Cerita Tentang Akar – Kenangan kepada wartawan dan pendiri Tempo, Yusril Djalinus (1944-2009)

By Iwan Abdulrachman
Sahabat

Yusril Djalinus, bagi saya, adalah akar. Dia tidak dikenali orang dengan gegap gempita. Tapi, tanpa dia, sebatang pohon tidak bisa tumbuh. Saya memahami hal ini selama bergaul dengannya dan juga setelah mendengar cerita teman-teman di Tempo.

Saya mengenal Yusril pada Desember 1964, di Wanadri, kelompok pencinta alam di Bandung. Yusril angkatan kedua di sana, pelatih saya. Saya angkatan ketiga. Saya bergabung dengan Wanadri tujuh bulan setelah Yusril. Kami berteman akrab dan silaturahmi tak terputus hingga dia berpulang….

Batujajar, 1967

Suatu kali, 25 anggota Wanadri – termasuk saya dan Yusril – mengikuti latihan terjun payung bersama TNI Angkatan Udara dan Kopassus di Batujajar. Boleh dibilang, itu pertama kalinya orang sipil mengikuti olahraga terjun payung.

Kami dilatih layaknya tentara: memakai pakaian loreng dan helm tentara, membawa senjata, dan mengikuti apel. Latihannya pun tidak kalah keras. Setiap kali apel, kami selalu kena hukuman. Pelatih kami, Letnan Jawadi, yang bergelar Singa Batujajar, selalu menemukan kesalahan dan menghukum kami.

Kesalahan paling sering adalah senjata tak bersih. Walaupun kami selalu mengecek kebersihan senjata setiap kali menjelang apel, entah kenapa selalu ada yang terlewat. Letnan Jawadi selalu bisa menemukan setitik debu di sela senjata. Ketelitian yang kami dapat dari pelatihan itulah yang mungkin dibawa Yusril dalam kariernya di Tempo.

Saat hendak terjun pertama kali, kami semua pucat pasi di pintu pesawat. Saya ingat Yusril dengan wajah pias bilang begini, “Jangan takut, Wan. Kan, enggak hidup 1.000 tahun lagi. Ayo loncat.” Dan kami pun melompat….

Merasa takut tetapi terus maju itulah keberanian sejati.

Bandung, 1974

Kala itu Yusril masih reporter di bidang musik, bersama Putu Wijaya (saat itu kepala desk musik), Yusril mengendarai skuter Lambretta dari Jakarta ke Bnadung. Yusril hendak mewawancarai saya, kawan lamanya dari Wanadri, yang saat itu aktif di Grup Pecinta Lagu Universitas Padjadjaran.

Mereka sampai di Bandung tengah malam. Entah tidak dibekali uang cukup atau memang ingin, mereka “menginap” di emperan Gedung Merdeka. Ketika matahari mulai naik, keduanya dibangunkan oleh pengemis. “Ini lapak saya,” kata si pengemis. Yusril dan Putu Wijaya diusir pergi.

Siangnya, mereka menemui saya di kampus Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Lokasinya di dekat air terjun Dago. Yusril penasaran ingin menyaksikan Grup Pecinta Lagu berlatih.

Yusril, kawan lama saya itu, kecele. Dia kira kami berlatih di gedung musik. Padahal kami berlatih di pinggir air terjun. Kalau suara kami sudah bisa mengalahkan air terjun, itu baru hebat. Maka jadilah kami menuju air terjun. Medannya lumayan berat. Yusril mengikuti kami menggunakan sepatu kulit, sepatunya orang kota. Sepatu setrum, istilah kami.

Langsung saya mengganggu Yusril. “Wanadri mana ada yang pakai sepatu setrum ke gunung. Gaya euy, urang kota,” kata saya. Yang disindir cuma bisa cengar-cengir sambil mengikat tali sepatunya.

Jakarta, 2004

Tsunami meluluhlantakkan Aceh, akhir 2004. Saya bersama sejumlah anggota Wanadri berkumpul di kantor Komisi Pemberantasan Korupsi di Kuningan, Jakarta. Saya ditugasi berangkat ke Aceh, menyalurkan bantuan.

Di sana saya bertemu dengan beberapa alumnus Wanadri, antara lain Erry Riyana Hardjapamekas, Freddy Sutrisno, Yusril Djalinus, dan Kuntoro Mangunsubroto.

Erry membekali saya telepon satelit karena tak ada akses komunikasi di Aceh. “Ini kau gunakan untuk menelepon dari sana,” kata Erry. Belakangan, selama di Aceh, telepon satelit ini tak pernah saya gunakan. Tak tahu caranya.

Lain Erry, lain Yusril. Dia membekali saya perangkat memasak di alam, komplet dengan panci dan bahan bakar paraffin – orang Sunda menyebutnya kastrol. “Bahan makanan sudah banyak di Aceh. Kalau tak ada bahan bakar juga tak bisa masak. Pakai ini saja,” kata Yusril. Benar saja, Aceh saat itu memang sangat membutuhkan bahan bakar. Titipan Yusril jadi favorit di sana.

Lalu Yusril bertanya, “Maneh boga duit ga euy (kamu punya uang enggak?)” Dia memperlakukan saya seperti anak kecil. Masak, saya ditanya seperti itu? Saya menjawab sekadarnya, “Ada, Kang.”

Tapi Yusril bisa membaca apa yang tersirat. “Gue enggak percaya,” katanya sembari menjejalkan uang lebih dari Rp 1 juta di tangan saya. “Ini untuk makan Iwan, ya. Jangan kauberikan kepada korban tsunami,” kata Yusril. Tanpa saya katakana, dia tahu keadaan saya.

Sebelum saya berangkat, Yusril mendekati saya lagi. Dia bilang, “Urang sirik euy, maneh masih keneh bisa kieu (saya iri sama kamu, masih bisa seperti ini).” Saya terharu sekali. Seorang Yusril Djalinus ternyata iri kepada saya yang berkesempatan ke lapangan, membantu sesama. Jiwanya memang masih di lapangan, sama seperti dulu.

Saya hanya menjawab, “Jangan gitu, Kang. Saya mewakili spirit Akang di sana.”

Jakarta, 2 Februari 2009

Ahad sore itu saya melihat Yusril terbaring di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Jakarta. Dia dipasangi alat bantu napas dan peralatan lain. Di mata saya, dia terlihat sedang tidur, bukan sedang sakit.

Virly, anak kedua beliau, duduk di samping tempat tidur. Melihat saya datang, Virly mencopot earphone yang memperdengarkan bacaan surat Yasin. “Ayah, ini Om Iwan, yang sering Ayah ceritakan, datang menengok, jauh-jauh dari Bandung,” Virly berbisik di telinga Yusril.

Saya lalu menggenggam tangannya dan mengucapkan salam kepada Yusril: “Wanadri…!” Begitulah salam kami setiap kali bertemu.

Saat itu saya melihat fluktuasi denyut jantung di layar monitor di samping tempat tidur Yusril berhenti sejenak. Lalu denyut itu bergerak stabil lagi. Saya yakin dia bereaksi ketika saya sebut nama Wanadri. Saya bisikkan kepadanya, “Saya membawa salam dari kawan-kawan, Ukok, Tatang, dan lain-lain. Kami semua mendoakan yang terbaik untuk Akang.”

Lalu saya raih tangannya yang terkulai. Kami bersalaman. Saya cium tangannya. Saya cium pula kakinya. Entah kenapa saya tahu Yusril akan berpulang. Benar, keesokan paginya, Yusril kembali kepada sang Khalik.

(photo courtesy of www.tempointeraktif.com)