”Cemara menderai sampai jauh, terasa hari akan jadi malam…” Itu kata penyair Chairil Anwar dalam puisi ”Derai-derai Cemara”. Di halaman rumah Iwan Abdulrachman, belasan cemara dan pinus menderai sepanjang hari. Alam serasa bernyanyi bagi Iwan, penggubah lagu ”Flamboyan” dan ”Melati dari Jayagiri” itu.

Belasan pohon cemara dan pinus itu berbaris di halaman rumah Iwan Abdulrachman (61) di bilangan Cigadung, Bandung, Jawa Barat. Jika angin bertiup, cemara si pohon ramping yang daunnya halus langsing itu akan berdesir-desir. Di telinga, desir cemara itu terdengar bagai lagu merdu. Ah, persis lagu anak-anak ”Cemara” karya AT Mahmud yang mengajak kita dekat dengan alam itu.

”Apalagi kalau malam sepi, pohon-pohon itu seperti bernyanyi, kayak simfoni,” kata Iwan atau Abah Iwan panggilannya, yang menemui kami di bangku kayu di halaman yang teduh.

Ketika angin lalu di ketinggian, pucuk-pucuk cemara itu berderai lembut. Kala angin merendah, gantian pohon bambu berderai-derai. Waktu angin kencang berembus, cemara, bambu, dan pepohonan lain riuh menyambut angin. Saat angin mereda, sayu-sayup terdengar nyanyian burung tekukur jauh di ketinggian pohon.

Rumah Iwan yang ditinggali sejak tahun 1978 itu bagai berada di pangkuan mesra sebuah hutan kecil. Tanah seluas 5.000 meter persegi itu rimbun ditumbuhi aneka pepohonan, termasuk mangga, jambu air mawar, avokad, aren, hujan emas, sakura, berbagai tanaman rambat, dan tentu saja cemara dan pinus.

”Kalau pagi ada embun di halaman. Kalau malam kunang-kunang datang. Kunang-kunang itu katanya indikator udara bersih,” kata Iwan sambil mengajak kami memasuki salah satu rumah yang ia tempati bersama istrinya, dokter Tetet Djanuarsih.

Dinding rumah terbuat dari bata tanpa plester hingga teksturnya terlihat jelas dan memberi kesan ramah alami. Teras samping rumah bertirai tanaman yang menjalari atap. Hampir seluruh genting rumah itu diselimuti dedaunan dari tanaman yang oleh orang Bandung disebut konghia. Daun-daun itu menutupi kaca-kaca lubang cahaya dan menjadi semacam peredam sinar matahari. Suasana di dalam rumah pun menjadi sejuk dan segar karena oksigen dipasok langsung dari dedaunan.

Tanaman rambat itu ternyata berpangkal dari dalam rumah, tepatnya dari sudut kiri ruang tamu. Iwan membuatkan celah pada dinding untuk tanaman itu agar menjalar keluar. ”Tanaman ini sudah ada sebelum rumah ini dibangun tahun 1978. Saya biarkan saja dia tumbuh.”

Iwan lalu mengajak kami menaiki tangga kayu menuju lantai atas rumah yang berlantai kayu. Karena kontur tanah yang berundak, lantai atas rumah itu sejajar dengan permukaan tanah pada sebagian halaman. Di lantai atas itu ada teras terbuka, tanpa atap.

”Ini tempat favorit saya. Kalau malam saya suka duduk di sini melihat langit, bintang-bintang, bulan, dan kunang-kunang,” kata bapak lima anak dan kakek dari empat cucu itu.

Bersama alam

Iwan membangun empat unit rumah. Salah satunya ia sebut sebagai workshop . Di tempat ini ia menyimpan perlengkapan yang biasa digunakan kelompok penjelajah alam Wanadri di mana Iwan adalah salah seorang sesepuhnya.

Dalam membangun rumah Iwan menganut pandangan hidup menyatu dengan alam. ”Rumah jangan menjadi benda asing di alam lingkungannya. Perasaan menjadi bagian dari alam itu harus dipelihara terus-menerus,” kata Iwan yang bergabung dengan Wanadri pada tahun 1964.

Hidup bersama alam adalah lebih dari sekadar mencintai alam. Pada sikap mencintai alam, kata Iwan, masih terkandung unsur egoisme. ”Kalau kita merasa menjadi bagian dari alam, tingkat kesadaran kita untuk memelihara alam lebih tinggi. Ada kesadaran kalau tak ada pohon kita bisa mati.”

Pohon-pohon itu menjadi penangkap air yang baik. Nyatanya air di rumah Iwan mengalir bersih segar. Kesadaran hidup bersama alam juga terlihat dari kesengajaan Iwan menanam pohon salam karena buahnya digemari burung gelatik batu dan kutilang. Ia sengaja tidak banyak menanam tanaman buah karena buah bisa dibeli di pasar dan ikut menggerakkan ekonomi rakyat.

”Dengan menanam banyak pohon berdaun saya bisa memberi oksigen gratis kepada tetangga.”

Pohon cemara dan pinus yang berdaun jarum itu dipilih Iwan karena selain teduh, daun cemara membuat udara bersih. Itu mengapa, katanya, cemara banyak ditanam di sanatorium tempat penyembuhan orang berpenyakit paru-paru.

Selain itu, rumah di bawah rimbun cemara dan pinus itu merupakan impian bawah sadar Iwan sejak kecil. Ia sering diajak ayahnya, ahli botani Abdulrachman Natadiria, untuk berkemah di hutan pinus dan cemara. ”Setelah tua ternyata saya berumah di bawah pinus dan cemara.”

Source: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/15/02424472/cemara.bernyanyi.untuk.abah.iwan
KOMPAS - Minggu, 15 November 2009 | 02:42 WIB
by FRANS SARTONO & NINUK M PAMBUDY

Photo 1 courtesy of Kompas.com