Bumi merana dan makin merana. Gunung dipotong dan digaruk, lereng dicabik, gersang tak bervegetasi, hutan digunduli, sungai sarat dengan beban lumpur erosi dan sampah, mendangkal, meluap di musim hujan dan kering di musim kemarau, sawah retak-retak tak berair, awan kelabu menyelimuti desa, kota dan villa-villa di pegunungan. Ibu Pertiwi menangis. Menangisi putra-putrinya yang mengetahui dan sadar sedang meracuni diri-sendiri, anak dan cucunya dengan limbah pembakaran sampah dan bensin kendaraannya. Namun mengingkari pengetahuannya itu dan membenam kesadarannya. Menangisi balita yang perkembangan IQ-nya terhambat, pemuda-pemudinya yang menginjak dewasa terancam kenaikan kelakuan kriminalitasnya, putera-puterinya pada fase reproduktifnya yang menghadapi risiko kenaikan keguguran, bayi lahir cacat dan disfungsi ereksi oleh timbal dalam limbah gas knalpot kendaraan bermotor. Menangisi kebanggaan putera-putrinya pada kendaraan bermotor dan memamerkannya sebagai simbol sosial dan sukses. Menangisi putra-putrinya telah menjadi budak kendaraan bermotor yang mendikte kelakuan mobilitasnya dengan menggunakannya dengan sangat irasional dan tidak efisien. Menangisi putra-putrinya yang merasa mobilitas bergeraknya dari satu tempat ke tempat lain telah naik, tetapi tidak menyadari menurunnya dengan drastis mobilitas gerak tubuhnya yang sehari-harinya berjam-jam terpasung duduk di dalam mobil dan di atas sadel motor yang mengancam meningkatnya obesitas dan penyakit jantung koroner. Menangisi petaninya yang tergusur oleh pabrik, jalan raya dan pemukiman baru tanpa mendapat jalan keluar dari kemiskinannya, memaksanya merayap ke lereng-lereng bukit dan gunung untuk berladang, membanjiri kota-kota untuk menjadi pedagang PKL, pengamen dan pengemis. Di kota dikutuk sebagai biang keladi penyebab kesemrawutan dan kekumuhan kota. Di gunung di kejar-kejar, dicap sebagai perambah hutan negara. Mereka tak ada pilihan lain.

Kondisi negara serba kelabu dan gelap. “Tragedi ini telah kulihat, sewaktu maut tiba-tiba datang bersama air lumpur yang gemuruh melanda dahsyat di desa itu.” (Tragedi). Demikian Abah Iwan bercerita. Ia merindukan pohon cemara di Bandung Utara. “Kapankah senja di Bandung Utara penuh dengan cemara?” (Senja di Bandung Utara). Beruntunglah, dalam situasi yang sulit ini kita mempunyai seorang Abah Iwan yang dengan lagu-lagunya yang merdu dan liriknya yang menyentuh hati mengingatkan kita untuk mengagumi alam dan mencintai Ibu Pertiwi. Alam adalah indah. “Dan bila musim bunga tiba, melati bersemi, putih dan sejuk, bening berseri, bergetar di sudut hatiku.” (Melati Putih). “Angin pun jadi lagu. Lagu tentang musim bunga.” (Musim Bunga). Hutan tidaklah untuk kita takuti. Dengan jenakanya ia bercerita tentang anak Tarzan. ”Walau ayahku seperti Tarzan, dia penuh kasih sayang. Hidupku berkecukupan riang dan gembira. Ibuku putri rimba. Titisan dewi cahaya. Kesayangan rembulan. Ia cantik sekali.” (Anak Tarzan). Ia menganjurkan untuk mengenal dan berbakti pada tanah air kita. “Mengembaralah engkau demi tanah air. Sumbangkan darma baktimu.” (Mars Pengembara). “Kuberjuang penuh tekad demi nusa dan bangsa. Dingin hening dan sepi di daun angin berbisik. Hai kelana tabahkan hatimu. Tuhan slalu besertamu.” (Balada Seorang Kelana). “Wanadri penempuh rimba dan pendaki gunung, jauhnya dari kampung menurut kata hati, guna bakti pada ibu pertiwi.” (Api Unggun).

