Formagz.com - Para penyuka musik mungkin akan hafal setiap kata dari lirik yang disenandungkan oleh sang penyanyi pujaannya. Namun, apakah mereka tahu makna dari baris kata yang mereka nyanyikan?

Hal itulah yang tak terjadi ketika seorang Iwan Abdurachman bernyanyi, bukan hanya menghibur melalui lantunan musik dan suaranya, ia juga banyak bercerita mengenai proses kreatif di balik pembuatan lagu serta mampu menjelaskan makna di balik lirik lagu yang ia nyanyikan.

Bertempat di Bale Sawala, kampus Unpad Jatinangor, Sabtu (31/03) akhir minggu kemarin. Para audience diajak untuk menyimak dan mengapresiasi sebuah pagelaran musik dari seorang alumnus Unpad Ir. Iwan Abdurachman yang diundang secara khusus oleh istrinya sendiri, Januarsih Iwan Abdurachman, sebagai pengisi acara Apresiasi “Prestasi, Organisasi, dan Kreasi”.

Sebelum memasuki acara apresiasi, audience diajak untuk terlebih dahulu masuk ke dalam suasana Indonesia Raya dengan dipandu oleh kang Aat Suratin. Sebuah hal wajib yang dilakukan oleh Iwan Abdurachman sebelum melakukan pentas agar suasana kebersamaan dalam satu Indonesia itu dapat timbul.

Selanjutnya, Iwan Abdurachman yang biasa disapa dengan sebutan abah Iwan membuka acara dengan lantunan lagu Duha, sebuah lagu yang yang tercipta agar kita menyadari bahwa dibalik satu hal buruk, masih banyak hal baik lainnya yang terjadi di sekitar kita.

Berturut-turut kemudian abah Iwan menyanyikan beberapa lagu yang pernah ia dengar dari koleksi bung Karno pada jamannya, lagu dengan lirik yang tidak cukup familiar di telinga orang Indonesia tersebut ia nyanyikan dengan lantang  “nyanyi bari kata-katana teu ngarti, yang penting semangat dalam menyanyikan lagu” ujar pria yang pernah membuat band bersama putra sulung Ir. Soekarno tersebut.

Lagu-lagu pembakar semangat itu juga sering ia nyanyikan bersama Grup Pecinta Lagu (GPL) Unpad yang telah melegenda, “bayangkan 40 orang bersama-sama menyanyikan lagu ini” tuturnya ketika lagu masih berjalan, dan, bukan hanya sekali dua kali ia menghentikan petikan gitarnya di tengah lagu untuk menceritakan makna lagu yang telah dan akan ia nyanyikan.

Lagu abah Iwan lainnya yang sempat dibawakan kala itu adalah lagu Burung Camar, lagu yang dipopulerkan oleh Vina Panduwinata, dan pernah mendapatkan penghargaan dalam World Populer Song Festival in Tokyo pada tahun 1985. Berbeda dengan versi yang sudah sering kita dengar selama ini, kali ini Burung Camar  dibawakan abah Iwan dengan versi berbeda, dan menurutnya itu merupakan versi asli dari si Burung Camar.

Pria yang telah matang dalam menjalani kehidupannya itu sempat juga menyanyikan lagu Mentari, sebuah lagu yang tercipta atas perjuangan para mahasiswa di era Orde Baru pada kisaran tahun 1978. Banyak sekali inspirasi dari kehidupan abah Iwan yang tersalurkan melalui lagu-lagu yang ia nyanyikan. Namun, secara rendah diri ia menuturkan bahwa kedatangannya kala itu hanya untuk berbagi “saya datang untuk ngobrol, bukan memberi inspirasi” tegas pria yang telah lama bergaul dengan alam dan telah menginjakan kakinya di Kilimanjaro pada tahun 2010 lalu ini.

Memang kecintaan pria ini terhadap alam sudah tidak dapat ditampikkan lagi bahkan ia juga sempat bernyanyi kala itu mengenai bagaimana alam telah mengajarkan hidup  “Gunung-gunung dan lembah telah mengajar kita tentang keindahan hidup di alam terbuka, mempersatukan jiwa kita bagaikan saudara, tebing-tebing yang curam telah mengajar kita tentang keteguhan hati dan keberanian mempersatukan jiwa kita bagai saudara” senandungnya.

Selain komposisi lagu tersebut abah Iwan juga sempat menyanyikan lagu Seribu Mil Lebih Sedepa, yang ia dedikasikan untuk orang-orang yang telah meninggalkannya dan untuk semua orang yang sedang rindu akan seseorang. Warga kehormatan kopasus ini juga bercerita melalui salah satu lagunya yang berjudul Balada Seorang Prajurit.

Lagu selanjutnya yang dinyanyikan abah yaitu Almamater, dengan mengganti kata Almamater menjadi Indonesia ia mengharapkan sebuah kebanggaan dan bakti bukan hanya untuk almamater melainkan untuk bangsa ini juga.

Secara klimaks acara inipun ditutup secara khidmat dengan persembahan terakhir Hymne Unpad. Lagu hasil gubahan abah Iwan ini mampu membuat seluruh audience bernyanyi dan mengingatkan kembali kepada setiap orang yang hadir kala itu bahwa dalam dirinya terdapat sebuah hutang untuk mengabdi kepada masyarakat.

photos by. Indra Nugraha