Belajar dari Pengalaman Nyata (Pikiran Rakyat, 1/9/2016)
by T. Bachtiar
Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

PETUALANGAN dan musik, ibarat dua sisi mata uang dalam diri Iwan Ridwan Armansyah Natadiria sejak usia yang masih belia. Ayahnya, Abdulrachman Natadiria, sering mengajak Iwan kecil dan saudaranya untuk menembus hutan di seputar Bandung,  mendaki Gunung Burangrang dan Gunung Tangkubanparahu untuk mengambil beragam contoh daun untuk dibuat herbarium.
Di rumah, Iwan dikelilingi orangtua yang gemar bermusik. Ayahnya, Abdulrachman Natadiria adalah pemain terompet, dan ibunya  R Oyoh Partakusumah gemar bersenandung.

Kalau dikelompokkan, penjelajahan dan bermusiknya itu dapat dibagi menjadi empat periode kehidupan. Pertama merupakan periode meletakkan dasar sebagai periode menanam, dengan berkegiatan di alam terbuka dengan ayahnya, berkesenian di rumah bersama orangtuanya, menjadi pandu bersama pembinanya. Kedua merupakan periode tempaan fisik dan mental oleh Wanadri, RPKAD, pencasilat Bandarkarima, dan periode ini menjadi periode emas dalam menggubah lirik lagu. Ketiga adalah periode penerapan ilmu pengetahuan, keterampilan yang telah diperoleh ke dalam kehidupan nyata yang lebih luas. Keempat, merupakan periode ketika apa yang Abah Iwan lakukan, kerjaan, dan pikirkan, telah menginspirasi banyak orang sehingga mendapatkan apresiasi positif.

Pada ulang tahunnya yang ke-10 tahun1957, murid SD BPPK ini dihadiahi gitar kecil oleh Nenek Satiah Natadiria. Gitar dan doa kedua orangtua dan neneknya itu turut membentuk spirit bermusiknya. Iwan benar-benar menjadi anak band. Di SMPN 2 Bandung mulai tahun 1959, ia sudah piawai memainkan gitar, lalu bergabung dengan band sekolahnya, kemudian menjadi anggota band Aneka Buyung bersama Jaka Bimbo.

Di SMAN 2 Bandung petualangan dan bermusiknya berwujud. Ia menjadi anggota band Aneka Nada bersama Guntur Soekarnoputra. Dalam petualangan, Iwan mengikuti pendidikan dasar Wanadri angkatan pertama (angkatan Singawalang). Untuk membekali diri dalam petualangan mengarungi lautan kehidupan, ia belajar pencak silat “Bandarkarima”.

Ketika menjadi mahasiswa mulai tahun 1966, Iwan menjadi pelatih di Wanadri, kemudian pada 1970-1974, terpilih menjadi ketua Wanadri selama dua periode.

Karena seringnya mendaki gunung sendirian, suasana malam yang dingin mencekam,  dengan langit yang ditaburi cahaya bintang-gemintang, suasana batin itu terus mengendap menjadi rasa yang membawanya pada pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang kehidupan, menjadi permenungan, dan menjadi tindakan dalam kehidupan. Lirik-lagu yang tercipta saat masih SMA adalah “Balada Seorang Kelana” dan “Api Unggun”.

Selepas SMA, Iwan melanjutkan kuliah di Fakultas Pertanian Unpad (1965). Kegiatan kemahasiswaannya terus bertambah, seperti menjadi anggota Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB).

Saat menginjak usia 20, Iwan mengikuti pendidikan Para di Pusdik RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat, sekarang Kopassus) di Batujajar, lalu pendidikan terjun bebas di Semplak, Bogor. Pada tahun itu pula ia mendapatkan penugasan untuk terjun payung di Kampus UGM. Pada suasana kejiwaan itulah, Iwan menggubah lirik-lagu “Melati dari Jayagiri”, “Melati Putih”, dan “Anggrek Merah”.

