Abah Iwan atau Iwan Abdulrachman yang lengkapnya Iwan Ridwan Armansjah Abdulrachman adalah putra Abdulrachman Natadiria. Laki-laki yang lahir di Sumedang 3 September 1947 ini sejak kecil sudah menyenangi rimba belantara.

Bahkan, sejak dalam kandungan pun Iwan sudah naik turun gunung. Itu karena keterpaksaan karena orang tuanya harus mengungsi dari Bandung ke Ciparay dan ke Sumedang. Hingga akhirnya ia terlahir di daerah tersebut.

Iwan berekspresi di Wanadri yakni organisasi penempuh rimba dan pendaki gunung tua di Indonesia.

Saking aktifnya di organisasi tersebut hingga ada ungkapan bahwa Wanadri adalah Iwan, dan Iwan adalah Wanadri. Dalam organisasi ini ia adalah sosok pemimpin dan sekaligus orang tua yang berwibawa.

Jiwa petualangnya berpadu dengan gandrungnya terhadap seni musik. Untuk yang satu ini, ia telah memulai sejak masih duduk di sekolah dasar. Kemudian di sekolah menengah ia mulai mengikuti beberapa festival musik.

Kemudian, setelah menginjak dunia kampus, Iwan menyalurkan bakat musiknya dalam sebuah grup musik yang disebut Grup Pecinta Lagu atau GPL pada 1971.

Di grup itu ia membawakan lagu-lagu pribumi dan lagu-lagu kerakyatan dari berbagai negeri. Seperti Havanashira (lagu rakyat yahudi) dan Henematov (Afghanistan).

Bersama GPL, sosok yang pernah mengenyam pendidikan dan latihan Basic Counter Terorism di USA ini memasukkan unsur balada dalam dawai gitarnya. Bahkan ia mampu menjadi pionir di kalangan muda pada masanya dalam bermusik yang bernafas kerakyatan, alam dan cinta.

Insinyur Pertanian ini besar dalam keluarga yang menyenangi musik. Gitar yang dimilikinya pada waktu masih kanak-kanak adalah pemberian sang nenek. Gitar inilah yang dikatakan sang ibunda sebagai gitar butut.

”Ya, gitar itu pemberian nenek,” kenangnya.

Iwan kecil adalah seorang anak yang nakal. Akan tetapi kenakalan itu dibarengi dengan keseriusannya bermain musik dengan alat musik gitar.

Kata para sahabatnya, Iwan adalah sosok pemberani termasuk kepada binatang buas. Hanya satu yang ditakutinya yakni ulat. Dengan hewan yang satu ini. Iwan takut bukan kepalang (itu dulu, sekarang sudah tidak takut lagi – red).

Tidak kurang dari 20 lagu karyanya yang tenar lewat kelompok musik Bimbo.

Kini, meski telah berusia 60 tahun, Iwan masih terus berkarya dengan menikmati indahnya alam di sekeliling rumahnya sembari menumang cucu dan mendekapnya dalam dadanya yang masih terlihar kekar.

Source: Khalifah, Edisi 83, Th IV, 13 Maret- 26 Maret 2008, 5 Rabi’ul Awal – 18 Rabi’ul Awal 1429 H