BANDUNG,(PR).-

Angin yang meresik mengusap dedaunan di lereng gunung di utara Bandung. Raksi rerumputan, gulita dan dinginnya malam, serta bintang-gemintang di bumantara, spiritnya meresap pada seorang kelana yang berkemah seorang diri di Hutan Jayagiri.

Dalam keheningan, suara alam terdengar jernih, dan langit begitu banglas. Semua yang dilakoninya, yang dirasakannya, dipikirkannya, mewujud dalam perilaku, tindakan, dan karya. Lirik lagu Iwan Abdulrachman merupakan gubahan suara alam raya, hasil dari perenungannya saat dalam keheningan semesta.

Semangat penjelajahannya yang semakin meruap-ruap saat berangkat dewasa, tak lepas dari pengalaman yang membekas pada masa kecilnya. Iwan dikelilingi oleh banyak keteladanan yang menjadi contoh nyata dalam kehidupan. Dalam kesehariannya, Iwan Ridwan Armansjah Natadiria melihat contoh nyata keteladanan orang tuanya. Ayahnya tidak banyak menasihati anak-anaknya untuk mencintai alam. Namun, sejak usia belia, Iwan dan saudaranya selalu diajak ayahnya, Abdulrachman Natadiria untuk menjelajah, mendaki gunung, menembus belantara Bandung Utara.

Kepanduan menempanya hingga remaja. Pembinanya menjadi contoh yang baik bagaimana berkegiatan di alam terbuka. Metodenya sama, tidak banyak menasihati dengan kata-kata bagaimana cara menghilangkan rasa takut yang mencekam menjelang malam di arena perkemahan, Iwan kecil masih ingat, bagaimana pembinanya bersama anak-anak disibukkan dengan berbagai kegiatan, memasang tenda, menyalakan api unggun, dan menyiapkan makan malam. Dengan cara itu, menghadapi kegelapan malam yang dibayangkan amat menyeramkan menjadi tidak terasa. Berkegiatan di malam hari menjadi kegiatan yang menggembirakan,tidak terasa malam sudah larut, dan harus segera beristirahat.

Kegiatan bersama keluarga dan di kepanduan terpatri dalam sanubari, menjadi bagian yang melatari kegiatan Abah Iwan selanjutnya. Tahun 1964, saat masih kelas dua di SMAN 2 Bandung, pemuda Iwan mengikuti pendidikan Wanadri angkatan pertama bersama 24 orang lainnya, dengan nama angkatan Singawalang-Srikandi. Kegiatannya, kesibukannya terus bertambah, namun berguru dan berlatih silat Bandarkarima kepada Aki Muhidin tak pernah ditinggalkannya.

Setiap akhir pekan, ia sering melakukan perjalanan seorang diri, merasakan suasana malam yang dingin dan hening, kemudian mengendap menjadi rasa, yang membawanya pada pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang hidup dan kehidupan. Tempaan fisik dan mental yang tinggi, memengaruhi bagaimana cara memandang persoalan dengan jernih. Sekuat apapun tekanan, seberat apapun rasa gamam, selalu ada doa dan harapan, Tuhan selalu menyertai, seperti dalam lirik dan lagu yang digubahnya saat masih SMA, Balada Seorang Kelana (1964), berikut ini:

Keheningan alam di tengah rimba sunyi

Kuberjalan seorang diri sbagai seorang kelana

Kudambakan jiwaku padamu oh Tuhanku

Kuberdoa sepenuh hati smoga tercapai tujuanku


Kuberjuang penuh tekad demi nusa dan bangsa

Dingin, hening dan sepi di daun angin berbisik

Hai kelana tabahkan hatimu

Tuhan slalu besertamu

Situasi politik Indonesia mulai memanas. Lulus SMA tahun 1965, Iwan Abdulrachman melanjutkan kuliah di Fakultas Pertanian Unpad, lulus tahun 1975. Saat menginjak tahun kedua di Unpad (1967), Iwan mengikuti pendidikan Para di Sekolah Para Komando Pusdik RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat, sekarang Kopassus) di Batujajar. Tak ada pengecualian, dalam pendidikan itu semua peserta diperlakukan sama seperti lazimnya pendidikan untuk para komando. Selepas dari Batujajar dilanjutkan pendidikan terjun bebas di Semplak, Bogor, tahun, 1967.

Tempaan fisik dan mental selama di kepanduan, di Wanadri, dalam pendidikan para komando, di perguruan silat Bandarkarima, dan dalam pendidikan lanjutan di luar negeri, semuanya menjadi jangkar, menjadi penyeimbang bagi tegaknya kapal kesetiaan pada negara, ketika terjadi badai di lautan perpolitikan saat itu. Inilah yang telah mematangkan pengalaman fisik, kejiwaan, dan kedalaman perenungan, yang oleh Iwan Abdulrachman digerakkan, digeser, diubah menjadi spirit untuk berkarya. Selama dua puluh tahun, antara 1967-1987 menjadi periode keemasan bagi Abah Iwan dalam menggubah lirik-lagu. Lebih dari 30 lirik-lagu terlahir pada periode ini dari jumlah 53 lirik-lagu yang digubahnya.

Pada suasana kejiwaan yang ganar antara “cinta” dan “perjuangan”, penghayatan Iwan Abdulrachman terhadap alam dan perenungannya tentang alam dan kehidupan semakin dalam, maka, digubahlah lirik-lagu Anggrek Merah (1967), Melati Putih (1967), Melati dari Jayagiri (1968), Flamboyan (1968), Bulan Merah (1968), AKar (1968), dan Angin November (1968).