Abah mengajarkan untuk tidak berputus asa. Angin yang menaburkan bunga “Flamboyant yang berguguran, berjatuhan dan berserakan ….. Esok lusa bersemi kembali.” (Flamboyant). Membawa harapan baru. Betapa pun kelamnya alam. “Berhembus badai di hati. Kelam dan sendu. Badai kan reda. Langit kan cerah. Tegak .. Tegaklah .. Tegak.” (Bulan Merah). Demikian ia berseru. Tak ada tempat untuk berputus asa. Dia mengingatkan kita untuk tidak lupa, suatu waktu kematian pasti menjemput kita. “Detik-detik berlalu dalam hidup ini. Perlahan tapi pasti menuju mati. Kerap datang rasa takut menyusup di hati. Takut hidup ini terisi sia-sia” (Detik Hidup). Mengingatkan kita untuk tidak takut dan berdoa agar mendapat tuntunan Allah SWT mengisi detik-detik kehidupan agar tidak sia-sia. Dia mengingatkan untuk membangun generasi baru yang akan meneruskan perjuangan kita. “Melayang jauh. Melayang jauh di awan. Membawa benih yang putih. Melayang jauh di awan. ….. Melayang jauh tinggi di awan. Dan lalu jatuh di cakrawala. Dan pohon baru tumbuh perlahan. Diiringi lagu-lagu.” (Pohon Randu). Ia mengingatkan kita pada akar yang tidak nampak, “Yang diam-diam masuk merunduk dalam tanah. Tersembunyi dari cerita dan lagu.” (Akar). Terlupakan, meskipun akar pemberi makan dan kehidupan. Bak kiasan bagi petani miskin kita yang menghidupi kita, tetapi tergusur dan banyak terlupakan.

Abah membangkitkan semangat juang kita untuk membela dan berbakti pada Ibu Pertiwi. Menjadi “Insan abdi masyarakat, pembina nusa bangsa.” (Hymne Universitas Padjadjaran). “Cadu mundur pantang mulang. Bila tak gemilang. Esa hilang dua terbilang. Smangat tekad juang.” (Hymne Siliwangi). “Mentari menyala di sini, di sini di dalam hatiku, gemuruh apinya di sini, di sini di urat darahku. Dan mentari kan tetap menyala. Di sini di urat darahku.”(Mentari). Ia mengingatkan, “Tentara berasal dari rakyat dan berbakti untuk kepentingan rakyat. ….. Membela negara. Dan membina bangsa. Menuju bahagia. Bangga bernegara.” (Tentara). Dia sangat prihatin pada perang. Perang yang masih berulang mencabik-cabik negara kita. “Di padang sepi bertebaran mayat-mayat kering … dingin. Mengapa ini terjadi? Mengapa perang terulang? Mengapa harus berulang?” (Langit Yang Sepi).

Petikan gitarnya dan nyanyiannya diselingi dengan narasi yang mengetuk hati. Dia bernarasi: “Kita tak dapat hidup tanpa oksigen. Pohon adalah pabrik oksigen. Tebanglah pohon, kita pun akan mati. Kurangilah penggunaan kendaraan bermotor untuk mengurangi konsumsi oksigen dan produksi zat pencemar. Berjalankakilah dan bersepedalah untuk perjalanan jarak pendek.”

Abah. Selamat ulang tahun ke-60. Kami doakan agar Abah berumur panjang, sehat kuat, tidak menjadi jompo, tidak pula menjadi pikun, agar Abah dapat terus berjuang, berbakti kepada Nusa dan Bangsa. Mengajar kita untuk mengenal dan mencintai alam. Mengingatkan, mendorong dan memberi inspirasi kepada kita untuk menegakkan NKRI menjadi negara yang adil dan makmur di bumi pertiwi yang indah, hijau, semerbak wangi oleh bunga-bungaan, dipayungi langit biru pada siang hari dan bintang bertebaran pada malam hari. Mendorong kita untuk tidak berputus-asa bergulat dan berjuang menghadapi dan merawat negara yang sedang sakit dan terluka. Kami doakan pula agar Abah sekeluarga sehat, bahagia dan sejahtera. Amin, Ya Robbal Alamin.

Bandung, 3 September 2007

Aki Otto dan Eni Idjah Soemarwoto