Penghayatan alam semakin dalam, pada 1968 ada empat lirik-lagu yang digubahnya, yaitu “Bulan Merah”, “Flamboyan”, “Akar”, dan “Angin November”. Pada tahun 1970 ia masuk menjadi anggota Daya Mahasiswa Sunda (Damas). Pada tahun ini, ia menggubah lirik-lagu “Mawar Terbiru”, dan “Hymne Wanadri”. Tahun 1971 menggubah lirik-lagu “Do’a”, “Himne Unpad”, “Musim Bunga”, “Nada yang Terbening”, “Tajam Tak Bertepi”, dan “Virgin in Bali”. Kesibukannya semakin bertambah dengan dibentuknya Grup Pencinta Lagu (GPL) Unpad.

Pada 1975 Iwan Abdulrachman lulus menjadi sarjana pertanian. Pada tahun ini pula Iwan membuktikan bahwa juga berani naik pelaminan, menikahi gadis pujaannya, Djanuarsih Sariawati.
Dari tahun 1976 sampai 1982, mengabdi di almamaternya, menjadi asisten dosen di Fakultas Pertanian Unpad. Tahun 1976 merupakan tahun produktif dalam  menggubah lirik-lagu “Anak Tarzan”, “Harap Kau Tahu”, “Jangan Bunuh Aku”, “Himne Universitas Mulawarman”, “”Pengembara”, “Pohon Randu”, “Seribu Mil Lebih Sedepa”, “Tapak-tapak”, dan “Tentara”.

Pada tahun 1976 menjadi anggota Parachutist Club Indonesia (PCI) dan terpilih menjadi pemuda berprestasi versi HU Kompas.

Walau sudah menjadi asisten dosen, Iwan dapat merasakan bagaimana situasi politik pada tahun 1978. Kampus tidak kondusif untuk proses pendidikan dan pembelajaran. Saat itulah Iwan menggubah lirik-lagu “Mentari”.

Abah Iwan terus menggubah lirik-lagu, walau tidak seproduktif empat tahun terakhir, misalnya menggubah lirik-lagu “Balada Seorang Prajurit” (1980), “Tragedi” (1981), Jiwa yang Tenang (1984), dan pada tahun 1985 menggubah lirik-lagu “Lagu Pujian” dan lirik “Burung Camar”.  Lirik “Burung Camar” inilah yang mendapat penghargaan Kawakami Prize dalam World Popular Song Festival di Tokyo, Jepang.

Pada tahun 1985, mengikuti sekolah Mud Engineer untuk pengeboran lepas pantai. Inspirasi lagu “Burung Camar” didapat saat bekerja di lepas pantai saat menjadi “insinyur lumpur”.

Pada tahun 1986 mengikuti pendidikan latihan Basic Counter Terrorism di Many Hawk Special Operation Center di Georgia, USA. Dilanjutkan mengikuti pendidikan latihan Long-Range Patrol School, Alabama, USA. Tahun 1992 mengikuti studi tinjau pada recruitment program Royal Marine Commando Course di Inggris. Tahun 1996 mengikuti Close Combat Quarter Course, Nevada, USA.

Tahun 1996 menjadi anggota tim pembebasan di Mapenduma, Papua dan pada tahun yang sama diangkat menjadi warga kehormatan Kopassus.

Pada tahun 1986 menggubah lirik-lagu “Lembayung Senja.”

Tahun 1987, saat usia 40 tahun, Abah Iwan menerima penghargaan Karya Setya dari Unpad. Berikutnya menerima penghargaan sebagai penggubah lirik-lagu “Himne Siliwangi” (2003), menerima penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup (2006).

Pada usia 60 tahun, Abah Iwan menerima penghargaan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (2007). Di tahun yang sama terbit buku Senandung Merdu Rimba Raya. Pada 2008 menerima gelar the Greenest Musician dari Majalah Rolling Stone Indonesia. Menerima penghargaan Satya Karya Bakti dari Unpad (2008). Anugerah budaya dari pemerintah kota Bandung (2008), dan menjadi anggota dewan penyantun Unpad.
Tahun 2009 terpilih menjadi 5 besar nominee People of the Year versi harian Seputar Indonesia. Pada tahun yang sama menerima penghargaan dari majalah Rolling Stone Indonesia untuk lagu “Melati dari Jayagiri”, “Flamboyan”, dan “Burung Camar”, sebagai tiga dari 150 lagu yang melegenda.

Abah Iwan adalah contoh hidup, bagaimana belajar dengan melakoni itu mewujud. Selamat ulang tahun yang ke-69, Abah Iwan, InsyaAllah jalan yang sedang Abah tempuh itu bermakna.