Di Gedung Serba Guna Senayan, di belakang Hotel Atlit – Jakarta, pada malam 28 April 2006, ada yang istimewa. Iwan A. Rachman, penggubah lagu Flamboyan yang pernah diledakkan oleh Trio Bimbo di tahun 70-an, muncul kembali. “Ini konser keenam Abah, setelah lama berdiam diri,” kata Aat Suratin dari kelompok seni Rumah Nusantara Bandung, yang memandu acara sambil mengenakan blankon Sunda.

Konser pertama di komunitas kami, Rumah Nusantara, lanjut Aat, tetapi yang kedua dan berikutnya di pantai di depan ombak dan langit serta pasir, tanpa didengarkan oleh manusia. Kemudian di kawah gunung yang juga hanya disaksikan oleh lembah, batu, pasir. Selanjutnya di dalam hutan di tengah kesunyian di antara pepohonan.

“Walaupun tak seorang pun yang hadir, saya bernyanyi seakan-akan berada di depan banyak penonton yang sesungguhnya,” kata Iwan kemudian menambahkan, “Herannya setiap kali menyanyikan Sejuta Kabut, kemudian kabut datang dan pada akhir konser entah darimana burung-burung muncul dan bernyanyi seperti memberikan aplus.”

Gedung yang biasanya untuk kawinan itu, penuh. Padahal tidak ada publikasi, hanya dari mulut ke mulut, dari sms ke sms. Di antara penonton nampak Profesor Otto Sumarwoto, kelompok Leo Kristi, Iwan Fals, Gito Rollies, Miing, Didi Petet, dan sebagainya.

Abah Iwan, begitu sekarang pendekat silat, dedengkot Wanadri, dan pelatih Kopassus itu biasa dipanggil, muncul menyandang ransel dan gitar. Kepalanya plontos, tubuhnya kekar tetapi air mukanya segar dengan senyum lebar dan kumis tebal. Tetap sederhana, bersahabat, namun percaya diri dan menguasai seluruh ruangan, ia mulai dengan menyampaikan tegur-sapa yang lucu.

Iwan mengaku malam itu merasa mendapat kehormatan karena kedatangan banyak tamu penting. Ia menyebut Iwan Fals yang sama-sama lahir 3 September tapi lain tahun. “Iwan itu salah nama,” kata Abah, “harusnya saya yang bernama Fals dan dia bernama Iwan merdu!”

Semua lagu dari 28 lagu yang dinyanyikannya malam itu, adalah lagu-lagu yang sudah menancap dalam sejarah dan hati penonton. Bagai paku yang sudah menusuk dalam, ketika tercabut kembali, setiap penonton tak dapat menahan diri untuk merintih dan ikut menyanyi. Sebagian kenangan mereka seperti terburai lagi keluar. Iwan adalah penggubah lagu yang jempolan.

Tak ada yang keberatan mendengarkan suara Iwan yang lumayan pas-pasan. Ia memang tak berniat untuk memerdu-merdukan suaranya. Lurus saja, tak digetar-getarkan, tetapi sedemikian terjaganya sehingga tak pernah patah atau keseleo. Ia memiliki teknik pernafasan yang hebat dan sangat jago berkelit, sehingga tak pernah mengambil nada yang salah. Setiap nada yang kemudian keluar ditelusurinya, seperti aliran sungai yang menembus bukit. Tak ada pemaksaan, yang ada penyiasatan yang cerdik.

Lalu kita merasa, bahwa menyanyi bukan hanya membuka mulut, tetapi juga berhitung, bersiasat. Di mana emosi dikentalkan, diencerkan, kapan suara menanjak dan cepat, di mana harus mengelak, meliuk dan kemudian menyerang lagi. Keahlian Iwan di dalam mempergunakan tenaga, potensi, kelebihan dan kekurangannya, terasa betul di dalam caranya menyanyi. Apalagi sering kali ia memutus lagunya tiba-tiba dan berbicara, memberi semacam “dakwah” atau kadangkala melucu dan tertawa, tetapi kemudian langsung masuk lagi, meneruskan lagunya dari tengah, tanpa ada kesalahan menjemput nada.

Matang, barangkali istilah yang tepat. Tetapi kita tidak bisa melupakan, sambil menyanyi, Iwan juga memetik gitar. Selama tiga jam, Iwan membuat seluruh penonton terpaku di tempatnya. Staminanya memang luar biasa. Tak heran kalau dalam usia jalan 59 tahun, ia masih bisa naik sepeda ke Bali bersama anak buahnya belum lama ini.

Bukan hanya menyanyi, Iwan menyelipkan berbagai pesan moral kepada ratusan penonton yang tak sadar menjadi murid-murid spiritualnya untuk beberapa saat. Tetapi tanpa ada suasana menggurui, tanpa menjadi guru dan tak menyebabkan pendengarnya merasa seperti seorang murid.

Iwan dengan ramah mengingatkan bahwa manusia tak ada yang bersih dari dosa. Sehingga ketika memberikan kesaksian dengan melakukan protes misalnya, tak seharusnya menempuh jalan penghujatan apalagi kebrutalan, karena di balik kehadiran setiap orang, di samping sisi gelapnya, masih ada saja sudut terang yang bisa dijadikan harapan. Di dalam hutan rimba di puncak gunung, ketika kegelapan dan dingin mencekam, seberkas kerlip bintang adalah harapan. Iwan mengajak kita mencintai dan senantiasa melihat masih ada harapan, bila saja hati dibiarkan melihat. “Bukan mati yang bagi setiap orang pasti datang yang harus dicemaskan, tetapi adalah kalau hidup dan kehadiran kita sia-sia.”

Tak ada slogan, tak ada kesepakatan dan bukan juga lagu percintaan. Penampilan Iwan menjadi upaya moral di tengah keterpurukan pendidikan dan polusi kemarahan di sekitar kita. Iwan sudah menjadikan dirinya bagian dari pendidikan budi pekerti yang belakangan ini lenyap dari target kita dalam menyiapkan generasi pengganti. Pendidikan tak cukup hanya mencetak manusia Indonesia cerdas dan kompetitif, tetapi juga terjamin bijak. Lewat lagu, Iwan sudah melakukan itu.

Jakarta, 2 Mei 2006

*) Budayawan