Melihat perilaku elite politik belakangan ini, tampaknya penyanyi dan pencipta lagu Iwan Abdulrachman (62) menjadi gundah. Oleh sebab itu saat tampil solo membawakan lagu-lagu balada perjuangan pada acara peresmian monumen Trikora dan Dwikora di pintu utama markas besar TNI di Cilangkap, Jakarta Timur, pekan lalu, Abah, panggilannya, menyampaikan unek-uneknya.

Abah menyampaikan kegalauan itu sebelum maupun seusai membawakan tiga lagu yang bernapaskan cinta tanah air, nasionalisme, dan perjuangan.
Dengan petikan gitarnya, Abah “menyihir” tamu undangan yang hadir, di antaranya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden Yusuf Kalla, dan para perwira tinggi lainnya.

“Sekarang ini banyak orang yang tidak memiliki rasa malu dan kehormatan. Untuk kepentingan temannya,  kelompoknya, bahkan dirinya sendiri, kehormatannya ditinggalkan,” ungkap sesepuh pencinta alam asal Bandung ini.

Dia lalu bercerita tentang makna kehormatan. “Suatu saat, saya bersama teman datang ke keluarga yang anaknya baru gugur di medan pertempuran. Saya sampaikan duka cita atas pengorbanan putra mereka. Namun, apa jawaban keluarga itu? Mereka bilang ITU BUKAN PENGORBANAN, TETAPI SEBUAH KEHORMATAN BAGI KELUARGA,” ungkap Abah. (HAR)
Kompas/ Agus Hermawan

Nama dan Peristiwa
KEHORMATAN
Senin, 2 Maret 2009

——————————————————————————————–

Tepuk tangan bergema sesaat setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan sambutannya dalam acara peresmian Monumen Dwi Komando Rakyat dan Tri Komando Rakyat di pelataran pintu utama Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (26/2) siang.

Dalam sambutannya, Presiden mengatakan, Indonesia pada masa datang harus melakukan dua hal.

”Pertama, menjalankan diplomasi yang tepat dan menggunakan soft power. Perang merupakan jalan terakhir. Yang kedua, kita juga harus membangun dan memelihara kekuatan yang tangguh jika ada ancaman. If we want peace, prepare for war. Kalau ingin damai, kita pun harus bersiap untuk perang manakala ada kekuatan lain yang mengancam kedaulatan dan keutuhan negara kita,” ujar Presiden.

Acara itu dihadiri oleh Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla, Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso, dan sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu. Tampak ratusan legiun veteran yang mengenakan batik coklat dan topi berwarna oranye serta prajurit TNI dari korps Angkatan Laut, Angkatan Darat, dan Angkatan Udara.


Simbol perlawanan rakyat

Monumen Dwikora merupakan simbol perlawanan prajurit Indonesia yang waktu itu memprotes pembentukan Federasi Malaysia untuk mempersatukan tanah bekas jajahan Inggris di seluruh Asia Tenggara. Perang melawan pasukan Inggris, Australia, dan Selandia Baru itu langsung dipimpin oleh Presiden Soekarno.

Pemerintah Indonesia menentang rencana itu karena bertentangan dengan politik Indonesia yang antikolonialisme dan imperialiasme. Secara prosedur rencana pembentukan itu dianggap Bung Karno akan membahayakan revolusi Indonesia.

Oleh karena itu, pada 17 September 1963 Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia. Selanjutnya, pada 3 Mei 1964 Bung Karno memimpin apel sukarelawan dan mencanangkan Dwikora yang isinya ”Perhebat Rakyat Malaya, Singapura, Sabah, Serawak, Brunei untuk Membubarkan Negara Bonek Malaysia”.

Adapun Monumen Trikora adalah lambang perjuangan prajurit Indonesia merebut Irian Barat dari Belanda. Dalam perebutan ini, gugur pahlawan Yos Sudarso, yang kapalnya tenggelam ditembak musuh dalam pertempuran Aru.
Presiden Soekarno mencanangkan Trikora, 19 Desember 1961. Isi Trikora adalah ”Gagalkan Pembentukan Negara Papua Buatan Belanda Kolonial, Kibarkan Merah Putih di Tanah Air Indonesia, dan Bersiaplah untuk Mobilisasi Umum guna Mempertahankan Kemerdekaan dan Kesatuan Tanah Air dan Bangsa”.

Acara peresmian monumen ini juga ditandai alunan lagu perjuangan oleh penciptanya sendiri, Iwan Abdulrahman, dari Bandung. (SUHARTONO)

Nasionalisme
Presiden: kalau Ingin Damai, Siapkanlah Perang
Sabtu, 28 Februari 2009
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/28/00161375/presiden.kalau.ingin.damai.siapkanlah.perang