Terpujilah kau dewi kemerdekaan
Yang disujudi putra negara
Dikhidmatkan kau dengan nyanyian pujaan
Abadi, mulia, mulia raya

Terpujilah kau dewi sanjungan bangsa
Yang kami junjung yang kami sanjung
Dimuliakan kau seluruh Indonesia
Di pantai di lembah di lembah dan gunung

(Hymne Kemerdekaan - Cipt. Ibu Sud)
Kemerdekaan kita semoga abadi, mulia dan raya.

Lagu ini ditulis oleh Ibu Sud, sebagai suatu ungkapan kebahagiaan atas terbebasnya kita dari penjajahan. Ayah saya (alm.) bercerita di Bandung utara terdapat satu kolam renang yang airnya jernih dan kolamnya indah. Namun di jaman penjajahan Belanda saat itu di gerbangnya terdapat tulisan besar, “ANJING DAN INLANDER DILARANG MASUK!”

Inlander itu adalah kita! Orang Sunda, Jawa, Sumatera, Maluku, Papua, Kalimantan, Sulawesi, dll. Seluruh bangsa Indonesia.

Setelah proses tahun 1908, kemudian tahun 1928 – suatu proses yang panjang, tiba-tiba dengan proklamasi itu Soekarno-Hatta menyatakan kemerdekaan kita. Dan kemerdekaan itu diakui oleh dunia luas. Sungguh sebuah hadiah yang sangat berharga yang seringkali kita lupakan. Betapa hebatnya peristiwa 17 Agustus 1945!

Abadi, mulia, mulia raya..

Kita dibebaskan dari penghinaan martabat seperti anjing. Dan itu HANYA BISA TERJADI KARENA KITA BERSATU. Inlander-inlander yang bersatu, kemudian diakui oleh dunia internasional.

Namun kebersamaan itu seringkali kita abaikan. Kita mengira bahwa kita bisa merdeka andaikata kita berpisah, masing-masing satu sama lain. Padahal terdapat dalam satu ayat kitab suci yang menyatakan, “Kuciptakan engkau berkaum-kaum untuk saling mengenal.” Dan kaum Indonesia pun ditakdirkan lahir pada tanggal 17 Agustus 1945.

Ibu Sud mengabadikan kebahagiaan itu dalam lagu ciptaannya, Hymne Kemerdekaan.
Rasa syukur pun harus kita ungkapkan saat ini, ungkapan syukur terhadap peristiwa dan pengorbanan dari orang-orang terdahulu yang menyebabkan kita bisa menikmati kemerdekaan sekalipun masih dalam berbagai kesulitan. Dirgahayu Republik Indonesia!

(Mari Bung Rebut Kembali! 8-11 MetroTV 17 Agustus 2011)