Lirik Sang Pengembara (Pikiran Rakyat, 1/9/2016)
by Hawe Setiawan
Kolumnis Lepas, Ketua Lembaga Sunda, Universitas Pasundan

LIRIK datang lebih dulu ke dalam benak saya, ketimbang penciptanya. Sejak remaja sering saya dengar “Melati dari Jayagiri” dan “Flamboyan” melalui Bimbo. “Burung Camar” juga hadir lewat Vina Panduwinata. Waktu mulai kuliah di Bandung pada paruh kedua dasawarsa 1980an, saya ikut menyanyikan Hymne Unpad. Sepeninggal ayah mertua pada awal 1990an, saya mendapat peninggalan berupa kaset album bertajuk “Jangan Bunuh Aku”. Barulah, pada gilirannya, saya sadar bahwa theme song hidup sehari-hari itu lahir dari hati seorang pengembara dari Wanadri, musisi kelana dari Bandung, Iwan Abdulrachman.

Selagi saya menulis, di atas meja ada bundle berisi 49 lirik karya Bah Iwan beserta terjemahannya dalam bahasa Inggris, Perancis, dan Jerman. Teks ini dapat saya baca atas kebaikan kang Titi Bachtiar, geograf kelana dari Bandung. Adapula kaset milik sahabat saya, Tata Kartasudjana dari Wanadri berisi rekaman pementasan solo sang Troubadour. Dalam rekaman itu,  sebagaimana dalam resital lainnya, Bah Iwan melantunkan lagu-lagunya seraya bercerita seputar pengalaman yang melatari proses kreatifnya. Dari kedua sumber itu, saya mafhum bahwa puluhan lirik telah digubah oleh Bah Iwan sejak ia masih berusia 17 tahun. Dan pada umumnya lirik itu tercipta dari pengalamannya sebagai penjelajah rimba.

Lirik, dalam pengertiannya yang umum, tak lain dari sajak pendek berisi revelasi, pengakuan, atau gugatan yang tercetus dari pengalaman personal, sejenis proyeksi dari kesadaran subjektif. Kabut tebal di pegunungan Sumatera yang buyar ditembus kendaraan penjelajah, bisa menimbulkan impresi di batin sang penjelajah tentang ribuan orang yang tersingkir, menjerit, dan mengetuk-ngetuk pintu. Sang penyair, pada gilirannya, dapat melantunkan gugatan hatinya tentang penderitaan sesama manusia. Apa yang tadinya partikular kemudian menyentuh hal yang universal. Apa yang tadinya sunyi, kemudian jadi bunyi. Begitulah, misalnya, “Sejuta Kabut”, dari dasawarsa 1970an.

Sudah lazim jika penulis puisi pada suatu waktu dalam hidupnya memikirkan bidang kerjanya sendiri, yakni puisi. Bah Iwan juga menyampaikan kredonya sendiri mengenai lirik. Coba simak, misalnya, lirik “Pengembara”. Dikatakan bahwa sang pengembara “menulis banyak hal” yang telah dia jelajahi dan mengubahnya jadi lagu. Namun, katanya, ia menulis bukan sekadar buat mendendangkan lagu, melainkan juga buat menyampaikan “kisah tentang manusia”. Dengan kata lain, seni bukanlah untuk dirinya sendiri.
Betapapun, pretensi seperti itu, sudah pasti,  menghadapi masalahnya sendiri, yakni begitu rapuhnya kata-kata. Medium puitik yang disebut kata. Niscaya selalu merupakan kata yang terbatas. Kata-kata dari kamus lalu perlu dipersonalisasi, diolah kembali, diperbarui. Kalau tidak, kata-kata itu akan jadi ungkapan umum, jenis klise atau wajah yang kekurangan darah. Syukurlah, dalam lirik “Tajam Tak Bertepi”, penggubah lirik seperti Bah Iwan sepertinya diselamatkan oleh anugerah lain lagi, bahkan mungkin anugerah yang terbesar, yakni medium musikal. Katanya, apa yang mustahil “tergambarkan dengan kata-kata” kemudian “kuungkapkan lewat nada”.

Memang, “kata” dan “nada” sesungguhnya mustahil dipisahkan. Bahkan, barangkali, pada mulanya adalah bunyi atau suara, musik itu sendiri, baru kemudian kata melanggengkan bunyi itu dalam tata bahasa. Sebelum dibekukan berupa aksara dalam tradisi tulis. Istilah “lirik” itu sendiri, jika kita susuri ke hulunya, niscaya terpaut pada alat musik yang konon disebut lyre dalam kebudayaan Yunani. Dengan demikian, buat saya, “Tajam Tak Bertepi” tidak mendorong perceraian kata dari nada, melainkan justru menegaskan pertautan di antara keduanya. Lagipula,  jalan terbaik buat mengapresiasi lirik karya Bah Iwan adalah mendengarkan bagaimana lirik-lirik itu dilantunkan.

Telinga saya sendiri sangat terpikat oleh “Melati Putih”. Yang liriknya konon digubah sekian tahun, dari 1967 hingga 1970-an. Kata-katanya sering kita temukan dalam hidup sehari-hari di muka bumi. Tidak datang dari jagat antah berantah. Kebersahajaannya mengajak kita menghayati warna putih dan sejuk dari bunga itu, sedemikian rupa hingga hati sang penyair tergetar jadinya.

Sejumlah lirik lainnya terasa mendorong semangat. Patut disebut, misalnya, “Mentari”. Yang dulu pernah dinyanyikan oleh Euis Darliah dan kini dijadikan salah satu lagu andalan oleh masyarakat musisi asal Bandung buat para atlit yang hendak bertandang dalam Pekan Olahraga Nasional. Adapun lagu “Tentara” yang ditujukan kepada golongan yang dikenal baik oleh Bah Iwan sendiri, mengingatkan perlunya memelihara sikap masyarakat. Buat Bandung sendiri, tempat Bah Iwan hidup sehari-hari, ada “Senja di Bandung Utara” yang mengingatkan perlunya kota ini menanam pepohonan.

Dengan segala dimensinya Iwan Abdulrachman, saya kira, adalah juru pantun mutakhir yang membawa pesan dari puncak gunung dan pedalaman hutan. Lirik-liriknya mengetuk-ngetuk hati dan kesadaran kita, entah sampai kapan. Sebagaimana penciptanya diberkati umur panjang, mudah-mudahan lirik-lirik itu akan jadi abadi.