Hymne Siliwangi digubah di pegunungan Jawa Barat, dituliskan tanggal 11 April 1996, diilhami oleh kata-kata yang menjadi jargon bagi Siliwangi maupun bagi masyarakat Jawa Barat, yang sudah mentradisi, yaitu “Siliwangi adalah rakyat Jawa Barat, rakyat Jawa Barat adalah Siliwangi”. Kata-kata tersebut dirangkaikan oleh para pendahulu Siliwangi untuk menggambarkan hakikat yang sebenarnya jauh lebih mendalam dari sekedar sebuah rangkaian kata-kata.

Akan tetapi kalau itu hanya tinggal kata-kata yang tidak ada kedalaman makna dan kedalaman penghayatan baik bagi prajurit Siliwangi maupun bagi masyarakat Jawa Barat, maka kata-kata itu hanya tinggal sebagai slogan, hiasan mulut dan atribut saja. Saya berusaha untuk mengembalikan ruh dari kata-kata itu dengan merangkaikannya dalam sebuah hymn. Hymne adalah puji-pujian, harapan yang dilagukan terhadap sesuatu hal yang luhur.

Hymne ini terbagi di dalam dua bagian, bagian pertama rakyat Jawa Barat yang menyanyikannya, dan bagian kedua prajurit Siliwangi yang menyanyikannya. Kata-katanya adalah seperti ini:

Tlah terbukti baktimu
Pahlawan negara
Bahkan darahmu tlah tumpah
Di ribaan bumi

Sluruh rakyat jadi saksi
Ikhlasnya baktimu
Rela korban jiwa raga
Bagi nusa bangsa

Siliwangi
Kami bersaksi
Di lindungan Ilahi
Semoga abadi
Rakyat jadi saksi

Rakyat yang merasakan – setidaknya pada saat-saat divisi gabungan dari para prajurit yang ikhlas memberikan jiwa raganya untuk kepentingan nusa bangsa – meng-hymne-kan lagu ini, meng-hymne-kan perasaannya dengan harapan moga-moga keikhlasan itu masih tetap tumbuh secara jelas di hati prajurit-prajurit Siliwangi. Karena dengan keikhlasan itu – dan telah dibuktikan oleh darah dan keringat – maka kehormatan menjadi hak bagi para prajurit dan dicatat di hati rakyat yang senantiasa mendoakannya. Seandainya tidak seperti itu, rakyat yang menyaksikan.

Sehingga pada bagian kedua, adalah harapan dari rakyat semoga para prajurit Siliwangi mengikrarkan nilai-nilai tersebut di dalam jiwanya. Maka dari itu inilah ungkapan harapan rakyat terhadap isi hati dari prajuritnya.

Sekarang bagian kedua Hymne Siliwangi, para prajurit yang menyanyi:

Jejak langkahmu terpatri
Dalam sanubari
Bela rakyat dan pertiwi
Prajurit sejati

Cadu mundur pantang mulang
Bila tak gemilang
Esa hilang dua terbilang
Tekad smangat juang

Adalah harapan rakyat jejak-jejak dan tingkah laku, isi hati para prajuritnya akan dicatat, jejak langkahmu terpatri dalam sanubari rakyat, sanubari ibu-bapaknya, sanubari anak-anaknya, sanubari saudara-saudaranya, saudara dari para prajurit Siliwangi, bapak dan ibu dari para prajurit Siliwangi. Jejak langkahmu terpatri dalam sanubari KAMI.

Dan kata prajurit, “hati-hati tentang catatanmu itu”. Jejak langkahmu terpatri dalam sanubari. Bela rakyat dan pertiwi. Prajurit sejati.

Prajurit Siliwangi menyatakan dengan tenang “Cadu mundur pantang mulang bila tak gemilang.” Leber wawanen artinya DENGAN PENUH KEBERANIAN DAN KEYAKINAN MELAKSANAKAN TUGAS DEMI KEPENTINGAN NUSA DAN BANGSA.

Kemudian para prajurit meneriakkan:

Siliwangi
Kami berjanji
Sapta marga jiwaku
Rakyat jadi saksi

Lalu bersama-sama dengan rakyat menyanyi bait terakhir:

Semoga abadi.