Pertunjukan ini untuk menghikmati Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh Senin (5/6/2006).

Di sebuah ballroom Hotel Hyatt Bandung yang cukup megah, Sabtu malam (3/6/2006), terdapat panggung yang cukup kontradiktif.
Karena panggung pertunjukan itu justru terlihat seperti hutan karena berbagai bibit tanaman, menghiasi segala penjuru panggung dari mulai pohon jati sampai pohon rambutan. Cahaya pun diredupkan.

Tiba-tiba, panggung yang mirip hutan belukar itu pun seketika semarak oleh pertunjukan anak berusia delapan tahun sampai 14 tahun yang tergabung dalam Jendela Ide Kids Percussion membuka pementasan Iwan Abdulrachman yang sering disapa Abah Iwan itu.

Suasana ’hutan’ itu menjadi lebih semarak lagi ketika Iman Soleh melanjutkan pementasan tersebut dengan membaca puisi berjudul ’Air, Burung, dan Nenek Moyang’. Puisi yang bertema perjalanan hidup manusia dalam mencari makna kehidupan itu pun membuat sekitar 700 penonton larut merenungkan puisi yang sarat makna itu.

Penampilan Abah iwan bukan hanya menarik perhatian orang seusianya saja. Segala usia, dari mulai anak-anak sampai orang tua hadir pada pertunjukan yang digelar dalam rangka menghikmati Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh Senin (5/6/2006) dengan mengambil judul pertunjukan Kabar Dari Gunung. Karena, lagu-lagu yang dibawakan kebanyakan mengenai alam dan lingkungan. Yaitu dari mulai pohon, bunga, angin, dan sebagainya seolah-olah Abah yang dikenal sebagai tokoh Wanadri itu benar-benar turun dari gunung untuk menghilangkan dahaga batin penggemarnya.

Sebelum Abah Iwan mulai memainkan senar-senar gitarnya, sebuah video klip yang menampilkan profil Abah Iwan ditampilkan. Abah yang menggunakan jas dirangkap kaos oblong dan celana gunung itu pun, akhirnya memulai pertunjukan bertajuk Konsolidasi Batin dengan membawakan lagu ’Sejuta Kabut’.

Suara merdu dari pria kelahiran Sumedang 3 September 1947 itu seketika membius penonton. Tokoh-tokoh Bandung yang hadir pun ikut merenungkan lagu pembuka yang dibawakan Abah. Selain Ketua DPRD Jabar HAM Ruslam, Konsolidasi Batin itu pun dihadiri oleh Pimpinan Ponpes Daarut Tauhid Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) dan mantan Gubernur DKI Jakarta dan Mendagri Suryadi Sudirja.

Ditengah-tengah lantunan ’Sejuta Kabut’ yang bercerita tentang kedukaan yang luar biasa tapi masih memiliki harapan itu, tiba-tiba Abah menghentikan lagunya. Menurut Abah, sebenarnya pada saat panitia mengatakan akan meneruskan pertunjukkan ini, dirinya keberatan. Boro-boro (jangankan) untuk bernyanyi, memegang gitar saja kalau ingat ada sekitar enam ribu orang korban gempa dirinya tidak sanggup. Namun, kata Abah, pada lirik ’Sejuta Kabut’ itu diceritakan, meskipun berkabut, pada saat datang matahari, kabut itu pun akan hilang.

”Setelah meminta pendapat dari berbagai pihak, akhirnya pertunjukan ini dilaksanakan. Namun, formatnya diubah bukan hanya pertunjukan untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup tapi lebih pada perenungan terhadap lingkungan. Pertunjukan ini, konsolidasi batin bukan hura-hura,” ujar Abah yang kemudian melanjutkan syair ’Sejuta Kabut’ yang terpotong.

Lagu kedua dibawakan Abah Iwan yang masih ditujukan untuk perenungan Gempa Yogya berjudul ‘Simfoni Pohon Bambu’ yang bercerita tentang penderitaan ribuan anak kecil yang ditinggalkan orang tuanya. Setelah itu, lagu yang cukup terkenal seperti lagu ‘Flamboyan’, ‘Melati Putih’, dan ‘Detik Hidup’ dinyanyikan dengan gaya khas Iwan.

Seolah-olah ingin berdialog dengan penonton dan mempertegas pesan yang ingin disampaikan pada lagunya, setiap di tengah-tengah lagu iwan selalu berhenti bernyanyi. Makna lagu yang dibawakan dijelaskan satu per satu. Sesekali, perkataan bijak Iwan tentang kehidupan pun dilontarkan. Misalnya, pada saat Iwan mengatakan keprihatinannya mengenai sampah yang menumpuk di kota Bandung. Iwan menilai, hal itu terjadi bukan hanya karena kesalahan Walikota Bandung tapi seluruh masyarakat harus ikut bertanggung jawab. ”Kita harus mengembangkan rasa persaudaraan, mencintai lingkungan harus ditumbuhkan pada semua orang bukan hanya tanggung jawab pemerintah,” tutur Iwan.

Pertunjukan Iwan, memang berbeda dengan yang lain karena dalam setiap lagu Iwan selalu berkomunikasi dengan pengapresiasinya. Delapan belas lagu pun, tanpa terasa dari pukul 08.00-23.45 WIB dibawakan yang membuat semua orang yang menyaksikan pertunjukannya memperoleh pencerahan dalam hidup. Meskipun, terkadang apreasiasi penonton sedikit terganggu pada saat asyik menikmati suara merdu Iwan harus terhenti seketika. Karena, harus mendengarkan penjelasan Iwan.

Namun, itulah uniknya konser Iwan yang sangat komunikatif dan ingin agar pesan dalam lagu yang dibawakannya benar-benar dihayati. Seolah-olah tidak mau pertunjukannya berhenti, penonton selalu meminta Iwan bernyanyi terus pada saat pertunjukan akan diakhiri. Pertunjukan pun, akhirnya berakhir dengan serbuan dari penonton ke depan panggung untuk mengambil 500 bibit tanaman yang dibagikan secara gratis, atas sumbangan dari Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Majalengka. – kie

Source: Republika – Warna, Selasa, 6 Juni 2006