Dalam legenda Yunani, hutan itu diibaratkan dengan dewi, Dewi Sylva, yaitu dewi yang menguasai hutan. Saya dan teman-teman dulu sangat menikmati tinggal dan berkemah di hutan, menjelajahi hutan. Akrab dan hangat sekali. Yang memeluk kita, yang mendekap kita itu sebetulnya adalah hutan itu sendiri.

Lagu Melati Dari Jayagiri yang lahir tahun 1968 di bulan Maret, oleh teman-teman seringkali hanya ditafsirkan sebagai lagu cinta. Walaupun memang pada waktu lagu itu terlahir melalui saya – melodi dan  liriknya, atmosfirnya pada usia itu saya memang sedang jatuh cinta.

Tetapi sebetulnya tema dari lagu Melati Dari Jayagiri adalah tentang hutan itu:

“Mungkinkan akan tinggal kenangan?”

Pada waktu lagu itu terlahir, belum jamannya mengenai konservasi hutan, ataupun masalah lingkungan hijau. Belum. Orang belum berbicara tentang itu. Tetapi saya berpikir hutan-hutan sudah mulai ditebangi, dan dalam perenungan saya, mungkinkah akan tinggal kenangan.
Itulah ide pokok dari lagu Melati Dari Jayagiri.

Lalu ada pesan dalam refrain lagu itu, bahwa dalam kehidupan:

Mentari kelak kan tenggelam
Gelap kan datang
Dingin mencekam

Dalam kehidupan kita sebagai manusia, tidak selamanya akan terang benderang. Namun kalau kita sedang melalui kegelapan, janganlah berputus asa. Kalau dalam keadaan gelap malam, lihat saja ke langit, barangkali ada bintang di sana.

Harapanku bintang kan terang
Memberi sinar dalam hatiku

Saya selalu mengatakan pada teman-teman dan juga diri saya sendiri, “Lihat saja ke langit! Barangkali ada sinar… Bintang memang tidak sehangat matahari. Tetapi harapan yang tumbuh karena sinarnya bintang itu membuat kita kuat menunggu matahari esok terbit.” Yang saya maksud sebetulnya, supaya orang jangan putus asa di dalam hidup ini.

Sekarang semua orang bicara tentang lingkungan, karena memang sudah waktunya. Karena lingkungan itu bukan hanya masalah para pencinta alam, atau ilmuwan, tetapi masalah setiap manusia.

Di tahun 1968 wacana itu belum ada. Tetapi dalam salah satu undang-undang Wanadri, yang dijadikan sebagai pegangan code of conduct, dicantumkan bahwa “Wanadri itu wajib menjaga keutuhan alam, beserta seluruh isinya”. Bisa kita lihat di tahun 1964, ketika pertama kali Wanadri berdiri, kami sudah berbicara tentang lingkungan.

Sebuah pertanyaan tercetus dalam lagu Melati Dari Jayagiri, “Mungkinkah hutan-hutan ini akan tinggal kenangan?”

Jawabnya tertiup di angin lalu

Artinya semua terserah kita. Apakah kita mau menjadikan hutan itu sebagai kenang-kenangan saja, sudah lewat dan tidak ada lagi. Atau kita mau untuk tidak pernah putus asa. Seribu pohon ditebang sewenang-wenang, sepuluh ribu kita tanam terus dan terus!

Rasulullah SAW dalam satu hadits mengatakan, “Bahkan jika besok akan kiamat pun, seandainya ada biji kurma di tanganmu, maka tanamkanlah itu.” Jadi itu lah yang seharusnya menjadi sikap kita terhadap alam hijau.

Karena itulah tadi, liriknya sebetulnya menggugah semangat, tanpa berkoar. Lagu Melati Dari Jayagiri mencakup banyak hal. Sudah lebih dari empat puluh tahun orang masih menyanyikan lagu itu. Sebuah lagu yang evergreen, klasik, abadi, digaungkan terus menerus.  Ini karena tema dari lagu itu bukanlah tema yang kontemporer ataupun sesaat. Tetapi universal dan mendasar.