Kegiatan sebagai mahasiswa bukannya berkurang, malah semakin banyak dan semakin padat, karena berbagai kegiatan itu diciptakannya, Iwan aktif di PMB (Perhimpunan Mahasiswa Bandung), di Damas (Daya Mahasiswa Sunda), di Grup Pencinta Lagu (GPL) Unpad (1972), dan menjadi pelatih di Wanadri. Pada tahun 1970-1974, terpilih menjadi ketua Wanadri selama dua periode.

Akhirnya, pada tahun 1975 Iwan Abdulrachman lulus menjadi sarjana pertanian. Pada tahun itu pula Iwan Abdulrachman bekerja di Fakultas Pertanian Unpad, lalu menikah dengan gadis pujaannya dr Djanuarsih Sariawati.

Kegiatan sebagai mahasiswa sudah berakhir, namun kegiatan di luar ruangan terus digelutinya. Pada tahun 1976 menjadi anggota Parachutist Club Indonesia, dan pada tahun yang sama Ir Iwan Abdulrachman terpilih sebagai pemuda berprestasi harian umum Kompas.

Pada tahun 1978 menjadi asisten dosen, namun merasakan situasi politik yang kurang nyaman. Tirani memanfaatkan tentara untuk menekan dan menduduki kampus-kampus di Bandung. Pada saat itulah Iwan menggubah lirik-lagu Mentari.

Setiap lirik-lagu yang digubahnya merupakan hasil perenungan yang seirama dengan pengalaman nyatanya. Tahun 1985, Ir Iwan Abdulrachman mengikuti pendidikan Mud Engineer untuk pengeboran lepas pantai. Inspirasi lirik Burung Camar didapat saat bekerja di rig, sumur minyak lepas pantai di Laut Jawa. Lirik ini sesungguhnya menceritakan ironi. Sebagai insinyur lumpur, Iwan merasakan tidak pernah kekurangan makanan, bahkan berlebih selama bertugas di atas rig. Bila ada makanan sisa dalam jumlah yang banyak, aturannya tidak boleh dibawa, apalagi diberikan kepada orang lain. Sementara di dekat sana, di tengah Laut Jawa, ada seorang tua yang sudah tiga malam terayun gelombang, mungkin belum memperoleh ikan, atau bahkan belum makan.

Lirik-lagunya menceritakan tentang hidup dan kehidupan, sehingga pesannya terasa selalu baru, bahkan melegenda, seperti lagu Melati dari Jayagiri, Flamboyan, dan Burung Camar. Inilah lirik-lagu yang digubah oleh Abah Iwan: Balada Seorang Kelana.

Balada Seorang Kelana (1964)

Api Unggun (1964)

Anggrek Merah (1967)

Melati Putih (1967)

Melati Dari Jayagiri (1968)

Detik Hidup (1967)

Flamboyan (1968)

Bulan Merah (1968)

Akar (1968)

Angin November (1968)

Senja di Bandung Utara (1969)

Mawar Terbiru (1970)

HYMNE WANADRI (1970)

Do’a (Januari Kelabu) (1971)

Musim Bunga (1971)

Cerita Buat Orang Yang Lupa (1971)

HYMNE UNPAD (1971)

Nada yang Terbening (1971)

Tajam Tak Bertepi (1971)

Virgin in Bali (1971)

Almamater (1972)

Indragiri (1975)

Anak Tarzan (1976)

Harap Kau Tahu (1976)

Kau (1976)

Kau Memang Milikku (1976)

Jangan Bunuh Aku (1976)

Tapak-tapak (1976)

Randu-randu Kering (Pohon Randu) (1976)

Sejuta Kabut (1976)

Hymne Universitas Mulawarman (1976)

Pengembara (1976)

Mars Pengembara (1970-an)

Surat (1976)

Seribu Mil Lebih Sedepa (1976)

Langit yang Sepi (1976)

Tentara (1976)

Mentari (1978)

Balada Seorang Prajurit (1980)

Tragedi (1981)

Jiwa yang Tenang (1984)

Lagu Pujaan (1985)

Burung Camar (1985)

Lembayung Senja (1986)

Nyanyian Langit (1987)

Hymne Universitas IBA (1993)

Hymne Siliwangi (1996)

Madah Rasul (2001)

Duha (2006)

Prajurit Garuda (2006)

RSHS Tercinta (2008)

Tragedi

Salihara

Lirik-lirik yang digubah Abah Iwan itu merupakan saripati kehidupan, doa, katalis, cermin, api penyemangat, dan pengingat. Lirik-lagu Akar (1968), misalnya. Bagaimana hidup harus seperti akar, tersembunyi, yang bekerja dalam senyap, namun akarlah yang menyerap makanan dari tanah untuk tumbuhnya pohon, hijaunya daun, dan mekar mewanginya bunga.

Sebagai akhir tulisan ini, saya kutipkan pesan Abah Iwan yang sering dikatakannya, bahwa setiap orang mempunyai perannya masing-masing. Oleh karena itu, jadilah dirimu sendiri dengan sebaik-baiknya. Abah Iwan berpesan, “Kalau kau bukan pohon besar yang tegak di puncak bukit itu, jadilah semak-belukar penahan erosi yang tumbuh di lereng-lereng. Jika kau bukan semak-belukar itu, jadilah saja rumput-rumput yang memperkuat tanggul pinggir jalan. Jika kau bukan jalan besar yang ramai itu, jadi saja jalan kecil, bahkan jalan setapak, yang membawa orang haus ke mata air.”

Selamat ulang tahun yang ke-70, Abah Iwan. InsyaAllah jalan yang sedang Abah tempuh itu berkah.

(T Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung)***