….aku tidak takut mati bukan karena mati itu sendiri, tetapi takut bahwa sebelum sempat aku memberi makna bagi hidup ini, mati telah menjemputku, sehingga hidupku sia-sia…
—Iwan Abdul Rachman, Pangkalpinang 12 Mei 1992.

Abah Iwan mula-mula saya kenal secara sepihak ketika ia menjadi pemain band Aneka Nada Junior di Bandung pada 1960-an. Waktu itu saya adalah pelajar SMA yang kantongnya pas-pasan, sehingga bisa menonton pertunjukan musik hanya atas ajakan teman atau dengan membayar separo harga, dan Iwan adalah pementas di atas panggung.

Suatu saat pada awal 1970-an, di kampus Unpad, berlangsung pertandingan sepakbola antarmahasiswa: Pertanian melawan Ekonomi. Iwan, sebagai jagoan Pertanian dan senior pula, ikut menonton. Begitu pula saya, sebagai mahasiswa Ekonomi junior tapi bukan jagoan, menonton pertandingan itu. Di tengah pertandingan, sempat terlontar teriakan mengejek dari kubu bobotoh Ekonomi. Tiba-tiba, tampil seorang pemuda kekar ke tengah lapangan. Ia menantang di hadapan kerumunan tempat ejekan itu terlontar. Tak satu pun bersuara, dan peristiwa itu pun berlalu. Kang Omay, jagoan Ekonomi dan rekan Iwan sesama anggota Wanadri, setelah itu berbisik dalam bahasa Sunda, “Iwan mah lain lawaneun euy. Kokodna gé sarua jeung bitis urang (Iwan sih bukan tandingan kita. Tangannya saja sebesar betis kita)”.

Begitulah Iwan, penganut kental kesetiakawanan kelompok sejak muda.

Pada 1970-an pula saya mengenal Iwan melalui cerita sahabat saya, Indra J. Rivai, yang sempat bergabung bersama Iwan dalam Grup Bimbo. Iwan dan Indra pada gilirannya tak lagi bersama Grup Bimbo, meninggalkan misteri, berlalu tanpa cerita, tanya, atau jawab. Ketika diminta ikut menulis untuk buku kecil HUT Bimbo yang ke-40, yang dirayakan pada 22 Agustus 2007, keterlibatan Abah Iwan, Indra dan Dudud saya tuliskan tanpa beban, walau dalam bab Perjalanan Kreatif buku itu – boleh jadi sang penyunting buku khilaf – kedua sahabat ini urung tercantum. Namun, ada foto dokumenter Grup Bimbo lengkap bersama Abah Iwan, Indra dan Dudud, sementara Melati Dari Jayagiri dan Flamboyan terungkap dalam tulisan Imam Prasodjo.

Perkenalan berlanjut, masih melalui cerita Indra, ketika kedua sahabat itu mengembangkan Grup Pencinta Lagu (GPL) Unpad. Mayoritas awak grup musik itu adalah mahasiswa Pertanian, sedangkan Indra adalah mahasiswa Ekonomi, minoritas tapi kemahirannya bergitar dan bermain organ, jadi andalan. Kegiatan mereka berkkisar di sekitar kesetiakawanan, kegarangan, kecintaan pada alam, yang diekpresikan melalui musik dan nyanyian; tentang ladang kegiatan Abah Iwan yang beragam:pendakian gunung, pengembaraan hutan, silat, terjun payung, menyelam, dan banyak lagi hobi atau perjalanan hidup yang butuh ketabahan dan keberanian nyaris tanpa batas. Sayang, GPL menghilang ditelan masa, boleh jadi karena tidak melahirkan GPL-GPL muda.

Ketika itulah, lagu Mentari memasuki relung hidup.

Perkenalan langsung dengan Abah Iwan baru terjadi tahun 1987an melalui Abah Kuntoro, atasan saya dan ternyata mereka bersahabat, sesama Wanadri. Perkenalan itu terjadi di Tanjung Enim, Sumatera Selatan (PT Tambang Batubara Bukit Asam). Ia mampir dalam perjalanan darat dari (atau menuju?) Medan.
Pada kesempatan terpisah secara khusus Abah Iwan sempat membakar semangat para petinggi tambang melalui lantunan lagu dan petikan gitarnya. Beberapa kali kami bertiga berdiskusi tentang upaya mengubah perilaku, menerjang kebiasaan buruk, tentang ketabahan dan bela bangsa, tentang menyebarkan virus nilai-nilai lama yang pudar, dan nilai-nilai baru yang niscaya, untuk bermuara pada sumbangan ikhtiar membangun bangsa.

Mentari kembali, dan sejak itu perkenalan mulai akrab.

