Mentari menyala di sini

Di sini di dalam hatiku

gemuruhnya nyala di sini
di sini di urat darahku…

Meskipun tembok yang tinggi mengurungku
Berlapis pagar duri sekitarku
Tak satu pun yang mampu menghalangiku
Menyala di dalam hatiku

Hari ini hari milikku
Juga esok masih terbentang
Dan mentari kan tetap menyala
Di sini, di urat darahku

(Lagu Mentari versi mahasiswa ITB)

Lirik lagu “Mentari” di atas bagi aktivis mahasiswa ITB tidaklah asing, karena kerap dilantunkan di saat demo ataupun saat kegiatan orientasi kampus (OS). Namun , tak banyak yang mengenal sang penggubah lagu ini. Seperti lagu-lagu perjuangan mahasiswa ITB lainnya, entah kenapa tak jarang nama pengarang aslinya tidak muncul dalam buku saku mahasiswa. Lagu mentari ini biasa di tulis sebagai ”Mentari 1” karena ada lagi lagu “Mentari 2” dengan lirik dan nada yang jauh berbeda. Lagu yang biasa dilantunkan mahasiswa ITB ini dapat dilihat di link ini :http://www.youtube.com/watch?v=yvGy9mBy0_s

Abah Iwan saat hadir di Seminar tentang Kepanduan di PPS-UI 3 Juni 2010

Saya sendiri mengetahui ihwal pengarang Lagu Mentari ini jauh setelah mengenal lagu ini (1994). Pastinya saya tidak ingat, namun sempat menyaksikan di televisi oleh Abah Iwan beberapa tahun kemudian.

Tapi tahukah anda ternyata lirik lagu yang asli digubah Abah Iwan ini berbeda dari yang sering dilantunkan mahasiswa ITB. Abah Iwan, dengan nama lengkap Ir.H.Iwan Ridwan Armansjah Abdulrachman bercerita di dalam buku “Senandung Merdu Rimba Raya : catatan para Sahabat tentrang Iwan Abdulrachman”, yang diterbitkan oleh Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga tahun 2010.

Berikut ini adalah versi asli Mentari gubahan Abah Iwan:

Mentari bernyala di sini
Di sini di dalam hariku
Gemuruhnya apinya di sini
Di sini di urat darahku

Meskipun tembok yang tinggi mengurungku
Berlapis pagar duri sekitarku
Tak satu pun yang sanggup menghalangimu
Bernyala di dalam hatiku

Hari ini hari milikku
Juga esok masih terbentang
Dan mentari kan tetap bernyala
Di sini di urat darahku

Abah Iwan menggubah lagu Mentari ini di tengah-tengah kondisi kampus di Indonesia yang memanas. Di latar belakangi peristiwa tahun 1977, yang saat itu para mahasiswa menolak pencalonan kembali Soeharto sebagai Presiden. Soeharto dianggap membodohi rakyat karena kabijakan-kebijakannya yang dinilai tidak pro-rakyat dengan kebijakan utang luar negeri serta proyek pembangunan Taman Mini Indonesia Indah. NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan) diberlakukan oleh pemerintah saat itu dengan alasan untuk menjauhkan gerakan mahasiswa dari politik praktis ternyata dilakukan dnegan cara menempatkan militer di kampus-kampus. Tidak terkecuali di ITB.

Diberlakukannya NKK/BKK ini merupakan pukulan berat bagi mahasiswa. Dewan Mahasiswa (DM) seluruh Indonesia dibubarkan, dan para aktivisnya dimasukkan ke dalam penjara. Peristiwa pengambilalihan kampus ini tak pelak membuat Iwan gerah dan lahirlah lagu Mentari untuk mengobarkan semangat dirinya dan kawan-kawan mahasiswa yang berjuang kala itu. Iwan sendiri saat itu sudah lulus kuliah di Fakultas Pertanian UNPAD (1975).

Dalam buku tersebut diceritakan bahwa menurut Iwan, penjara tidak akan membatasi kita bila jiwa kita tetap menyala seperti mentari. “Mentari adalah bentuk metafora dari semangat kita,” ujarnya.

Buku “Senandung Merdu Rimba Raya”

Semangat yang bukan hadir karena memang sudah ada dengan sendirinya tetapi semangat yang muncul karena adanya kemauan dan tindakan untuk menyalakannya. Sehingga Iwan menggunakan imbuca ‘ber’ pada kata ‘bernyala’. Iwan tidak menggunakan imbuhan ‘me’ karena seseorang harus menumbuhkan semangatnya untuk menghadapi tantangan.

Gara-gara lagu yang menyemangati mahasiswa itu Iwan sempat masuk penjara. Lagu ini sering ia nyanyikan bersama rekan-rekannya di Wanadri. Rupanya oleh mahasiswa-mahasiswa ITB yang juga anggota Wanadri , lagu ini diperkenalkan sebagai lagu perjuangan mahasiswa ITB.

Dalam buku itu Iwan menyayangkan adanya perubahan dalam lirik lagu Mentari (silahkan lihat dan bandingkan kedua lirik lagu Mentari). Dalam Mentari versi ITB kata “bernyala” diganti “menyala”. Kata “menghalangimu” diubah menjadi “menghalangiku”. Menurut Abah Iwan, kata “menghalangiku” pada Mentari versi ITB menjadi tidak pas, sebab manusia dapat dihalangi, tetapi api semangat tidak.

Abah Iwan sendiri, tulis buku itu, tidak berkeberatan dengan mentari versi ITB yang seolah-olah menjadi milik mahasiswa ITB. “ Begitu lagu itu dinyanyikan oleh orang, bukan milik saya lagi. Meski secara administratf dan secara hukum mungkin milik saya. I don’t care, saya nggak peduli”, tegas Abah. Baginya, semakin banyak orang menyanyikan lagunya, semakin berguna dirinya untuk orang lain.

Nah, sekarang tinggal kalangan mahasiswa dan alumni ITB sendiri, seberapa besar mereka menghargai Abah Iwan. Semoga mereka bisa memberikan penghargaan yang layak untuk Abah Iwan, minimal menyanyikannya Mentari sebagaimana aslinya.

Wallahu a’lam.

Dikutip dari: http://sekonugroho.com/?p=22