrisno. Beliau mengatakan: “Hidup penuh isi, penuh arti !”

Lalu ingin saya tambahkan untuk diri saya dan untuk teman-teman: “Hidup penuh isi, penuh arti, penuh bakti…kepada Tuhan, Tanah air, dan kemanusiaan…”

Terima kasih Endah, terima kasih Maya, terima kasih teman-teman yang baik.

Wassalamu’alaikum ww

*Dikutip dari Buku “Menjadi Indonesia”