Ketika kami pindah ke Bangka (Abah Kuntoro mengajak saya bergabung di PT Timah), Iwan pun hadir beberapa kali menyirami proses perubahan dengan bentuknya yang khas, pupuk motivasional tentang ketabahan, harapan dan keberanian, tentang hidup dan mati, tentang hidup yang bermakna. Bahkan, dengan kalimat berbeda, makna lagu Detik Hidup, menjadi kalimat awal Buku Panduan Budaya Kerja Timah, dikutip dari penjelasan di sela-sela pertunjukan. Sempat muncul gagasan melahirkan ‘anak’ GPL di Bangka , kendati pun layu sebelum sempat berkembang semata-mata karena tidak ada ‘Iwan-Iwan’ lain di Bangka.
Mentari tetap ada, sekarang dilengkapi Detik Hidup.

Ketika saya menjadi bagian dari sebuah lembaga yang jadi harapan sebagian besar masyarakat, namun mengandung banyak tantangan dan ancaman, Iwan hadir dengan pencerahan tentang orang insyaf yang harus ditunjukkan jalan ’… pintu yang sejuk menunggumu…’, dan tentang disiplin sebagai tonggak utama organisasi .. ’egaliter itu sah, tapi jangan lupa hierarki…’., dan ’… jangan lupa akar …’.
Ia pun nampaknya sepakat, memberantas korupsi adalah mengibas kabut pekat kemiskinan dan keterbelakangan, menarik bangsa ini menuju kaum bermartabat.
Mentari dan Detik Hidup kembali berdengung, kali ini ditemani Sejuta Kabut.

Tahun lalu ia menggelar pertunjukan beberapa kali di berbagai tempat, antara lain di Gedung Serbaguna Senayan, dan bersama Indra kami menikmati dari awal sampai usai. Sekali waktu ia mampir ke kantor, hanya untuk memberi tahu bahwa ia akan menempuh jalan darat menuju Aceh yang sedang tertimpa musibah. Lain waktu ia menghubungi saya lewat telepon sekadar untuk bertanya apakah ada yang harus ia lakukan untuk melawan siapa pun yang mengancam, bila ada; itulah ekspresi aktual kesetiakawanan Iwan yang dikenal kental oleh sahabat-sahabat, dan ’saudara-saudaranya’ sesama anggota Wanadri, teman-temannya sefakultas/sealma-mater, sesama pesilat, penerjun, dan banyak lagi.

Betapa kesetiakawanan itu menunjukkan empati.

Mengenal Iwan memberikan pemahaman lebih dalam akan rangkaian kata dalam lagu-lagu gubahannya yang sarat makna, lebih dari sekadar menikmati gabungan kata dan nada. Penganut kedisiplinan, kesetiakawanan, romantisme hidup dan ketabahan.

Lirik dalam lagu Mentari, misalnya, yang berbunyi ‘…meskipun tembok yang tinggi mengurungku, berlapis pagar duri sekitarku, tak satu pun yang sanggup menghalangiku, bernyala di dalam hatiku…‘ jelas menunjukkan semangat mencintai ketabahan dalam hidup, dan seruan untuk tak mudah putus harapan .*)
Itulah sosok Iwan yang enerjik dan hidup, pengelana pemuja nilai-nilai keksatriaan, kepatriotan, ketabahan, sikap jantan. Ia memaknai rentang ekstrim antara kegarangan dan kelembutan, semuanya ia persembahkan kepada keluarga, lingkungan, alam sekitar, dan bagi bangsa.
Memang lagu-lagu dan figur Abah Iwan menyajikan pengalaman yang sarat bermuatan harapan, menghadirkan optimisme, mencerahkan masa depan sekaligus menyadarkan kesementaraan.
Dari (lagu) Abah Iwan, banyak orang menemukan hidup, menemukan harapan, dan merasa perkasa menghadapi tantangan masa depan, serta menghayati nilai-nilai religi, kemanusiaan dan kelembutan.
Sebagaimana komentar Ambu Yanie: Abah Iwan sangat religius, humanis, santun, mendengar lagu-lagunya serasa kita turut mengalaminya.

Kita boleh berharap, ’Mentari’ menyinari ’Detik-detik Hidup’ seraya mengibaskan ’Sejuta Kabut’ ditemani ’Melati-melati’, ’Flamboyan’, ’Anggrek’ dan ’Mawar’, seraya mencermati ’Tapak-tapak’ ’Tajam Tak Bertepi’ menuju mati – insya Allah tanpa kesia-siaan.

Abah Iwan, teruslah berkarya, melahirkan karya atau Iwan-Iwan baru.

Semoga sayap harapan, sayap keksatriaan, sayap optimisme, sayap kelembutan, sayap hidup yang bermakna, sayap ketabahan, sayap kesadaran tentang mati, senantiasa berkelepak di langit damai kehidupan bangsa ini. Amin.

Selamat ulang tahun ke 60 sang Troubadour, Sang Penutur Hidup.

Utan Kayu, 3 September 2007

Catatan penting:
Terima kasih kepada Ambu Yanie sang isteri, kepada Vincentia Hanni sang pemberi inspirasi, kepada sahabatku Indra, sang penggali memori, kepada saudaraku Hawe Setiawan, sang penyunting.

*) Lagu Mentari jadi nada panggil telepon genggam saya, tentu berlangganan resmi dari penyedia jasa telekomunikasi, jadi bukan ‘korupsi’ Bah …