Tuhan ini kami berkumpul
Merenungkan arti hidup kami yang terisi
Sedikit niat bakti
Bagi sesama yang dalam kegelapan

Mengkhidmati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-100 bagi penyanyi Iwan Ridwan Armansjah Abdulrachman atau yang lebih dikenal dengan panggilan Iwan Abdulrachman alias “Abah”, adalah mengkhidmati jati diri bangsa dan Negara Indonesia di tengah-tengah kehidupan arus globalisasi nilai-nilai yang kian deras dan tak terbendung melanda negeri ini, negeri Indonesia tercinta.

“Jika bangsa dan Negara ini tidak mampu mengkhidmati apa dan bagaimana jati dirinya di tengah-tengah arus globalisasi nilai-nilai maka bangsa dan Negara ini tidak punya identitas apa pun di dunia internasional. Berkaitan dengan itu, sudah sewajarnya dalam menghikmati Hari Kebangkitan Nasional yang ke-100 adalah menghikmati kembali apa dan bagaimana potensi bangsa dan Negara ini dalam membangun dirinya di masa kini dan masa depan,” ujar Kang Iwan, begitu ia dipanggil saat tampil di acara “Festival Air Internasional 2008” yang digelar oleh Yayasan Payung Hitam bekerja sama dengan Kedutaan Besar Belanda dan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) di Gedung Kesenian Sunan Ambu Jln. Buahbatu No. 22 Bandung, Minggu (18/5).

Dalam konteks yang demikian itu, Iwan rupanya lebih suka menggunakan kata mengkhidmati daripada kata memperingati. Menghikmati rupanya lebih punya makna karena ia bukan sekedar mengenang Hari Kebangkitan Nasional, tetapi juga menghayati seluruh aspek yang menyebabkan anak bangsa dan Negara ini pada waktu bersepakat bangun dari tidur panjang kebodohan untuk melawan penjajah secara sungguh-sungguh dalam berbagai aspek kehidupan.

Sebelum Iwan, tampil terlebih dahulu pemutaran video art karya Ivana Stojavic dan pembacaan puisi dari penyair Godi Suwarna. Bahkan, sebelumnya didahului dengan upacara bendera merah putih sambil mengumandangkan lagu “Indonesia Raya” karya W.R. Supratman yang dinyanyikan oleh seluruh penonton. Suasana khidmat sangat terasa, apalagi saat Aat Suratin tampil mengemukakan berbagai buah pikiran Iwan tentang pentingnya berbangsa dan bernegara , yang tidak saling darah atas kepentingan apa pun.

Setelah itu Iwan tampil menyanyikan lagu “Jiwa Yang Tenang”, yang salah satu bait dari lirik lagu yang dinyanyikannya itu berbunyi, Kutanyakan asma-Mu kepada bintang/ Kubisikkan rinduku di awan/ Kutitipkan asa hati di celah cahaya bulan/ Bersama angan menjauh perlahan//. Setelah itu disusul dengan beberapa lagu lainnya seperti “Melati Dari Jayagiri” dan petikan lagu di atas yang diberi judul “Doa”.

Penampilan Iwan pada malam itu, selain menguraikan proses kreatif bagaimana dirinya mencipta lagu, juga menguraikan musik apa saja yang selama ini mempengaruhi dirinya dalam berproses kreatif. Musik-musik balada yang datangnya dari Bart sana, pada satu sisi memberikan pengaruh kepada Iwan dalam berkarya. Namun demikian, tentu saja pengaruh itu tidak ditelannya mentah-mentah.

“Lagu-lagu saya kemudian banyak bicara soal renungan hidup, selain mengungkapkan keundahan alam seperti lagu “Sejuta Kabut” dan “Flamboyan”. Lagu “Jiwa Yang Tenang” dan “Dhuha” lebih mengungkap pengalaman religious bagaimana sang makhluk begitu fana di hadapan sang Sang Khalik,” ujar Iwan.

Lirik lagu “Dhuha” yang ditulis dan cipta lagu oleh Iwan pada tahun 2006 itu, antara lain berbunyi, Rembulan memudar/ Dan matahari diam-diam semakin terjaga/ Tersenyum merona di ufuk timur cakrawala// Pesona surya menatapku/ Menyapaku membelai jiwaku/ Oh sang surya menghangatkan ruhaniku/ Dan tiada terasa merebak haru dalam sujudku yang semakin syahdu/ Dan bergetar nada dawai jiwaku memuji-Mu//Duhai Ilahi sering kami lupa mensyukuri semua ini/ oh Ilahi tak terhingga/ sesal kami//

“Apa yang saya nyanyikan ini merupakan akumulasi dari pengalaman batin saya selama hidup di muka bumi. Betapa banyak nikmat Tuhan yang tidak bisa saya syukuri,” ujar Iwan. (Soni Farid Maulana/”PR”)***

Sumber: Pikiran Rakyat, Rabu (Wage) 21 Mei 2008